Oleh Chairul
INDEPENDEN---ACEH TIMUR – Sekitar 20 kilometer dari lintas Medan-Banda Aceh, menuju pedalaman Kabupaten Aceh Timur mulai meninggalkan jalanan hitam. Kendaraan harus melewati akses berbatu dan tanah yang belum tersentuh aspal untuk mencapai tiga gampong dalam wilayah Kecamatan Birem Bayeun dan Rantau Selamat.
Jumat, 9 Oktober 2026 pagi. Sepanjang perjalanan, bebatuan dan jalan yang tidak rata menjadi tantangan tersendiri. Namun, pemandangan perbukitan hijau, hamparan pertanian, serta perkebunan di sepanjang rute sedikit mengusir rasa lelah. Di sela perjalanan, warga yang berpapasan saling menyapa. Senyum dan sapaan ramah kerap disertai ajakan singgah, menghadirkan suasana hangat di tengah perjalanan menuju pedalaman.
Kehidupan di kawasan itu juga memiliki keterbatasan tersendiri. Saat memasuki kawasan tujuan, ternyata jaringan internet dari kartu SIM tidak tersedia. Jika ingin terhubung interkoneksi, maka harus mengandalkan Wi-Fi Starlink dengan cara membeli voucher di kios-kios setempat.
Di kawasan tujuan inilah terdapat Gampong Buket Seulemak, Alue Punti, dan Alue Kaul, yang mayoritas penduduknya merupakan masyarakat Gayo, salah satu suku di Aceh.
Sebuah jembatan gantung sepanjang sekitar 50 meter sebelumnya membentang di atas Sungai Bayeun. Jembatan itu menjadi penghubung penting bagi warga di tiga gampong, mulai dari membawa hasil kebun hingga menghadiri kenduri (hajatan) yang telah menjadi identitas masyarakat Aceh.
Namun, semua berubah pada akhir November 2025. Banjir besar yang menerjang wilayah Aceh Timur membuat sungai meluap dengan arus deras. Jembatan gantung yang selama bertahun-tahun digunakan warga tak mampu bertahan.
Sejak saat itu, warga mengandalkan getek untuk menyeberangi sungai. Sepeda motor harus dinaikkan ke atasnya sebelum perjalanan dilanjutkan melalui jalan tanah di sisi seberang. Getek memang membuat aktivitas warga tetap berjalan, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan fungsi jembatan.

Di Antara Dua Tepian
Sekitar pukul 14.00 WIB, saat aktivitas penyeberangan menggunakan getek masih berlangsung. Di tepi sungai, Widia Fitri, ibu rumah tangga asal Buket Seulemak yang kini tinggal di Kota Langsa, tengah menanti getek untuk menyeberang.
Sambil menunggu, ia menceritakan perubahan yang dialami ketika Lebaran 1447 Hijriah lalu. Bersama suami dan putranya, Widia tidak dapat mengunjungi sang nenek di seberang Gampong Alue Punti karena mempertimbangkan kondisi perjalanan.
"Hari raya kemarin kami tidak pergi, bukan tidak bisa tapi lebih mikir-mikir kondisi waktu lewat sungainya, apalagi saat hujan atau becek, ditambah kita punya anak kecil," ungkap Widia.
Mulyadi Selian, lelaki tegap dengan wajah yang ramah saat di penyeberangan siang itu, juga mengungkap hal serupa. Ia mengisahkan pengalaman saat menghadiri acara perkawinan keponakannya di Buket Seulemak. Perjalanan yang dulu dapat dilalui dengan mudah, kini harus melihat kondisi yang tak tentu.
“Kalau ada acara keluarga, tetap kita usahakan datang. Tapi sekarang harus melihat kondisi sungai dan getek dulu,” ujarnya, mengenang perjalanan menuju rumah abangnya di seberang.
Mulyadi bercerita sambil sesekali mengarahkan pandangan ke sungai. Baginya, menghadiri perkawinan keluarga bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bagian dari menjaga hubungan kekerabatan yang telah lama terjalin.

