Suara Air yang Dirindukan Petani Beutong Ateuh

Oleh: Mardili 

INDEPENDEN-  Gemercik air terdengar mengalir di dalam pipa biru sepanjang 42 meter yang membentang di Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. 

Indah atau kerap disapa Ceh Dah (45) petani asal Desa Blang Puuk, melangkah hati-hati di atas saluran tersebut untuk mencapai kebunnya. Ia mengenakan kain penutup kepala berwarna hijau, baju lengan panjang, celana biru, dan sepatu bot. 

Jalan setapak yang biasa dilalui Ceh Dah rusak akibat banjir dan longsor pada akhir November 2025. Kini, pipa itu bukan hanya mengalirkan air ke lahan pertanian, tetapi juga menjadi jalur yang ia gunakan untuk mencapai kebunnya.

“Lewat pipa ini air sekarang mengairi kebun kami dan menjadi jalan kami menuju kebun,” kata Ceh Dah, Rabu (7/10/2026). 

Hampir setahun setelah bencana, petani di Beutong Ateuh Banggalang masih berjuang memulihkan lahan pertanian mereka.

Di Beutong Ateuh, sebagian masyarakat sejatinya masih mempertahankan tradisi menanam padi lokal, jenis padi tahunan asli tanah setempat yang hanya dipanen sekali dalam setahun. 

Namun, sebagian besar petani kini telah beralih ke varietas padi berusia lebih pendek dengan pola dua kali panen setahun, termasuk keluarga Ceh Dah. Tak heran, gangguan pada saluran irigasi memukul mata pencaharian mereka secara signifikan. 

Musim tanam yang seharusnya berlangsung pada Februari 2026 terlewat, sementara hingga Oktober 2026 sebagian petani masih belum bisa menanam padi kembali.

Bagi Ceh Dah, kerusakan saluran air bukan sekadar persoalan teknis pertanian. Sawah yang sebelumnya menjadi sumber pangan dan penghidupan keluarganya kini terlantar tanpa pasokan air.

Ia mengingat masa ketika keluarganya masih bisa mengandalkan kegiatan bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sebelum bencana, enak kami di kampung karena setiap lima bulan sekali bisa turun ke sawah, cuma selama bencana ini sudah setahun susah hidup kami semua, turun ke sawah tidak bisa karena saluran air ke sawah rusak,” ungkap Ceh Dah sembari tangannya sibuk mengupas Kakao yang baru dipanen dari kebunnya.

Pipa
Petani asal Desa Blang Puuk, Ceh Dah (45), bersama suaminya berdiri di atas pipa irigasi yang terpasang di lereng tebing terjal Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co). 

Kini air mulai mengalir menuju lahan mereka lewat pipa darurat. Namun, pekerjaan belum selesai. Ceh Dah memperkirakan perlu waktu sekitar satu bulan untuk membersihkan semak belukar yang tumbuh liar di sawah sebelum lahan dapat kembali diolah.

Keluarga Ceh Dah memiliki sekitar 18 rantai lahan sawah (setara 1,1 hektar). Karena keterbatasan air pascabencana, sebagian lahan dipinjamkan kepada kerabat, masing-masing sekitar dua rantai, agar mereka tetap memiliki kesempatan menanam padi.

Di tengah kerusakan lahan pertanian, akses terhadap sawah dan air menjadi persoalan krusial bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

Beras habis, kemiri menjadi sumber penghasilan

Dampak terputusnya pasokan air dan rusaknya sawah merembet serius pada ketahanan pangan warga. Kesulitan memenuhi kebutuhan beras kini dirasakan hampir di setiap dapur warga Beutong Ateuh.

Alinapiah (55), seorang kepala keluarga di Desa Blang Puuk, harus memutar otak setelah persediaan beras di rumahnya benar-benar habis. Untuk menyambung hidup, ia mengumpulkan buah kemiri dari kebun miliknya lalu menjualnya demi membeli beras eceran.

“Sekarang saya memang sudah tidak ada beras lagi, jadi harus beli. Caranya harus pilih buah kemiri lalu dijual, hasilnya buat beli beras,” kata Alinapiah, Rabu (7/10/2026).

