Sampah Makanan di Pesta Pernikahan  

Oleh Suci Sekar

INDEPENDEN--Laily Muflikhati, 38 tahun, menarik nafas panjang sebelum mengumumkan pernikahannya di hadapan murid-murid pengajiannya. Wajahnya berseri, hari pernikahan yang dinanti akhirnya tiba. Namun ada satu hal lain yang disampaikannya, dia mengingatkan agar saat resepsi pernikahan nanti, jangan membuang-buang makanan.    

”Rencananya, saya akan membuat sebuah pemberitahuan kecil di area makan, ’jangan mubazir makanan’. Sayangkan makanan dibuang-buang. Itu juga tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW,” ujar Laily kepada murid-murid pengajiannya sebulan sebelum pesta pernikahan digelar di aula serba guna Gedung Pegadaian, Senen, Jakarta Pusat.

Pada hari H, pengumuman bertulis jangan mubazir makanan itu, benar-benar dipajang di area buffet. Pantuan independen.id di lokasi acara, para tamu undangan memperlihatkan reaksi beragam. Ada yang membaca dan cuek, ada juga yang tidak sempat membaca catatan tersebut karena fokus mengambil makanan. 

.
ilustrasi area prasmanan di sebuah acara pernikahan yang diselenggarakan di gedung di DKI Jakarta. Dokumen: Nendia Catering.

 

Yessi, seorang Marketing dari sebuah perusahaan Wedding Organizer (WO) di Jakarta mengatakan pada Sabtu 5 September 2026, dari banyaknya pasangan pengantin yang pernah ditanganinya, memang ada beberapa pasang pengantin yang meminta padanya agar menuliskan catatan “ambil makanan secukupnya” di area buffet atau prasmanan.

Food waste adalah makanan terbuang yang sudah tidak layak dimakan, tidak memenuhi standar keamanan pangan, atau basi akibat kelebihan pangan yang tidak bisa diselamatkan tepat waktu. Sedangkan food surplus adalah kondisi  makanan masih aman dikonsumsi, dan masih bisa didistribusikan. 

Kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama Waste4Change pada 2021 mengungkap dalam 20 tahun terakhir (2000-2019) terjadi timbunan susut dan sisa pangan (FLW) sebanyak 23-48 juta ton/tahun atau 115-184 kilogram/kapita/tahun. Kerugian secara ekonomi diperkirakan Rp213-551 triliun atau hampir setara anggaran MBG (Makan Bergizi Gratis).  

”Bayangkan betapa banyak kesia-siaan,” kata Agus Rusli, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH, dalam acara Jakarta Food Waste Media Fellowship 2026: Memperkuat Peran Media dalam Mengarusutamakan Isu Susut dan Sisa Pangan di Indonesia, 27 Agustus 2026, di Jakarta. 

Sampah makanan telah menjadi porsi sampah terbesar di Indonesia. Untuk itu, persoalan sampah tidak akan berhasil jika masyarakat Indonesia tidak mengatasi persoalan sampah makanan. 

Yessi mengatakan untuk mengurangi sampah makanan, selain memberikan catatan ’ambil makanan secukupnya’, mempelai pengantin juga memiliki beberapa opsi lain. Pertama, menambah staf yang bertugas di area buffet untuk membantu menyendokkan makanan pada para tamu. Taktik menyendokkan makanan ini, diharapkan bisa mencegah orang mengambil makanan seenaknya.    

Alternatif kedua, menyediakan makanan dalam porsi kecil. Dengan begitu, jika tamu merasa kurang - tinggal mengambil lagi, bukan membuang makanan karena porsinya besar.    

”Bisa dibuat porsi kecil, misal kopi atau jus buah disajikan setengah porsi,” ujar Yessi.

Alternatif ketiga, bisa menyelenggarakan resepsi ala-ala fine dining atau etnis China menyebutnya makan di meja. Tamu undangan yang hadir, duduk di tempat-tempat yang telah disediakan. Ketika seremonial pernikahan selesai dilaksanakan, makanan akan diantar ke tempat duduk para tamu. Makanan akan dimulai dari makanan pembuka, dua kali makanan utama hingga hidangan penutup. 

Setelah acara makan-makan selesai, ditutup dengan bersalaman oleh para tamu pada pengantin dan kedua orang tua mempelai. Jika ada tamu yang datang terlambat, mereka diberi opsi makanan dibungkuskan.    

