Perjuangan Korban Banjir Aceh: Dari Sayur Liar ke 700 Batang Cabai

Oleh Mustafa Rani

INDEPENDEN-- Di tengah upaya memulihkan lahan pertanian pascabanjir, sebagian petani Aceh Tamiang masih berjuang mengumpulkan modal untuk kembali menanam. Ada yang bertahan dengan menjual sayur liar, ada pula yang mencoba memulai lagi lewat cabai.

Setiap hari, Kamisah mencari sayur liar untuk dijual. Dari hasilnya, perempuan berusia 60 tahun itu berusaha memenuhi kebutuhan hidup, sembari menyimpan keinginan untuk kembali menanam padi di sawah seluas 14 rante milik keluarga mertuanya di Aceh Tamiang.

.
Kamisah mengais rezeki dari sayuran liar (Foto: gentalamedia/Mustafa Rani)

Keinginan itu belum mudah diwujudkan. Benih dan pupuk harus dibeli, sementara modal yang selama ini ia putar dari hasil panen habis setelah banjir merusak tanaman padinya pada November 2025. Kamisah belum menerima bantuan pertanian yang bisa digunakannya untuk memulai kembali.

“Bantu bibit kalau bisa, alat alat juga boleh. Kasih pupuk, biarbisa nyawah lagi,” katanya.

Bagi Kamisah, bangkit setelah banjir bukan sekadar menunggu air surut. Ia harus menemukan cara untuk bertahan hidup hari ini sekaligus mengumpulkan modal agar bisa kembali mengolah sawah.

Sebelum banjir, ia mengandalkan hasil panen untuk membeli benih dan menanam kembali. Siklus itu memberinya kesempatan untuk terus bertani. Namun, ketika tanaman dan persediaan pertaniannya rusak, sumber modal tersebut ikut hilang.

“Kalau panen, beli lagi. Itu ajalah,” ujarnya ketika menjelaskan bagaimana ia selama ini membiayai penanaman padi.

Kini, ia mencari sayur liar untuk dijual. Penghasilannya sekitar Rp20.000 sehari, menurut keterangan yang disampaikan dalam wawancara. Jumlah itu menjadi tumpuan di tengah terbatasnya pilihan untuk memperoleh penghasilan dan belum adanya modal untuk kembali menanam.

.
Kamisah berdiri di depan rumahnya (Foto: gentalamedia/Mustafa Rani)

Rumah yang sebelumnya ditempatinya juga terdampak banjir dan tidak lagi dapat ditempati seperti semula. Kamisah kini tinggal di rumah anaknya. Lokasi rumah lamanya berada di atas tanah perusahaan, sedangkan sawah yang ingin kembali ia garap merupakan sawah keluarga mertuanya. Dua persoalan itu membuat pemulihan hidupnya tidak hanya berkaitan dengan kegiatan bertani, tetapi juga tempat tinggal dan akses terhadap lahan.

Kehilangan yang belum selesai

Bagi Kamisah, banjir November 2025 bukan hanya menghilangkan hasil pertanian. Ia juga mengalami masa-masa ketika keselamatan dan kebutuhan paling dasar menjadi persoalan.

Dalam wawancara, ia menceritakan bagaimana air terus naik hingga rumah-rumah tidak terlihat lagi. Bersama suaminya, ia bertahan di dalam kendaraan besar milik sebuah perusahaan ketika mereka tidak dapat pergi ke mana-mana.

“Empat hari nggak makan,” katanya, mengingat masa ketika mereka terjebak di tengah banjir.

Kamisah menuturkan bahwa mereka akhirnya mendapat makanan dari warga lain. Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana bantuan sesama warga menjadi penting ketika mereka berada dalam keadaan sulit.

Namun, setelah banjir berlalu, persoalan yang dihadapi Kamisah berubah. Ia harus kembali memikirkan penghasilan, biaya menanam, dan masa depan sawah yang ingin digarapnya.

Suaminya meninggal dunia pada April 2026 setelah sakit. Kini, Kamisah menghadapi upaya memulihkan penghidupan tanpa pendamping hidup yang selama ini bersamanya.

Ia ingin kembali menanam padi, tetapi tidak memiliki cukup modal untuk membeli benih dan pupuk. Harapannya bukan meminta seluruh kebutuhan hidup ditanggung orang lain, melainkan memperoleh dukungan agar bisa kembali bekerja dan menghasilkan panen.

