Tanah Terus Amblas Warga Pondok Balik Bertahan Tanpa Kepastian Pemulihan

Oleh: Nurul Ali 

INDEPENDEN-  Setiap kali langit menghitam dan hujan turun di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, kecemasan seketika merayap ke dalam diri Masri Kamila (34). Tempat tinggalnya kini hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir sinkhole, lubang raksasa akibat pergerakan tanah, terus menganga dan perlahan merayap mengikuti aliran parit.

Trauma tak berakhir begitu banjir surut, justru beralih rupa menjadi intaian longsor. Ancaman longsor membayangi hari-hari Masri dan warga di sekitar lubang raksasa Ketol.

Malam hari menjadi waktu paling melelahkan. Tatkala bongkahan tanah besar runtuh, suaranya memecah sunyi dengan begitu nyaring. “Getarannya terasa sampai ke rumah,” ungkap Masri lirih.

Cerita serupa datang dari Marliah (56), di balik senyum tipis yang getir, ia menatap sisa kebunnya dengan dada sesak. Di tengah ketidakpastian, roda kehidupan harus tetap berputar.

Marliah di Depan Warung Dagangannya, Sumber Foto: Nurul Ali
Marliah di Depan Warung Dagangannya. (Foto: Nurul Ali/Anterokini) 

Sejak suaminya tak lagi mampu bekerja akibat kecelakaan, Marliah menjadi tulang punggung keluarga. Beban itu kian menghimpit ketika hampir satu hektar kebunnya luruh ditelan sinkhole.

Di lahan tersisa yang luasnya tak sampai satu rantai (satuan ukuran panjang tradisional yang setara dengan sekitar 20 meter). Marliah tetap menanam cabai dan sejumlah tanaman lain, berharap masih ada hasil yang bisa dipanen dari tanah yang kian rapuh.

Namun, ikhtiar itu tak mudah. Di saat cicilan sepeda motor dan biaya sekolah anak terus menagih kepastian, Jamaliah hanya mengandalkan sebuah warung kecil, akan tetapi sejak jalan utama penghubung desa terputus akibat bencana, pembeli semakin sepi. “Mendapatkan Rp50 ribu sehari pun kini terasa sulit,” ujarnya getir.

Luka bencana ekologis sebelumnya masih dirasakan warga, kini, tanah di bawah kaki warga Ketol kembali mengancam rasa aman. Mereka bukan saja berjuang menyelamatkan nyawa dari ancaman longsor, melainkan juga meraba-raba masa depan di atas tanah yang kian kehilangan pijakan.

Ruang Hidup yang Kian Terancam

Longsoran tanah di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, terus meluas dan mengancam lahan pertanian serta akses jalan penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah. Kampung Pondok Balik dan Kampung Bah menjadi dua desa yang paling terdampak oleh pergerakan tanah tersebut.

Pada Maret 2026, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh melaporkan sekitar 175 meter badan jalan terputus akibat longsoran tersebut.

Terputusnya jalan berarti perjalanan sehari-hari menjadi lebih jauh dan berisiko. Untuk menuju sekolah ataupun mengangkut hasil panen, warga harus melewati jalan berlubang dan licin. Bahkan dalam keadaan darurat, membawa orang sakit ke rumah sakit pun menjadi tantangan tersendiri.

“Di kondisi tertentu (hujan lebat, sungai meluap) anak-anak bahkan tidak bisa pergi ke sekolah,” kata Kepala Dusun Pondok Balik, Siswa Adi Syahputra.

Di tengah keadaan tersebut, warga masih menunggu kepastian penanganan, Sekretaris Desa Pondok Balik, Mohammad Lucky, mengatakan pemerintah desa belum mendapat penjelasan pasti mengenai rencana pembangunan jalan.

“Kami dari pemerintahan desa paling bisa menenangkan masyarakat, tapi kami juga tidak berhenti meminta kepastian (ke pemerintah),” tutur Lucky.

Plt. Sekretaris Daerah Aceh Tengah Alam Syuhada mengatakan jalan sementara telah dialihkan ke jalur lain di tepi sungai, agar warga tetap bisa melintas, meski harus menempuh jarak lebih jauh.

“Sementara sudah bisa akses dulu, dan secara bertahap saya yakin ini akan ada penanganan dari pemerintah,” kata Alam Syuhada .

Meskipun pemerintah telah meninjau lokasi, Lucky dan Siswa menilai semestinya berbuah tindakan, bukan angin lalu, sementara warga Pondok Balik harus menanggung cemas setiap berkendaraan saban hari.

“Kami ingin mereka (Pemerintah) merasakan sendiri bagaimana sulitnya perjalanan di sini,” tambah Siswa.

Kebun Terdampak, Ekonomi Tersendat

Pondok Balik adalah salah satu desa di barisan terdepan lumbung hortikultura Kecamatan Ketol. Sepanjang 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Tengah mencatat luas panen cabai di kecamatan ini menyentuh angka 3.886 hektar.