Adapun makanan berlebih dari pesta pernikahan, bisa dibagikan kepada anggota keluarga pengantin. Begitu juga kue pengantin yang ukurannya besar, biasanya dibagi-bagikan oleh mempelai pengantin agar tidak terbuang sia-sia. 

Sementara itu, Resti Nendia, Pemilik Catering dan Wedding Organizer Nendia Primarasa, menyampaikan terkadang ada perilaku tamu undangan yang mengambil lauk-pauk dengan berlebih, namun ujungnya tak dihabiskan. Padahal sebaiknya, saat mengambil makanan sesuai dengan porsinya sehingga tidak terjadi banyak sisa makanan.    

”Harus ada kesadaran. Apalagi saat ada banyak pilihan makanan. Baiknya mengambil sesuai porsi yang yakin akan dihabiskan makanannya sehingga tidak banyak makanan terbuang,” ujar Resti, kepada independen.id, Jumat 4 September 2026.

Menurut Resti, setiap pengusaha catering memiliki perhitungan atau rumus agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan makanan dalam jumlah besar. Untuk itu, supaya tidak muncul sampah makanan berlebihan, dia setuju perlu adanya edukasi.  

Lebih lanjut Resti menjelaskan berdasarkan pengalamannya, sampah makanan yang dikumpulkan Nendia Primarasa catering dalam satu acara pernikahan, tergantung pada jumlah tamu yang hadir atau jumlah undangan. Umumnya, sampah makanan jumlahnya satu kantong sampah plastik hitam ukuran 60 x 100 cm. Jenis makanan yang sering terbuang adalah sayur.

Selain sampah makanan, bunga-bunga asli dari pesta pernikahan juga terkadang berakhir di tong sampah.    

Sedangkan untuk kelebihan makanan, akan diserahkan ke pihak keluarga mempelai pengantin. Sebab kalau memesan makanan dalam jumlah terlalu pas, akan bingung jika tamu yang datang lebih dari perkiraan. 

.

 

”Kami nanti bantu packing ke plastik khusus makanan. Biasanya, makanan lebih itu sekitar 20-50 porsi saja, pernah juga kelebihan 100 porsi makanan. Tapi ini enggak bisa disama-ratakan,” ujarnya.

Resti menyebut harga catering di Nendia Primarasa, dimulai dari Rp175.00/orang. Sedangkan harga paket plus gedung pernikahan dengan 600 tamu undangan, dibanderol mulai dari Rp200 juta.       

Adapun untuk perhitungan konsumsi makanan bagi para tamu, Resti merekomendasikan 70% makanan dihidangkan prasmanan, dan 30% di area gubuk-gubuk makanan. Untuk makanan di gubukan, disajikan dalam porsi yang tidak penuh (full) karena gubuk-gubuk makanan menyediakan beragam makanan lainnya atau banyak pilihan.    

Lalu, apa acara paling efektif mengurangi sampah makanan di sebuah acara pesta pernikahan? Resti menjawab itu tergantung pilihan mempelai pengantin. Pasalnya, ada klien yang tidak mau tamu-tamunya dibantu disendokkan makanan saat mengambil makanan di buffet, walau cara ini cukup populer saat Covid-19 dulu. Sedangkan sistem reservasi, bagi Resti cara ini hanya memudahkan pengantin dalam mempersiapkan jumlah porsi agar tidak banyak kelebihan makanan. 

”Yang menjadi sampah makanan itu tamu yang mengambil banyak makanan tapi enggak dihabiskan. Sedangkan kelebihan makanan, selama masih layak konsumsi – itu enggak jadi sampah karena kami selalu kembalikan ke panitia pernikahan, tidak dibuang ke tong sampah,” ujar Resti.

Lebih dari satu dekade menjadi pengusaha catering pernikahan, Resti mengaku pernah punya pengalaman klien yang meminta dipasangi tulisan ”ambil makanan secukupnya”. Dia melihat, ada tamu yang membaca tulisan itu, namun ada pula yang mengabaikan. Sebab menurut Resti ini persoalan kebiasaan, yang tidak mudah diubah dengan cepat. 

“Saya melihat ini hal positif ya (jangan membuang-buang makanan di pesta pernikahan), cuma kalau acara wedding itu waktunya pendek, apalagi di gedung. Jadi saran saya, jangan acara wedding saja, acara rapat dan acara yang lainnya juga perlu diedukasi,” ujarnya.   