Sawah milik Alinapiah hingga kini belum bisa digarap dan ditumbuhi semak belukar. Ia mulai membersihkannya sedikit demi sedikit menggunakan parang, meski ia sadar, tanpa kepastian air, usahanya menyiangi rumput belum tentu bisa langsung dilanjutkan dengan menanam.

Kondisi sawah yang sudah ditanami rumput dan semak pasca bencana di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Kamis (8/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co)  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
Kondisi sawah yang sudah ditanami rumput dan semak pasca bencana di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Kamis (8/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co)

Kondisi menekan juga dialami keluarga Ceh Dah. Cadangan 10 goni padi simpanan mereka pascabencana telah habis total empat bulan lalu setelah sempat dibagikan kepada tetangga.

Kehabisan beras memaksa keluarga ini mengubah pola makan harian. Mereka hanya menanak nasi untuk makan pagi dan malam. Pada siang hari, piring nasi digantikan oleh pisang rebus dengan taburan kelapa parut. Ceh Dah mengusap matanya dengan kain penutup kepala saat menceritakan perubahan kondisi dapur rumahnya itu.

“Sedih sekali rasanya,” ucap Ceh Dah singkat.

Sementara di Desa Kuta Teungoh, Banta Saidi menyaksikan bentang alam desanya berubah drastis. Banyak lahan sawah warga yang hilang dan berganti menjadi alur sungai baru. Sumber air dari alur gunung yang biasa mengairi sawah juga menyempit tertimbun material longsor.

Kondisi ini makin diperparah dengan mulai menyusutnya bantuan pangan dari luar seiring berjalannya waktu.

“Banyak sawah-sawah di desa yang berubah menjadi sungai. Alur air gunung sudah mengecil karena tertimbun,” kata Banta, Kamis (8/10/2026). 

“Awal bencana masih banyak bantuan beras dan makanan lainnya, tapi akhir-akhir ini sudah berkurang. Jadi kami kekurangan beras saat ini, beras harus beli,” tambahnya.

Keupok Padee, penyangga pangan keluarga

Bagi masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, sawah bukan sekadar lahan pertanian, melainkan sumber penghidupan yang diwariskan lintas generasi. 

Selama bertahun-tahun, warga terbiasa mengkonsumsi beras dari hasil panen sendiri dan relatif jarang membeli beras dari luar daerah.

Ketahanan pangan mandiri itu ditopang oleh tradisi menyimpan sebagian hasil panen di Keupok Padee.

Keupok Padee adalah lumbung penyimpanan padi tradisional masyarakat Aceh yang berbentuk kotak kayu panggung setinggi setengah hingga satu meter dari permukaan tanah. Dibuat dengan konstruksi papan kayu bertutup rapat dan sering kali ditempatkan di pekarangan rumah, Keupok Padee dirancang khusus untuk melindungi bulir padi panen dari kelembaban tanah, serangan hama, maupun cuaca ekstrem.

Tgk Malikul Aziz menunjukkan keupok padee miliknya di pekarangan rumahnya di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Kamis (8/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co)  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
Tengku Malikul Aziz menunjukkan keupok padee miliknya di pekarangan rumahnya di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Kamis (8/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co)

Tokoh masyarakat Beutong Ateuh, Tengku Malikul Aziz, mengatakan tradisi menyimpan padi itu masih dipertahankan hingga sekarang.

“Hingga saat ini masyarakat Beutong Ateuh punya tradisi menyimpan padi dalam keupok,” jelas Tengku Malikul saat ditemui di kediamannya di Beutong Ateuh, Rabu (7/10/2026).

Sambil menjelaskan tradisi tersebut, ia menunjukkan Keupok padee miliknya yang berada di samping halaman rumah. Tempat penyimpanan itu masih berisi padi dan tidak terdampak banjir pada November 2025.

Bangunan Keupok padee dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan ditutup rapat menggunakan papan untuk menyimpan padi. 

Tradisi tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga persediaan pangan rumah tangga, sekaligus praktik ketahanan pangan yang diwariskan antargenerasi di Aceh.