Kenduri dalam Perjalanan Berubah
Sore mulai beranjak ketika obrolan berlanjut di sebuah warung kopi sederhana di Gampong Alue Punti. Sekitar pukul 16.00 WIB, suasana masih terasa hangat, sebagaimana kebiasaan warga Aceh yang menjadikan ngopi sebagai bagian dari keseharian dan ruang untuk bertukar cerita. Keuchik (kepala desa) setempat, Selamat Amin, berbicara tentang jembatan yang putus dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam percakapan itu, dia mengungkap, jembatan bukan sekadar penghubung antarkampung. Bagi mereka masyarakat Gayo di tiga desa, akses tersebut memudahkan untuk menghadiri kenduri, peringatan Maulid Nabi, serta berbagai kegiatan adat dan kesenian.
Keuchik Selamat mengungkap, kenduri yang biasanya dihadiri sekitar 200 orang lebih kini bisa hanya dihadiri 100 orang saja. Kondisi penyeberangan dan biaya perjalanan menjadi pertimbangan warga untuk datang ke kampung seberang.
“Sangat mempengaruhi, bagi kita orang Gayo. Kenduri, peringatan Maulid Nabi, dan kegiatan adat dan kesenian seperti Saman merupakan kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan menjaga kebersamaan,” jelasnya.
Selamat khawatir, jika akses tak kunjung kembali, kebiasaan yang diwariskan turun-temurun bisa ikut tergerus oleh keadaan yang seharusnya dapat ditanggulangi.
Bahkan ia menggambarkan beratnya dampak dengan menyebut, "Itu bukan dampak lagi, itu adat istiadatnya bisa-bisa mati. Itu adat kami," tegasnya dengan suara lantang.

Saman dan Bines Terus Hidup
Malam harinya sekitar pukul 20.00 WIB, suasana di sekitar rumah Ahmad Yani, Ketua Kesenian Saman-Bines Gampong Alue Punti, mulai lengang. Sementara suara serangga terdengar di tengah sunyinya malam di pedalaman.
Di rumahnya, Yani bercerita tentang kesenian yang telah lama hidup di tengah masyarakat Gayo dengan makna kebersamaan yang terjalin melalui setiap pertunjukan yaitu Saman dan Bines.
Dalam acara perkawinan, sunat rasul, maupun kegiatan adat, pertunjukan itu biasanya dimulai sekitar pukul 22.00 WIB, dan berlangsung hingga menjelang subuh. Ratusan warga dari berbagai kampung datang menyaksikan, mulai dari orang tua, kaum muda hingga anak-anak.
Ketika pertunjukan digelar di Buket Seulemak, warga dari Alue Punti, Alue Kaul dan kampung sekitar yang tinggal di seberang sungai lebih sulit hadir. Begitu pula sebaliknya, warga Buket Seulemak harus mempertimbangkan perjalanan menyeberangi sungai jika acara berlangsung di Alue Punti, terlebih pertunjukan baru berakhir menjelang fajar.
"Bagi masyarakat Gayo kesenian ini adalah hubungan silaturahmi yang dibungkus dalam adat budaya," ujarnya.
Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, kesenian ini dikaitkan dengan Syekh Saman, sosok ulama yang dipercaya berperan dalam perkembangannya menyebarkan Islam melalui kesenian. Syair-syair Saman juga memuat pesan agama, moral, dan tuntunan kehidupan bermasyarakat.
"Karena itu dalam syair Saman tidak hanya ada hiburan, tetapi juga pesan agama, pesan moral, dan tuntunan hidup bermasyarakat," ungkapnya.

Menanti Terbangun Kembali
Jembatan gantung yang kini telah hilang itu menyimpan cerita panjang tentang usaha warga menghubungkan tiga gampong. Jauh sebelum banjir besar menghanyutkannya, masyarakat telah lebih dahulu bergotong royong agar sungai yang membelah kampung tak menjadi pemisah kehidupan mereka.
Pada 2008, warga membangun jembatan tersebut secara swadaya dengan biaya awal sekitar Rp60 juta. Pembangunannya melibatkan masyarakat dari tiga gampong bersama sumber anggaran swadaya masyarakat.
“Dulu awalnya, tiga desa bergotong royong kerja sama dengan dana swadaya masyarakat,” ujar Selamat, saat melanjutkan obrolan di warung kopi sebelumnya sambil mengenang awal pembangunan jembatan itu.