Sebagai pengusaha catering untuk acara pernikahan, Resti mengaku tak bisa berinisiatif membuat tulisan “jangan mubazir” karena ada klien yang tidak mau tamunya dilarang-larang. Makanan catering sudah dipesan dan itu menjadi hak mempelai pengantin sepenuhnya. Namun Resti setuju tamu undangan yang hadir memang sebaiknya mengambil makanan secukupnya supaya apa yang diambil tidak terbuang. 

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengungkap total timbunan sampah di wilayah Jakarta pada 2024 mencapai 9.059 ton per hari. Dari total tersebut, sampah organik yang terbanyak yakni 49%.  Sampah makanan bukan berarti hilangnya pangan, tetapi hilang juga energi yang dikeluarkan untuk menghasilkan pangan tersebut.  

Wira, Staf Bagian Entertainment untuk acara-acara pernikahan, mengatakan dia pernah melihat tamu undangan mengambil makanan seenaknya. Dia juga pernah melihat ada empat kantong plastik hitam berisi sampah makanan. 

”Ya, itu sayang banget ada makanan enggak habis dan dibuang. Masuk ke plastik sampah. Kalau kami staf panggung, kami enggak makan bersama tamu, tapi dikasih nasi box. Jadi makanan kami enggak mubazir,” ujarnya kepada independen.id, Sabtu, 5 September 2026 di Jakarta. 

Sementara itu, Yono, Asisten Manajer Marketing Hotel Borobudur, Jakarta, yang ditemui di sebuah acara pameran pernikahan di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, mengatakan Hotel Borobudur sudah memiliki sistem daur ulang sampah, termasuk sampah makanan dan cangkang telur. Sampah makanan dari acara wedding sampai jenis acara lainnya, diolah menjadi satu, lalu dijadikan pupuk kompos. Pupuk tersebut selanjutnya, dipakai untuk tanaman di sekitar hotel. 

Yono juga menyayangkan ketika melihat makanan terbuang menjadi sampah makanan. Dia bahkan pernah melihat kantong sampah makanan sampai lebih dari 5 kantong. 

”Ada saja beberapa tamu yang datang dan menyendok makanan seenaknya. Kami bisa saja memberi note ‘ambil makanan secukupnya’, tapi catatan seperti ini harus sesuai keinginan dari mempelai pengantin. Kalau saya sarankan supaya enggak banyak makanan terbuang, pakai sistem gubuk makanan karena ada petugas yang nyendokin,” kata Yono, Sabtu, 5 September 2026. 

Dia menambahkan, banyak atau tidaknya sampah makanan, itu tergantung dari jumlah tamu undangan yang hadir. 

Dijumpai di acara serupa, Kholiq, Server atau Pramusaji di Hotel Sheraton, Jakarta, mengatakan sampah makanan di tempatnya bekerja bisa sampai 400-an kg/hari. Pada Sabtu-Minggu jumlah sampahnya bisa dua kali lipat. 

“Tapi kalau dalam satu kali event ada berapa banyak sampah makanannya - saya enggak tahu karena sampah makanan di hotel itu, digabung,” ujarnya. 

Menurut Kholiq, sampah makanan yang sering dilihatnya terbanyak adalah nasi, mulai dari nasi goreng, nasi putih dan nasi hainam. Sebagai pramusaji, Kholiq tak bisa melarang ketika tamu hotel mengambil banyak makanan karena dia bertugas melayani. Kendati begitu, dia menyayangkan saat melihat makanan terbuang. Dia pun pernah melihat sampah makanan sampai tujuh kantong plastik sampah. 

Sama seperti Yono, Kholiq menyebut banyaknya sampah makanan dalam sebuah pesta pernikahan tergantung pada jumlah tamu undangan. Kholiq pun menyarankan jika tidak mau banyak sampah makanan terbuang, mempelai pengantin bisa memesan ala carte karena setiap makanan yang disajikan ke tamu sudah dalam bentuk porsian di atas piring (tamu tidak bisa ambil sendiri). Untuk sistem ala carte ini, harganya bisa Rp1,8 juta/pack, dengan tujuh menu makanan. Bagi tamu yang ketinggalan acara, bisa dibungkus.

Kholiq menyebut pada setiap acara pernikahan ketika ada kelebihan porsi makanan layak konsumsi, maka makanan tersebut diserahkan pada mempelai pengantin. Kalau mereka tidak mau, akan diberikan pada Wedding Organizer karena staf Hotel tidak diperkenankan menerima makanan tersebut demi menjaga higienitas dan mengingat makanan tersebut sudah dibeli oleh sang pengantin.