Memulai kembali dari cabai

Kesulitan mengumpulkan modal juga dialami Lantono, 55 tahun, petani di Tanjung Geulumpang, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.

Banjir merusak sekitar 1.400 tanaman gambas yang menjadi bagian dari usaha taninya. Kerusakan itu membuatnya harus mencari cara untuk memulai kembali kegiatan pertanian dengan sumber daya yang terbatas.

Salah satu upaya yang disiapkannya adalah menanam sekitar 700 batang cabai. Pilihan komoditas dan jumlah tanaman tersebut menjadi bagian dari usahanya membangun kembali sumber penghasilan setelah tanaman sebelumnya terdampak banjir.

.
Lantono memetik cabai yang hampir di semua batang buahnya membusuk. (Foto: gentalamedia/Mustafa Rani)

Namun, memulai kembali pertanian bukan perkara menanam benih semata. Petani membutuhkan modal, pupuk, tenaga kerja, serta kepastian bahwa lahan dapat kembali diolah. Tanpa itu, upaya memulihkan penghasilan bisa berjalan lambat.

Perjuangan Lantono memperlihatkan bahwa pemulihan pascabanjir tidak berhenti ketika lahan mulai bisa dikerjakan. Petani juga harus melewati masa tanpa hasil panen, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Warga mencoba bergerak bersama

Di Kampung Pandan Sari, Kecamatan Manyak Payed, Datok Penghulu Zulham memperkirakan sekitar 80 persen warga bekerja sebagai petani, terutama mengusahakan padi dan jagung. Menurutnya, banjir berdampak terhadap kehidupan petani di kampung tersebut, meskipun jumlah pasti petani terdampak dan luas lahan yang mengalami kerusakan belum tersedia.

Setelah banjir, sebagian warga mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Zulham juga menceritakan pengalamannya bekerja dalam kegiatan pembersihan lumpur bersama WIKA. Bagi warga yang kehilangan hasil pertanian, pekerjaan sementara menjadi cara untuk bertahan ketika lahan belum bisa menghasilkan.

Kini, upaya menghidupkan kembali pertanian dilakukan dengan kemampuan yang ada. Sebagian petani menggunakan modal sendiri, sementara benih dan pupuk kadang diperoleh melalui kelompok tani. Akan tetapi, petani yang tidak tergabung dalam kelompok menghadapi kesulitan lebih besar untuk mengakses bantuan.

Zulham menyebut ada rencana penanaman cabai bersama sekitar 20 orang di lahan kurang lebih lima hektare. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya warga untuk kembali mengolah lahan yang belum produktif.

.
Warga Kampung Pandan Sari bersama-sama mempersiapkan lahan yang akan ditanami cabai. (Foto: gentalamedia/Mustafa Rani)

Gagasan itu muncul setelah ada perhatian dari pihak luar terhadap lahan yang terbengkalai dan kebutuhan warga untuk memulai kembali usaha tani. Namun, rencana tersebut tetap membutuhkan kejelasan mengenai modal, ketersediaan sarana produksi, pembagian kerja, dan pelaksanaannya.

Upaya bersama semacam ini penting karena pemulihan pertanian bukan hanya soal kemampuan satu keluarga. Kerja sama warga dapat membuka kesempatan untuk mengolah lahan dan berbagi tenaga. Pada saat yang sama, keberlanjutannya bergantung pada ketersediaan modal dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan petani.

Zulham juga menyebut kebutuhan alat pertanian, termasuk traktor dan mesin panen kombinasi atau combine harvester. Peralatan tersebut dibutuhkan untuk mendukung kegiatan pengolahan lahan dan panen, terutama ketika warga berusaha kembali menanam setelah banjir.

Data kerusakan masih berbeda

Sementara petani berupaya memulihkan penghidupan, pemerintah daerah menghadapi persoalan pendataan kerusakan lahan pertanian.

Irwan Hadi, S.P., Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara pendataan awal dan pendataan ulang kerusakan sawah akibat banjir.

.
Irwan Hadi, SP : Kadis Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang. (Foto: gentalamedia/Mustafa Rani)

Dalam pendataan awal, luas sawah yang dikategorikan rusak berat mencapai 4.200 hektare, rusak sedang 2.000 hektare, dan rusak ringan 1.961 hektare. Totalnya 8.161 hektare.