Harapan untuk membangun kembali jembatan terus bergulir. Selamat mengatakan, pembahasan sempat dilakukan melalui pertemuan daring menggunakan Zoom. Penentuan titik koordinat juga telah dibicarakan sekitar Januari 2026 lalu.
Selamat mengulas, dalam pembahasan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), muncul perbedaan usulan mengenai bentuk jembatan yang akan dibangun. Pemerintah Gampong Alue Punti mengusulkan jembatan Bailey, sedangkan warga Buket Seulemak meminta jembatan gantung seperti sebelumnya.
Dalam pandangan Selamat, bentuk jembatan bukanlah persoalan utama. Yang lebih penting, akses yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga dapat kembali digunakan.
“Kita nggak peduli mau itu jembatan layang yang dibangun, jembatan kayu atau apapun itu, yang terpenting adalah dibangun. Kami dengar keluhan masyarakat setiap hari, sangat sakit rasanya. Kenapa? karena kita mikir ke masyarakatnya,” ungkap Selamat.
Jika pembangunan tak kunjung terealisasi, kata dia, warga mempertimbangkan kembali upaya membangun jembatan secara swadaya bersama gampong lain. Namun, kebutuhan biaya yang besar menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat di tengah kondisi pasca bencana yang belum benar-benar pulih.

Selamat memperkirakan, akses itu menghubungkan kehidupan ratusan keluarga di tiga desa dengan sebaran sekitar 280 kepala keluarga di Alue Punti, 300 kepala keluarga di Alue Kaul, dan 200 kepala keluarga di Buket Seulemak.
Berdasarkan pantauan saat peliputan, belum terlihat pengerjaan fisik pembangunan jembatan di lokasi. Bahkan, area di tepi sungai yang sebelumnya menjadi bagian dari akses jembatan telah ditumbuhi ilalang dan tanaman liar yang cukup tinggi.

Getek Menjadi Tumpuan
Selama sekitar sepuluh bulan terakhir, getek menjadi sarana penyeberangan warga. Sayed Samsudin, pemilik sekaligus pengelola getek, menjalankan layanan itu bersama seorang pekerja bernama Johar.
Penyeberangan mulai beroperasi setiap hari pukul 06.30 WIB. Pada pagi hingga siang, getek dijaga pemilik lahan di sisi Alue Punti, tempatnya bersandar.
"Pagi sampai siang hari, dijaga sama pemilik lahan di sisi Alue Punti, tempat getek berlabuh," jelas Johar.
Mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB, giliran Johar membantu Sayed mengoperasikan penyeberangan. Getek bersandar di kedua sisi sungai, masing-masing di atas lahan pribadi warga.
Pengelola tidak menetapkan tarif tetap. Namun, warga biasanya memberikan sekitar Rp10.000 untuk satu sepeda motor dan Rp5.000 untuk satu orang.

Harapan Menuju Pemerintah
Di tengah ketergantungan warga terhadap getek, pembangunan kembali jembatan Alue Punti–Buket Seulemak ternyata telah masuk dalam rencana penanganan pemerintah. Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengatakan, jembatan tersebut telah masuk dalam Rencana Induk Bappenas.
Pemkab Aceh Timur juga telah mengusulkannya kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Sudah kita usulkan ke BNPB dalam program rehab-rekon dan sudah diagendakan di BNPB untuk disurvei ke lokasi,” kata Bupati, dalam keterangannya kepada AJNN, Selasa 20 Oktober 2026.
Ia juga membenarkan adanya pembahasan dan penentuan titik koordinat yang sebelumnya disampaikan pemerintah gampong. Menurut Al-Farlaky, Pemkab bahkan telah mengusulkan pembangunan jembatan tersebut pada 2025 kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui program IJD.
Berbeda dengan usulan jembatan Bailey dari Alue Punti dan jembatan gantung dari Buket Seulemak, Pemkab merencanakan jembatan permanen dengan konstruksi rangka baja.