Sama seperti Hotel Borobudur, di Hotel Sheraton, Jakarta, juga sudah memiliki sistem pengolahan sampah. Terbanyak adalah sampah organik. Namun Kholiq tidak bisa menjelaskan detail pengolahan sampah itu karena ada bagian khusus yang mengolahnya. 

Bicara soal sampah makanan, Udin, Pelayan di Melani Catering & Organizer, mengakui terkadang memang ada tamu di acara pernikahan yang mengambil makanan dalam porsi besar. Namun Udin mencoba memaklumi karena mungkin tamu tersebut memang makannya banyak. Ada pula tamu yang mengambil makanan porsi sedikit. 

Udin mengatakan di perusahaan catering tempatnya bekerja, belum ada sistem pengolahan sampah makanan. Biasanya, semua sampah dari sebuah acara pernikahan dijadikan satu. Satu kantong plastik sampah tidak hanya berisinya sampah makanan saja, tetapi ada juga campuran sampah styrofoam. 

Sementara itu, Independen.id juga mewawancarai Nisa, Staf Back Office dari Hora Wedding, sebuah perusahaan wedding planner dan wedding organizer. Nisa mengaku sering membuang makanan yang tak termakan karena rasanya kurang disukai. Namun untuk mengurangi rasa bersalah, dia acap meminta suaminya menghabiskan sisa makanan tersebut. 

”Saya inilah orang yang suka membuang makanan di acara pesta,” ujarnya sambil menutup wajahnya dengan map. “Sebab kadang makanan di pesta itu, rasanya kurang asin atau terlalu pedas. Sering enggak cocok sama makanan yang bukan masak sendiri. Jadi, suami biasanya yang jadi ’tong sampah’. Kalau suami sudah kenyang, mau gimana lagi, makanan jadi terbuang, tapi porsi yang saya ambil sedikit kok, karena saya tahu porsi saya seberapa,” ujar Nisa.

Sepanjang karirnya sebagai wedding planner dan organizer, Nisa mengaku belum pernah menerima permintaan dari kliennya agar di area makanan ditulis catatan ‘ambil makanan secukupnya’. 

Sisa dan Susut Pangan 

FAO Representative, Rajendra Aryal, mengingatkan isu food lost and waste atau sisa dan susut pangan (FLW) bukan permasalahan satu dimensi, yakni soal sampah. Tapi ada nutrisi yang terbuang dan local wisdom yang berbeda di setiap daerah.

 

.

Food lost adalah masalah yang fokus pada pasca-panen, proses distribusi hingga pengemasan makanan. Ketika makanan atau bahan pangan sudah ada di tangan retail dan konsumen, maka masalahnya adalah food waste atau sampah makanan.

Aryal dalam paparannya pada 27 Agustus 2026 mengungkap total food lost and waste dari seluruh dunia diperkirakan mencapai 1,3 miliar ton per tahun dengan nilai USD 1 triliun per tahun.   

Food lost and waste bukan hanya merugikan secara ekonomi, tapi juga merusak lingkungan. Data FAO mengungkap food lost and waste menghasil 8%-10% emisi gas rumah kaca secara global, yang sebagian besar dari jumlah itu berupa METANA. Ironisnya, meskipun banyak makanan terbuang, sebanyak 673 juta orang di dunia mengalami kekurangan gizi pada 2025.     

Sedangkan di Indonesia, FAO menyebut dampak food lost and waste telah menimbulkan kerugian Rp551 triliun per tahun atau setara dengan 4%-5% dari jumlah PDB Indonesia. Jumlah kerugian tersebut, sama dengan memberi makan pada 125 juta orang orang atau setara dengan 47% populasi Indonesia. 

Terkait dengan lingkungan, dampak sampah makanan telah menimbulkan 1.720,9 Mt CO2e atau setara dengan 7,29% emisi gas rumah kaca.   

Dalam acara Jakarta Food Waste Media Fellowship 2026: Memperkuat Peran Media dalam Mengarusutamakan Isu Susut dan Sisa Pangan di Indonesia, pada 27 Agustus 2026, di Jakarta, Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD (Indonesia Business Council for Sustainable Development), mengatakan masyarakat Indonesia perlu membicarakan persoalan food lost and waste (sisa dan susut pangan). Sebab menghargai pangan adalah bagian dari membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan ini pekerjaan bersama. 