Sementara itu, pendataan ulang mencatat 477 hektare rusak berat, 1.917 hektare rusak sedang, dan 4.006 hektare rusak ringan. Totalnya 6.400 hektare.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya kejelasan mengenai metode pendataan, cakupan wilayah, dan kategori kerusakan yang digunakan. Data yang akurat diperlukan agar kebutuhan pemulihan dapat dipetakan dan bantuan diarahkan sesuai kondisi lahan.

Persoalan pendataan juga terjadi pada tanaman hortikultura, seperti sayuran, gambas, dan cabai. Dinas Pertanian belum memiliki angka pasti mengenai luas lahan hortikultura yang terdampak maupun jumlah kerugian produksinya. Kerusakan perangkat dan hilangnya sebagian data turut menyulitkan upaya memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dampak banjir terhadap pertanian.

Menurut dinas tersebut, rehabilitasi sawah dilakukan secara bertahap. Dalam wawancara, pihak dinas menyebut rehabilitasi 712 hektare sawah rusak sedang telah selesai, sementara pekerjaan pada sekitar 1.540 hektare lainnya sedang dibahas atau dikerjakan. Angka dan status masing-masing kegiatan masih perlu diperjelas agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaporan.

Bantuan pertanian, menurut keterangan dinas, disalurkan melalui kelompok tani. Petani yang belum tergabung dalam kelompok diarahkan berkoordinasi dengan kelompok tani atau penyuluh pertanian lapangan. Mekanisme ini membuat keberadaan kelompok tani dan akses terhadap penyuluh menjadi penting bagi petani yang membutuhkan dukungan untuk memulai kembali usaha mereka.

Namun, kebutuhan petani tidak selalu sama. Kamisah membutuhkan benih dan pupuk untuk menanam padi kembali. Petani lain membutuhkan modal, peralatan, atau lahan yang siap diolah. Karena itu, pendataan yang rinci dan komunikasi langsung dengan petani diperlukan agar program pemulihan menjawab persoalan yang mereka hadapi.

Memulihkan penghidupan, bukan sekadar lahan

Kisah Kamisah, Lantono, dan warga Kampung Pandan Sari memperlihatkan bahwa pemulihan pascabanjir berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada petani yang mencoba menanam kembali, ada yang menyiapkan usaha tani baru, dan ada pula yang masih mencari penghasilan harianì karena belum memiliki modal.

Bagi Kamisah, kesempatan untuk kembali menanam padi berarti lebih dari sekadar menghidupkan lahan. Itu adalah kesempatan untuk kembali memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang telah lama ia jalani.

Harapannya sederhana: benih dan pupuk agar sawah dapat kembali ditanami. Sementara itu, rencana warga menanam cabai bersama menunjukkan bahwa pemulihan juga dapat dimulai melalui kerja sama, selama ada dukungan yang memadai dan rencana yang bisa dijalankan.

Banjir telah surut, tetapi bagi petani yang kehilangan tanaman dan modal, pemulihan belum selesai. Mereka tidak hanya membutuhkan lahan yang dapat diolah, tetapi juga kesempatan untuk kembali menghasilkan panen dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Di antara sayur liar yang dijual Kamisah dan rencana penanaman cabai warga, perjuangan itu masih berlangsung: membangun kembali penghidupan, sedikit demi sedikit, dengan kemampuan yang mereka miliki dan bantuan yang mereka harapkan.

Lantono terus menyiapkan lahan untuk cabai, sementara Zulham dan warga Pandan Sari menunggu kejelasan modal untuk rencana tanam bersama. Di rumah anaknya, Kamisah masih menyimpan keinginan itu.

.
Kamisah bersama anak di depan rumah. (Foto : gentalamedia/Mustafa Rani)

“Senang kali kalau ada bantuan, bisa nanam lagi,” kata Kamisah, matanya masih menyimpan sedih. “Kalau nanti ada hasil, bisa buat rumah lagi. Apa ada yang peduli?”

*) Tulisan ini direpublikasi dari Gentala Media dengan judul yang sama.  Link bisa diakses https://gentalamedia.com/2026/10/25/dari-sayur-liar-ke-700-batang-cabai-perjuangan-petani-aceh-tamiang-bangkit-setelah-banjir/

kali dilihat