Namun, tidak semua keluarga memiliki nasib serupa. Sebagian tempat penyimpanan padi warga terendam atau hanyut terbawa banjir. 

Kondisi itu dialami keluarga Firna (22), warga Desa Babah Suak. Tatkala banjir besar menghantam, Keupok Padee milik keluarganya terendam air hingga seluruh padi di dalamnya membusuk dan tak bisa dikonsumsi.

“Sewaktu banjir bandang, rumah simpanan padi (Keupok Padee) kami terendam banjir, jadinya padi tidak bisa kami makan lagi,” kenang Firna, Rabu (7/10/2026).

Duka keluarga Firna tak berhenti di situ. Sekitar satu hektar sawah gala (sawah gadai) yang biasa mereka garap hanyut tersapu arus sungai. 

Sebelum bencana, Firna rajin membantu orang tuanya bertani dan memanen padi secara tradisional. Kini, tempat tinggal mereka pun tak lagi aman; teras rumah hancur dihantam banjir hingga posisinya berbatasan langsung dengan bibir sungai.

Warga Desa Babah Suak, Firna (22), tersenyum saat melayani pembeli di kios kecil miliknya di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
Warga Desa Babah Suak, Firna (22), tersenyum saat melayani pembeli di kios kecil miliknya di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).

Karena tak berani mendiami rumah yang rawan runtuh itu, Firna dan keluarganya memilih mengungsi ke hunian sementara bersama orang tuanya.

Setelah sempat bertahan hidup dari bantuan mie instan dan telur pada masa awal pascabencana, Firna kini berikhtiar menyambung beras harian dengan membuka kios kecil bersama sang kakak. 

Warga Membangun Irigasi Swadaya

Ceh Dah mengingat betul bagaimana warga desa sempat diminta bersabar dan menunda rencana perbaikan mandiri. 

Pemerintah desa saat itu menyampaikan kabar bahwa saluran irigasi yang putus akan segera diperbaiki melalui program pemerintah Kabupaten, sehingga warga diimbau untuk tidak membangunnya secara swadaya terlebih dahulu.

Namun, minggu berganti bulan, janji itu tak kunjung terealisasi. Kepastian yang ditunggu-tunggu tak pernah datang, sementara musim tanam terus terlewat dan persediaan pangan warga kian menipis. Rasa lelah menunggu janji yang tak pasti akhirnya berubah menjadi ketidakpercayaan.

“Kami sudah tidak percaya lagi dan memilih membangunnya secara swadaya bergotong royong,” tegas Ceh Dah.

Tak mau tinggal diam, Ceh Dah dan suaminya turun langsung bergabung bersama warga lainnya untuk membangun saluran air tersebut. 

Warga Desa Babah Suak, Firna (22), tersenyum saat melayani pembeli di kios kecil miliknya di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
Warga Desa Babah Suak, Firna (22), tersenyum saat melayani pembeli di kios kecil miliknya di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).

Selain menyumbangkan tenaga dalam aksi gotong royong, mereka juga menyisihkan rezeki dengan menyumbangkan bahan bakar minyak demi menyokong kelancaran pengerjaan dan pengangkutan material di lapangan. 

 

Tengku Malikul Aziz menjadi salah satu penggagas pembangunan irigasi secara swadaya di Desa Blang Puuk.

Gagasan itu muncul setelah ia berulang kali menerima keluhan warga yang berharap saluran air segera diperbaiki agar sawah dapat kembali diolah. Ketidakpastian waktu pemulihan membuat warga khawatir kehilangan lebih banyak waktu untuk menanam.

Tengku Malikul kemudian menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun saluran tersebut. 

Warga bergotong royong mengumpulkan kebutuhan pembangunan, membeli pipa, dan mengangkut material ke lokasi yang sulit dijangkau. Bantuan tidak hanya berupa uang atau bahan bangunan. Sebagian warga menyediakan kopi dan kue untuk orang-orang yang bekerja di lapangan.

“Semua proses pembangunan irigasi kita lakukan secara gotong royong, lebih kurang tujuh hari pipa-pipa itu sudah terpasang,” kata Tengku Malikul, Kamis (8/10/2026).