Indah mengakui, masyarakat Indonesia lebih familiar dengan persoalan sampah secara umum ketimbang sampah makanan. Saat berjalan, lalu melihat timbunan sampah – menarik diliput untuk menjadi pemberitaan karena terpancing pertanyaan kenapa bisa ada timbunan sampah di situ. Berbeda dengan sampah makanan yang terlihatnya sedikit-sedikit. Misalnya, di kedai-kedai makanan, yang terlihat bukan seperti sebuah permasalahan. 

”Kami ingin masyarakat memahami siapa yang terdampak dan apa yang masih menjadi tantangan serta apa solusinya,” ujar Indah. 

Setali tiga uang dengan Indah, Agus Rusli, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH menyebut susut dan sisa pangan tidak bisa dianggap urusan dapur saja, tapi ini permasalahan bersama. 

.
Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD (Indonesia Business Council for Sustainable Development), saat memberikan paparan di hadapan jurnalis dalam acara Jakarta Food Waste Media Fellowship 2026: Memperkuat Peran Media dalam Mengarusutamakan Isu Susut dan Sisa Pangan di Indonesia, pada 27 Agustus 2026, di Jakarta. Sumber: dokumen IBCSD

Permasalahan sampah tidak akan berhasil jika masyarakat Indonesia tidak bisa mengatasi persoalan sampah makanan. Kementerian Lingkungan Hidup RI telah mensosialisasikan bahwa sampah makanan bisa dimanfaatkan untuk biogas, biodigester, hingga waste to energy sebagai pembangkit listrik. 

Sisa olahan dapur, bisa menghasilkan CH₄ salah satu faktor perusak ozone, yang dahsyatnya bisa 24 kali lebih kuat dari emisi buangan. Dengan begitu, jika masyarakat Indonesia bisa mengurangi sampah makanan, dampak lapisan ozone berlubang bisa berkurang pula. 

Terkait dengan sampah makanan di acara-acara pernikahan, Agus mengatakan makanan atau hidangan yang disajikan harus sesuai dengan jumlah tamu yang sudah diundang, jangan berlebihan. Jika perlu, buat catatan ”ambil makanan secukupnya”. 

Ketika terjadi kondisi, misalnya musim hujan dan banjir sehingga menyebabkan banyak tamu tak bisa hadir, maka panitia pernikahan harus bisa mempersiapkan countermeasure atau langkah penanggulangan. Contohnya, dengan memberikan kelebihan makanan pesta tersebut ke panti asuhan atau rumah singgah. 

”Saya yakin saat ada kegiatan pernikahan, dan sebagainya pasti makanannya habis. Cuma yang menjadi kekhawatiran adalah sisa makanan yang masuk ke sampah plastik dan tong sampah. Jadi, saya menganjurkan ambillah dibutuhkan saja dan batasi jumlahnya. Jangan lapar mata,” ujar Agus kepada independen.id, 27 Agustus 2026. 

Agus menekankan agar setiap orang bisa memperhitungkan kekuatan badannya ketika mengkonsumsi makanan supaya tidak terjadi food lost and waste. Dia mengakui memang perlu pembiasaan untuk menanyakan pada staf restoran seberapa besar seporsi makanan yang hendak dipesan agar mengurangi sampah makanan. Ini bukan perkara pelit, tetapi menghemat makanan supaya tidak menjadi food lost and waste. 

Data United Nation - Environment Program (UN-EP), mengungkap pada 2022 dunia membuang 1,05 miliar ton makanan. Ini berarti 19% dari makanan yang tersedia bagi konsumen terbuang sia-sia di tingkat ritel, restoran dan rumah tangga. 

Pada 2022, sektor rumah tangga di dunia menghasilkan 60% sampah makanan atau setara dengan 631 juta ton atau 79 kilogram makanan per kapita/tahun. Jumlah itu, juga setara dengan 1 miliar porsi makanan per hari secara global.  

UN-EP juga menemukan pemborosan makanan telah berkontribusi signifikan pada emisi metana sehingga berdampak buruk pada lingkungan. Pemborosan makanan merugikan perekonomian dunia USD 1 triliun per tahun. Di level global, FAO dan UN-EP telah saling bekerja sama mengatasi food lost and waste karena ini telah menjadi isu global.    