Akumulasi dari cabai keriting, rawit, hingga cabai besar dari kawasan ini menghasilkan lebih dari 85 ribu ton, menjadikannya salah satu urat nadi pertanian di dataran tinggi Aceh.

Kepala Dusun Pondok Balik, Siswa Adi Syahputra, mengatakan Cabai Merah Keriting dan Cabai Rawit dari Ketol dikirim ke berbagai daerah. “Termasuk Jawa dan Bali,” sebut Siswa.

Di sepanjang jalur bergantung banyak orang: petani, buruh tani, pengangkut, sampai pedagang. Kini rantai tersebut terancam dari dua sisi, tanah yang bergerak mendekati kebun, dan jalan rusak yang menyulitkan hasil panen keluar.

Siti (34) merasakan keduanya, kebun Cabai miliknya hanya berjarak sekitar 25 meter dari bibir longsoran dan terancam luruh sewaktu-waktu. Kebun itu adalah sumber penghasilan utama keluarganya. Ia dan suaminya memilih tetap menanam, meski merasa terancam.

“Takut, karena kan kami nanam di situ, sedangkan kebun itu tuh kebun yang ada hasil satu-satunya,” kata Siti.

Bagi Siti, mempertahankan kebun berarti mempertahankan sumber hidup, namun ada kecemasan yang lebih besar dan terus mengusik pikirannya.

“Kami sebenarnya sudah ikhlas pun, jika harus terkubur (kebun). Kami sayang sama tetangga kami, karena rumahnya dekat di situ,” kata Siti dengan suara tertahan.

Tanaman Cabai Milik Warga Ketol Mulai Mendekati Masa Panen. Sumber Foto: Nurul Ali
Tanaman Cabai Milik Warga Ketol Mulai Mendekati Masa Panen. (Foto: Nurul Ali/Anterokini)

Saat ini, Cabai di kebun-kebun sekitar mulai memasuki masa panen, namun jalan utama untuk mengangkut hasil tani masih terputus. Siswa mengatakan mobil ekspedisi melewati jalur alternatif di pinggir sungai dengan jarak tempuh lebih jauh dari jalan semula. Kendaraan yang dulu mengangkut hingga delapan ton kini hanya mampu membawa sekitar empat ton per mobil.

Hasil panen pun lebih lama tertahan di kawasan produksi, petani kehilangan kesempatan menjual saat harga masih bagus, sedangkan cabai yang terlalu lama tertahan di jalan akhirnya membusuk dan jatuh harga. Pilihan petani pun menyempit, terpaksa menjual di sekitar lokasi saja dengan harga murah.

Daya jual yang lemah bukan saja mempengaruhi ekonomi petani tetapi juga turut dirasakan oleh buruh tani. Jika sebelum bencana, upah harian berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, sehingga dalam sebulan bisa membawa pulang sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta, saat ini pendapatan pun ikut merosot.

“Kalau sekarang sekitar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu,” tambah Siti.

Di tengah tersendatnya perputaran ekonomi warga akibat jalan yang terputus, Siswa menilai penanganan dari pihak berwenang masih lambat. “Potensi produksi ini (pertanian) semestinya menjadi alasan untuk memberi perhatian lebih terhadap kondisi kawasan dan akses distribusi,” sebut Siswa.

Selain perbaikan jalan, syarakat Pondok Balik juga mendesak agar aliran air buangan segera dialihkan. Mereka khawatir air tersebut justru memperbesar longsoran dan mengancam keselamatan kebun serta rumah-rumah di sekitarnya.

Membaca Jejak Geologi Ketol

Pada 15 Januari 2026, Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut pergerakan tanah di kawasan lubang raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah telah terjadi sejak 2004 dan terus berkembang secara bertahap.

Setelah bencana ekologis pada 2025, pemantauan Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui citra satelit Sentinel-2 menunjukkan luas longsoran mencapai 27.724 meter persegi pada November–Desember 2025.

Luasnya terus bertambah menjadi 36.196 meter persegi pada Februari 2026, kemudian mencapai 38.901 meter persegi pada April 2026. Kedalaman longsoran diperkirakan mencapai 85 meter.

Pada longsor biasa, material runtuh umumnya masih dapat ditemukan di bagian bawah lereng. Sementara di Ketol, material dalam jumlah besar menghilang menyisakan pertanyaan ke mana perginya tanah yang amblas dan apa yang membuat lubang terus menganga?

Akademisi dan Peneliti Geologi dari Universitas Syiah Kuala Dr. Bambang Setiawan menelaah sejumlah kemungkinan, mulai dari longsoran biasa.Kemudian piping erosion, yaitu proses ketika aliran air bawah tanah mengikis dan membawa butiran tanah sedikit demi sedikit.

Seiring waktu, pengikisan ini dapat membentuk rongga yang membuat tanah di atasnya kehilangan penyangga dan akhirnya amblas.

Kondisi ini dinilai belum menjelaskan bagaimana proses pengikisan bawah tanah dapat terjadi, karena material yang runtuh tidak ditemukan menumpuk di sekitar lokasi, sementara perbedaan muka air sungai di kedua sisi kawasan sama.