Pipa-pipa tersebut diangkut bersama-sama melewati medan yang terjal. Warga bahu-membahu membawa material ke tebing dan memasangnya agar air kembali dapat dialirkan menuju lahan pertanian.

Dalam waktu sekitar sepekan, pipa-pipa berhasil terpasang. Bagi warga, pekerjaan itu bukan semata-mata memperbaiki saluran air, melainkan upaya mempertahankan sumber pangan dan penghidupan yang selama ini bertumpu pada sawah.

Meski air mulai mengalir melalui pipa, petani masih harus membersihkan rumput dan semak belukar yang tumbuh selama lahan tidak ditanami. 

 Air jernih mengalir deras dari pipa biru buatan warga di dekat pondasi irigasi yang rusak di Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
 Air jernih mengalir deras dari pipa biru buatan warga di dekat pondasi irigasi yang rusak di Desa Blang Puuk, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, pada Rabu (7/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).

Seluruh sawah terdampak kekurangan air

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, mengatakan total lahan sawah di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang mencapai 224 hektare. 

Seluruh luasan tersebut terdampak bencana karena kerusakan saluran irigasi dan sumber air membuat petani kesulitan mengolah lahan.

“Dari total 224 hektar, sekitar 20 hektare masuk kategori rusak parah, sedangkan 55 hektar lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Sementara sisanya ikut terdampak karena tidak dialiri air,” sebut Marzuki saat dikonfirmasi, pada Kamis (15/10/2026).

Dia menjelaskan, untuk lahan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang, pemerintah merencanakan penanganan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

“Prosesnya masih dalam tahap kontrak,” ungkapnya.

Marzuki mengatakan kerusakan saluran irigasi menjadi kendala utama bagi petani. Saluran utama yang terputus total berada di Desa Blang Puuk. Penanganan telah berjalan, sedangkan perbaikan permanen menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melalui bidang pengairan.

“Saluran utama yang putus total itu ada di Desa Blang Puuk, itu sudah ada penanganannya kita tunggu perbaikan secara permanen,” ujar Marzuki.

Foto udara memperlihatkan kondisi petakan sawah yang mulai tergenang air di Desa Kuta Teungoh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (17/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).  Salinan ini telah tayang di https://www.bithe.co/news/suara-air-yang-dirindukan-petani-beutong-ateuh/index.html#google_vignette.
Foto udara memperlihatkan kondisi petakan sawah yang mulai tergenang air di Desa Kuta Teungoh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (17/10/2026). Foto: (Mardili/Bithe.co).

Selain penanganan irigasi, DTPHP berupaya membantu petani mempercepat pengolahan lahan melalui dukungan alat dan mesin pertanian.

Marzuki menyebut pemerintah telah menyalurkan 17 unit traktor tangan untuk membantu petani di Beutong Ateuh Banggalang.

Ia mengatakan bantuan tersebut diharapkan mempercepat pengolahan lahan setelah pasokan air kembali tersedia. 

Terkait pembangunan irigasi secara swadaya oleh warga, Marzuki mengaku mengetahui kegiatan tersebut melalui media sosial. Ia menilai inisiatif warga sebagai langkah positif untuk membantu sesama dan memperlancar pengolahan lahan.

Marzuki mengatakan pemerintah menargetkan petani kembali mengolah sawah dan mulai menanam padi paling lambat awal Januari 2027.

“Kami berkomitmen bersama petani. Paling lambat awal Januari, kami menargetkan masyarakat di Beutong Ateuh Banggalang sudah kembali menanam padi,” tuturnya.

Ceh Dah, Alinapiah, dan seluruh warga di Beutong Ateuh masih menunggu sawahnya kembali bisa ditanami setelah berbulan-bulan kehilangan sumber air.

Bagi mereka, aliran air yang kini kembali melewati pipa biru menjadi harapan untuk mengolah sawah dan memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil panen sendiri. 

Di Beutong Ateuh, suara air telah kembali terdengar, tetapi bagi warga disana, perjuangan untuk kembali panen belum usai.

*) Tulisan ini direpublikasi dari Bithe.co dengan judul yang sama. 

 

 

kali dilihat