Namun, hal tersebut belum mendapatkan kepastian kapan pembangunan dimulai. Pemkab masih menunggu apakah penanganannya akan dilakukan melalui BNPB. Sementara jika mengandalkan kemampuan daerah, Al-Farlaky menyebut anggarannya belum tersedia karena pembangunan diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp25 miliar.
Pemkab, kata dia, telah berkoordinasi dengan kementerian terkait dan DPR RI untuk mendorong pembangunan tersebut.
Sementara warga masih harus menggunakan getek, Al-Farlaky mengatakan pemerintah akan membahas bersama dinas teknis kemungkinan membangun jembatan sementara yang dapat dilalui kendaraan roda dua.
Ia mengaku sangat prihatin dengan kondisi itu, lanta tak hanya memengaruhi mobilitas masyarakat, tetapi juga kehidupan sosial, adat dan budaya warga yang terhubung melalui jembatan.
“Pemkab sangat prihatin dan berusaha mencari segala cara agar jembatan tersebut dapat dibangun secepatnya,” ungkap Bupati Al-Farlaky.
Di Balik Sebuah Jembatan
Guru Besar Sosiologi Pedesaan Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Ahmad Humam Hamid, melihat apa yang dialami masyarakat Gayo di tiga desa itu, bukan sekadar persoalan mobilitas. Menurutnya, kampung bukanlah satuan permukiman yang berdiri sendiri, tetapi hidup dalam jaringan dengan kampung-kampung lain.
Hubungan darah, perkawinan, persahabatan, pekerjaan, perdagangan, keagamaan hingga kewajiban sosial membuat masyarakat antar kampung terus terhubung. Karena itu, jalan dan jembatan juga memiliki fungsi sebagai infrastruktur sosial yang memungkinkan hubungan tersebut terus dipelihara.
Di pedesaan Aceh, kata Humam, seseorang bisa tinggal di satu gampong, memiliki orang tua di gampong lain, saudara ipar di seberang sungai, lalu menghadiri kenduri atau Maulid di kampung tetangga. Hubungan seperti itu dipelihara melalui pertemuan yang berulang, termasuk pertemuan sederhana dan spontan.

Ketika jembatan putus, hubungan kekerabatan memang tidak otomatis ikut terputus. Namun, waktu, tenaga, biaya dan risiko keselamatan yang harus ditanggung untuk mempertahankan hubungan tersebut menjadi lebih besar.
“Jembatan menghubungkan dua tepian sungai, tetapi secara sosiologis ini menghubungkan dua komunitas kehidupan. Ketika jembatan hilang, yang terganggu bukan hanya mobilitas penduduk, melainkan juga kemampuan masyarakat mempertahankan kedekatan sosialnya,” kata Humam dalam perbincangan dengan AJNN melalui sambungan telepon, Senin, 19 Oktober 2026.
Dampak Hubungan Masyarakat
Pandangan Humam juga sejalan dengan cerita warga. Menurutnya, kenduri dan Maulid bukan hanya kegiatan makan bersama atau perayaan keagamaan. Keduanya menjadi kesempatan memperbarui hubungan kekerabatan, memperkuat solidaritas, serta menegaskan rasa kebersamaan antargampong.
Demikian pula dengan Saman-Bines. Humam menilai, kesenian tradisional, itu bukan hanya pertunjukan hiburan semata. Di dalamnya berlangsung pewarisan pengetahuan, perjumpaan antargenerasi, pembentukan identitas, dan pemeliharaan hubungan sosial.
Dalam sosiologi, pertemuan-pertemuan tersebut turut membentuk dan memelihara social capital atau modal sosial, terutama kepercayaan, kebiasaan saling membantu dan jaringan hubungan antarkelompok.
“Sebuah jembatan dapat bernilai kecil dalam perhitungan lalu lintas, tetapi bernilai sangat besar dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.
Apabila gangguan akses hanya berlangsung beberapa minggu, masyarakat mungkin masih menganggapnya sebagai kondisi sementara. Namun, jika berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, pola hubungan sosial dapat berubah.
Kunjungan dapat semakin jarang, undangan kenduri semakin sulit dipenuhi, anak-anak dan remaja kehilangan sebagian kesempatan bergaul dengan teman sebaya dari kampung tetangga. Kegiatan kebudayaan yang sebelumnya melibatkan beberapa gampong juga dapat semakin terbatas pada lingkungan masing-masing.

Namun, Humam menegaskan keadaan itu bukan berarti masyarakat pasti kehilangan tradisinya. Masyarakat memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan intensitas partisipasi, terutama di kalangan generasi muda.
“Tradisi tidak selalu mati karena dilarang. Kadang-kadang tradisi perlahan melemah karena orang semakin sulit bertemu untuk menjalankannya bersama,” jelas Humam.
Daya Bertahan Warga
Humam turut melihat kemampuan masyarakat menggunakan getek sebagai pengganti jembatan adalah bentuk community resilience atau ketahanan sosial masyarakat pedesaan.
Ketika infrastruktur formal rusak, masyarakat tidak serta-merta berhenti menjalankan kehidupannya. Mereka mencari jalan keluar menggunakan pengetahuan lokal, keterampilan, jaringan pertolongan dan sumber daya yang tersedia.
Getek yang kini menjadi tumpuan warga memperlihatkan kemampuan tersebut. Akan tetapi, Humam mengingatkan ada batas antara kemampuan masyarakat bertahan dengan tanggung jawab pemerintah untuk memulihkan akses.