“Selisihnya cuma lima meter ini, engga akan mampu memicu piping erosion, agak diragukan juga ini, dan itu banyak diadopsi oleh banyak peneliti,” kata Dr. Bambang.

Dr. Bambang menambahkan, dugaan lain adalah keberadaan rongga di bawah atau di sekitar lokasi lubang, rongga itu diperkirakan terbentuk akibat patahan besar, peta geologi menunjukkan adanya jalur patahan di sekitar Ketol.

Struktur ini diduga turut berperan dalam membuat material tanah yang runtuh menghilang dari permukaan, masuk ke rongga bawah tanah, lalu terbawa aliran air,

“Hipotesis saya, kemungkinan besar yang di sana itu ada rongga,” lanjut Dr. Bambang.

Meski begitu, dia menegaskan penyebab terbentuknya lubang raksasa masih memerlukan kajian dan pemeriksaan teknis lebih lanjut.

Antara Swadaya Warga dan Tanggung Jawab Pemerintah

Masyarakat Pondok Balik dan desa sekitar melakukan upaya mandiri untuk menahan laju pengikisan (erosi) tanah agar tidak terus menjalar mendekati kebun dan rumah warga.

Pada 12 Oktober lalu, mereka bergotong royong membuat talang berukuran besar untuk mengalihkan aliran air agar tidak langsung jatuh ke tanah di kawasan yang rawan amblas.

Siswa mengatakan Menteri Perumahan sebelumnya telah mengunjungi lokasi dan mengupayakan pengalihan aliran air. Namun, pipa yang dipasang dinilai berukuran terlalu kecil, sehingga saat hujan mudah tersumbat oleh sampah yang ikut terbawa air. Akibatnya, air kembali meluap dan tumpah ke tempat semula (menggerus celah tanah yang tengah retak).

“Harapan kami, pipa itu besar,” kata Siswa, agar dapat mengalirkan air dengan lebih baik.

Pembangunan talang dilakukan secara swadaya melalui gotong royong dan sumbangan masyarakat. Mereka mengumpulkan dana dari orang-orang yang melintas untuk membeli bahan yang dibutuhkan.

“Saya dan beberapa ibu-ibu yang lain berdiri di jalan dan mengumpulkan sumbangan dari warga yang lewat, itu untuk membeli 13 drum besar, Bu,” ujar Bu Ipah, sapaan akrab Marliah, sambil melayani pembeli di warung miliknya.

Warga Pondok Balik Bergotong Royong Membangun Talang Secara Swadaya. Sumber Foto: Istimewa
Warga Pondok Balik Bergotong Royong Membangun Talang Secara Swadaya. (Sumber Foto: Istimewa)

Lalu pada Jumat, 16 Oktober 2026, warga dari enam desa di Kecamatan Ketol bergotong royong membuka jalan alternatif lain yang berjarak tempuh lebih dekat. Kebun milik warga yang telah diizinkan menjadi jalur harapan baru. Warga berharap jalan baru itu nantinya dapat kembali memudahkan mobilitas dan aktivitas warga.

Di tengah upaya mandiri, rehabilitasi dan rekonstruksi dari pemerintah masih dinantikan. Mahlizar dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Geutanyoe mengatakan, mereka telah menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR).

Termasuk pemulihan akses, normalisasi sungai, serta penyediaan pusat data dan komunikasi yang valid. Namun, informasi mengenai prioritas pekerjaan dan perkembangannya belum mereka peroleh.

“Yang membuat kesal sekarang, mereka menggantungkan, nggak menjawab sama sekali, sehingga kita dalam kebingungan,” kata Mahlizar.

“Tapi kalau mereka menjawab iya dan tidak, kita tahu bersikap,” lanjutnya.

Sementara Plt Sekretaris Daerah Aceh Tengah Alam Syuhada mengatakan sejumlah pejabat, termasuk dari Kementerian Pekerjaan Umum dan satuan tugas, telah meninjau lokasi longsoran tanah di Ketol, namun kepastian mengenai rencana penanganan tersebut belum diperoleh.

“Saya yakin mereka sudah pasti memperhatikan itu (Rehabilitasi dan Rekonstruksi), hanya saja belum sampai informasi ke kita,” sebut Alam Syuhada.

Marliah, Masri Kamila, Siti dan masyarakat Ketol tidak dapat menghentikan longsoran tanah, yang dapat dilakukan hanya warga bantu warga dengan swadaya bersama mencari cara agar aktivitas tetap berjalan.

Pemulihan membutuhkan penanganan yang lebih pasti agar siapapun tidak hanya berupaya menyesuaikan diri dengan ancaman yang terus membayangi. 

*) Jurnalis telah berupaya menghubungi Kepala Pos Koordinasi Wilayah (Kaposkowil) Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera untuk Aceh Safrizal ZA melalui telpon dan pesan WA, namun hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan belum memberikan respon.

*) Tulisan ini direpublikasi dari Anterokini.com dengan judul yang sama. 

kali dilihat