Mencegah Kemubaziran

Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), mengatakan setidaknya ada dua target utama Bapanas dalam mewujudkan SDGs. Pertama, membantu mencapai ketahanan pangan. Kedua, mendistribusikan pangan pada kelompok rentan. Target RPJM 2025-2029 Bapanas di antaranya menyelamatkan pangan 3-5% pertahunnya. 

Selama pangan itu aman dan layak, seharusnya tidak boleh disia-siakan atau harus ada upaya mencegah kemubaziran. Nita mengakui budaya orang Indonesia suka menyajikan makanan berlebih karena ingin memastikan semua orang kebagian makanan. Namun begitu, tetap harus ada regulasi yang kuat mengingat pangan harus dimanfaatkan untuk anak-cucu hingga di kemudian hari. 

“Di Semarang ada gerakan Garang Asem. Di Bekasi ada Gerakan Ali Topan. Di Bogor ada aksi Asinan Bogor. Gerakan penyelamatan pangan itu semua, untuk menunjukkan setiap orang punya peranan. Ada 280 juta jiwa populasi Indonesia, jadi setiap aksi yang dilakukan bisa menjadi bola salju,” ujar Nita, Kamis, 27 Agustus 2026.        

Untuk mencegah dan mengurangi susut dan sisa pangan, Nita mengatakan diperlukan aturan kuat. Selanjtunya, harus ada kolaborasi atau kerja sama antar pemangku kepentingan. Berikutnya, harus ada upaya membangun mindset yang lebih positif untuk tidak membuang-buang makanan. Contohnya, bijak mengkonsumsi pangan saat bulan ramadan. 

Terkait dengan sampah makanan di acara-acara pernikahan, Humas Bapanas kepada independen.id mengatakan Bapanas secara prinsip mendorong agar makanan tidak mubazir. Untuk itu, masyarakat diminta turut berperan aktif dalam penyelamatan pangan. Itu adalah langkah kecil yang bisa dilakukan masyarakat. 

Bapanas menganjurkan tamu undangan di suatu pesta pernikahan ketika hendak makan, sebaiknya mengambil porsi kecil terlebih dahulu menggunakan piring kecil. Jika makanan itu rasanya cocok di lidah, baru dimakan dalam porsi yang pas di perut. Ketimbang, lapar mata melihat makanan yang sepertinya enak, ternyata tidak dimakan dan ujungnya dibuang.

Bapanas juga akan terus mendorong agar praktik baik penyelamatan pangan, berkembang di masyarakat. Praktik baik itu, terkadang ada beberapa benturan budaya. Ada budaya yang meyakini, semakin banyak sisa makanan semakin berkah, tapi secara prinsip masyarakat harus bisa melihat sisa makanan itu mau diapakan. 

Dalam mengedukasi masyarakat, Bapanas menggunakan model penta helix  yakni kerja sama melibatkan sektor akademisi, pelaku bisnis, termasuk media. Bapanas juga melakukan edukasi lewat YouTube dan TikTok, untuk mengajak masyarakat stop boros pangan dan memanfaatkan pangan berlebihnya. Susut dan sisa pangan adalah suatu hal yang harus dibenahi bersama.

Bicara soal sisa dan susut pangan, Hasudungan A. Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, mengatakan sangat disayangkan ketika Pemda DKI Jakarta berusaha menghadapi tantangan dalam menyediakan pangan yang cukup, memberi kemudahan akses pangan dengan harga terjangkau, stabilitas harga pangan, menjamin mutu dan keamanan pangan, namun disisi lain ada pola boros pangan yakni orang yang merasa tidak bersalah saat membuang makanan.  

Dia menyebut untuk penanganan sampah makanan, Pemda DKI Jakarta di antaranya mengolahnya menjadi pupuk organik atau pakan margot. Ada pula upaya kerja sama dengan komunitas-komunitas yang concern dengan lingkungan. 

Ditanya soal sampah makanan dari acara-acara pernikahan, Hasudungan mengatakan belum ada data konkrit jumlah sampah makanan yang dikeluhkan para pengusaha catering (dari acara pernikahan). Tapi ini salah satu hal yang akan Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta atur dalam perda penyelenggaraan sistem pangan. 

”Jadi kami mungkin akan menggagas pergubnya dan nanti akan kami identifikasi berapa jumlah sisa pangan dari catering misalnya, yang bisa dimanfaatkan. Apabila sisa pangan itu masih layak konsumsi, kami sarankan dibagikan ke pihak yang membutuhkan. Sedangkan sisa pangan yang sudah tidak layak konsumsi, ini bisa diolah menjadi pupuk organik atau pangan magot,” kata Hasudungan kepada independen.id, Sabtu, 27 Agustus 2026 di Jakarta. 