“Ketahanan masyarakat tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk memperpanjang ketidakhadirannya. Getek merupakan bentuk adaptasi darurat, bukan pengganti permanen jembatan yang aman,” tegasnya.
Humam menggambarkan, ada perbedaan antara masyarakat yang mampu bertahan menghadapi kesulitan dengan masyarakat yang dipaksa terus-menerus hidup dalam kesulitan.
Dalam pembangunan pascabencana, kemampuan masyarakat beradaptasi semestinya membantu proses pemulihan, bukan membebaskan pemerintah dari tanggung jawab memulihkan pelayanan dasar.
Semakin lama getek menjadi satu-satunya pilihan, persoalan keselamatan juga semakin penting diperhatikan, terutama bagi anak-anak, orang lanjut usia, perempuan hamil dan warga yang membutuhkan pertolongan medis.
“Solidaritas warga adalah kekuatan masyarakat. Tetapi solidaritas tidak boleh berubah menjadi subsidi tanpa batas bagi keterlambatan negara,” ujarnya.
Karena itu, sebuah jembatan dengan jumlah pengguna relatif kecil belum tentu memiliki prioritas sosial yang rendah. Jika menjadi satu-satunya akses aman bagi beberapa komunitas, tingkat kepentingannya justru dapat sangat tinggi.
“Negara tidak cukup menghitung berapa orang yang melewati sebuah jembatan. Negara juga harus menghitung berapa banyak kehidupan yang terganggu ketika jembatan itu tidak tersedia,” kata Humam.
Pada keadaan pemulihan pascabencana khususnya wilayah pedalaman seperti di Aceh Timur, ia berpendapat fungsi sosial, pendidikan, keselamatan dan kebudayaan perlu menjadi bagian dalam menentukan prioritas rekonstruksi.
Risiko Terlalu Lama Terisolasi
Prof. Humam juga mengilas bahwa keterbatasan akses yang berlangsung bertahun-tahun dapat membawa persoalan yang lebih panjang. Risikonya tidak hanya menyangkut kemunduran ekonomi, tetapi juga perubahan kesempatan hidup masyarakat.
Anak-anak yang setiap hari menghadapi kesulitan menyeberangi sungai, misalnya, dapat mengalami kelelahan, terlambat atau tidak masuk sekolah. Dalam kondisi tertentu, hambatan akses berkepanjangan bahkan dapat meningkatkan risiko putus sekolah.
Bagi petani, keterbatasan akses dapat meningkatkan biaya angkut dan mempersempit pilihan pasar. Warga yang sakit juga berisiko terlambat memperoleh pertolongan, sementara hubungan kekerabatan antargampong semakin jarang dipelihara melalui pertemuan langsung.
Dalam jangka panjang, kata Humam, keterisolasian itu dapat mendorong migrasi. Keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi mungkin memilih pindah ke tempat dengan akses lebih baik. Mereka yang tidak memiliki pilihan tetap tinggal dan menanggung beban keterbatasan infrastruktur.
Akibatnya, kesenjangan dapat semakin besar, bukan hanya antara desa dan kota, tetapi juga antara warga yang mampu keluar dari keterisolasian dan mereka yang terpaksa bertahan.

Dampaknya juga dapat menjangkau generasi berikutnya. Anak-anak yang tumbuh dengan keterbatasan akses pendidikan, kesehatan dan pergaulan sosial dapat memiliki kesempatan hidup yang lebih sempit dibandingkan anak-anak di wilayah yang terhubung dengan baik.
“Inilah sebabnya keterisolasian tidak boleh dianggap sebagai persoalan transportasi semata. Jika sebuah jembatan putus selama satu hari, masyarakat kehilangan akses. Jika putus selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat dapat kehilangan kesempatan untuk memperbaiki masa depannya,” pungkas Humam.
Di tepi Sungai Bayeun, getek masih menjadi tumpuan. Warga tetap menyeberang agar aktivitas sehari-hari berjalan, sementara harapan mereka tertuju pada pembangunan jembatan yang dapat menghubungkan kembali kampung-kampung itu.
Untuk mereka, jembatan bukan sekadar jalan untuk mencapai seberang sungai. Ada keluarga yang ingin dikunjungi, kenduri yang ingin dihadiri, serta adat dan kesenian yang terus dijaga.***
*) Tulisan ini direpublikasi dari AJNN dengan judul yang sama pada 24 Oktober 2026. Link bisa dilihat di https://www.ajnn.net/news/sebelum-adat-gayo-ikut-terputus/index.html