Sebelumnya RPJMN 2025-2029 telah mencantumkan target persentase penyelamatan pangan sebesar 3-5% per tahun. Sedangkan untuk pengolahan sampah diatur dalam Perpres nomor 109 Tahun 2025 Tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. 

Sementara itu, Dudi Gardesi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, mengatakan acara-acara pernikahan umumnya bersifat weekly, yang biasanya diselenggarakan pada siang atau malam hari. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bukan hanya menangani sampah dari pesta-pesta pernikahan, tetapi juga acara carnival atau perayaan apapun di penjuru Jakarta. 

Dudi menyebut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menangani sekitar 9 ribu ton sampah per hari, di mana 7.800 ton dari jumlah tersebut ada di Bantar Gebang. Terkait permasalahan sampah ini, Dudi menegaskan semua pihak, termasuk pengusaha catering, agar tidak lepas tangan karena tetap harus ada usaha bersama - mau ke mana sampah-sampah ini. 

”Jangan semata-mata sampah dikumpulkan jadi satu dalam plastik sampah warna hitam lalu dibuang. Mereka harus melakukan pemilahan sampah atau ada tenaga profesional yang melakukan hal-hal yang memang diperlukan untuk mengurangi beban secara keseluruhan. Sebab usaha masing-masing pihak itu benar-benar sangat berarti. Sampah makanan bisa menyebabkan bau, ini image yang coba kami ubah,” ujar Dudi. 

Perihal jumlah makanan yang disajikan dalam acara-acara pernikahan, Dudi mengatakan adalah wajar setiap tuan rumah pasti tidak mau dibuat malu perkara makanan yang disuguhkan kurang. Namun di sisi lain, makanan berlebih juga harus dicarikan solusinya agar tidak terbuang sia-sia, misalnya dibagikan ke pihak yang berhak menerima karena ini bukan makanan basi. 

”Saran saya main aman saja. Kalau mengundang 1.000 orang, maka kita prediksi makanan untuk 1.000 orang juga. Walaupun kita tahu, mungkin ada tamu yang enggak datang,” ujar Dudi. 

Menurut Dudi, jika pasangan pengantin punya kekhawatiran terhadap lingkungan dan permasalahannya, baiknya tanyakan juga pada catering apakah mereka punya pihak-pihak yang akan dikontak jika terjadi kelebihan makanan, misalnya Bank Pangan.

Terkait dengan Bank Pangan, Morra Lovreza, Community and Operations Manager dari Scholar of Sustenance, angkat bicara. Scholar of Sustenance atau SOS adalah sebuah LSM yang menerima dan mendistribusikan ke pihak yang berhak, makanan ekstra atau lebih dari suatu acara yang masih layak dikonsumsi. 

Morra mengatakan di DKI Jakarta banyak potensi pangan yang terbuang, di antaranya dari manufacture. Padahal di luar sana, masih ada orang tidur dalam keadaan lapar. 

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2024 menemukan prevalensi stunting di DKI Jakarta berada pada angka 17,2%. Morra menyebut di wilayah Cilincing, Jakarta Utara, saja masih ada 73 anak stunting. Angka itu mungkin lebih tinggi dari jumlah di lapangan.

Riset mahasiswi di Universitas Komputer Indonesia, Wati Aris Astuti, yang dipublikasi di Indonesian Community Service and Empowerment Journal (IComSE) pada 2 Oktober 2025, menuliskan di Kelurahan Semper Barat saja, pada Mei 2025 jumlah balita stunting sedikitnya 124 anak. Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, termasuk wilayah dengan jumlah stunting cukup tinggi. Di Cilincing total ada tujuh kelurahan, salah satunya Semper Barat.   

Dampak dari balita yang stunting atau mengidap masalah gizi adalah badannya pendek dibanding anak normal seusianya. Penderita stunting juga akan mengalami keterlambatan dalam berfikir, termasuk dapat mengganggu perkembangan mental.     

Scholar of Sustenance biasanya mendapatkan food source dari restoran, hotel, retailer, farms, pabrik dan pasar tradisional. Tempat-tempat tersebut, biasanya mengalami kelebihan makanan dari sebuah pesta, produk yang nearly expired (maksimal 1 bulan menjelang expired), atau raw food material. 

Akan tetapi, sampai berita ini ditulis Scholar of Sustenance belum mendapatkan food source dari pengusaha catering di wilayah DKI Jakarta. Alasannya, makanan lebih layak konsumsi selalu habis. 

”Tapi kalau di Bali, kami ada kerja sama dengan pengusaha catering di sana dan itu jumlah makanan sisanya cukup besar. Kalau di Bali mungkin beda culture (dengan Jakarta), yang kadang suka ada makanan sisa layak konsumsi dari party, termasuk wedding,” ujar Morra. 

Sedangkan di Jakarta, kebiasaannya adalah makanan layak konsumsi dari sebuah acara akan dibungkus sendiri dan dibawa pulang. Sementara yang perlu disadarkan pula, apakah makanan yang dibawa pulang ini dihabiskan atau tidak. Sebab makanan yang dibawa pulang, tetapi tidak dikonsumsi berpotensi menjadi sampah makanan.

Morra meyakini rezeki pernikahan tidak ditentukan dari lebih atau kurangnya makanan yang disajikan pada tamu. Pasalnya, lebih atau kurangnya makanan dalam suatu pesta, tergantung pada kecermatan seseorang dalam mengkalkulasi jumlah tamu yang akan hadir dan porsi makanan yang disediakan catering.

Untuk mengurangi makanan berlebih dan sampah makanan dalam suatu pesta pernikahan, Morra menilai sistem gubuk-gubuk makanan cukup bagus karena kecenderungan orang Indonesia ke pesta perkawinan bukan numpang makan, tapi cuma mau mencicipi makanan, misalnya kambing guling atau bakso malang. Biasanya, kapasitas perut satu orang cukup mencicipi empat jenis makanan. 

Bukan hanya itu, menyediakan makanan di gubuk-gubuk pada pesta pernikahan, juga bisa mengurangi antrian pada makanan yang disajikan prasmanan. Kebiasaan membuang-buang makanan, apalagi membuang makanan layak konsumsi dalam plastik sampah hitam adalah hal yang menyedihkan.

Cara lain mengurangi sampah makanan yakni mempelai pengantin harus menghitung dengan cermat jumlah undangan. Sebab biasanya 30% dari jumlah undangan, tidak hadir. Dengan begitu, harus ada siasat cara mengatasi jika terjadi kelebihan pangan atau hanya menyiapkan 5%-10% makanan ekstra untuk mengantisipasi kekurangan pasokan makanan pesta. 

Bisa pula, mempelai pengantin menuliskan terang-terangan di undangan bahwa jumlah tamu maksimal yang datang 2 orang. Masyarakat Indonesia harus bersama-sama melakukan upaya mengurangi sampah, termasuk mengurangi sampah makanan di acara pernikahan. Caranya, bisa dimulai dari merubah pola konsumsi dengan mengambil makanan secukupnya.

Dalam acara pernikahan Laily di Gedung Pegadaian, Jakarta Pusat, yang digelar selama 2,5 jam, pantauan independen.id menemukan pada akhir pesta pernikahan area prasmanan bersih dari makanan sisa. Sedangkan untuk sampah makanan, sulit menentukan banyak/sedikitnya karena sampah makanan dicampur dengan jenis sampah lain oleh petugas, seperti sampah gelas air mineral, piring kertas dan tissue. 

Laily mengundang sekitar 500 tamu undangan dalam pernikahannya. Beberapa tamu menyatakan atau tidak tersinggung dengan tulisan berbunyi ‘jangan mubazir makanan’ di area makanan dalam pesta itu. 

Seorang tamu yang enggan dipublikasi identitasnya mengatakan orang dewasa akan lebih mudah mengendalikan diri untuk tidak menyia-nyiakan makanan, namun sulit halnya dengan anak-anak. Mereka akan gembira ketika melihat makanan yang tampak lezat, tetapi ketika dicicipi rasanya kurang pas di lidah. Dalam kejadian seperti ini, ada orang tua yang bisa menghabiskan sisa makanan, namun ada juga yang tidak menghabiskannya dan terbuang karena perut sudah kenyang.

Secara keseluruhan, upaya Laily mengimbau para tamu undang untuk tidak mubazir makanan di pesta pernikahannya patut diapresiasi. Setidaknya, ini satu di antara banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyelamatkan pangan dari kesia-siaan.

===

Liputan ini didukung oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui program "Jakarta Food Waste Media Fellowship" dalam mengampanyekan isu susut dan sisa pangan.

kali dilihat