Oleh Redaksi Independen
INDEPENDEN — "Sebagai pengelola olahraga paling populer di dunia, FIFA memikul tanggung jawab yang sangat besar. Namun FIFA justru menunjukkan titik buta yang fatal terhadap krisis iklim dalam tanggung jawabnya melindungi penggemar, pemain, dan masa depan sepak bola.”
Demikian kesimpulan yang diambil dari laporan terbaru berjudul FIFA's Climate Blind Spot: The Men's World Cup in a Warming World yang diterbitkan New Weather Institute bersama sejumlah organisasi lingkungan dan ilmuwan iklim.
Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang diperkirakan menjadi turnamen paling mencemari iklim dalam sejarah sepak bola dunia. Temuan itu terungkap dalam laporan tersebut.
Para periset menilai FIFA memiliki "titik buta iklim" dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia. Alih-alih mengurangi dampak lingkungan, sejumlah keputusan FIFA justru dinilai memperbesar emisi gas rumah kaca, mulai dari ekspansi jumlah peserta hingga kerja sama dengan perusahaan bahan bakar fosil.
Freddie Daley, salah satu penulis laporan dan peneliti iklim, mengatakan ekspansi turnamen menjadi 48 tim membuat jejak karbon kompetisi meningkat tajam.
"Alih-alih menghadapi ancaman eksistensial yang ditimbulkan perubahan iklim terhadap sepak bola, FIFA justru menambah bahan bakar ke dalam api," kata Daley dalam peluncuran laporan tersebut baru-baru ini.
Menurut penelitian itu, perluasan peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim mulai 2026 akan menyebabkan lonjakan besar emisi karbon, terutama dari sektor transportasi udara. Emisi penerbangan diperkirakan meningkat antara 160 hingga 325 persen dibandingkan rata-rata turnamen Piala Dunia sebelumnya.
Peneliti memperkirakan Piala Dunia 2026 akan menghasilkan sedikitnya 9,02 juta ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e), hampir dua kali lipat rata-rata emisi empat Piala Dunia sebelumnya yang berada di angka 4,71 juta ton tCO2e.
“Penyelenggaraan yang semakin besar dan bergantung pada penerbangan jarak jauh sulit mengendalikan emisi di tengah krisis iklim global,” kata Daley lagi.
Emisi Piala Dunia Diperkirakan Terus Meningkat
Laporan tersebut juga membandingkan proyeksi emisi untuk tiga turnamen mendatang.

Menurut laporan itu, emisi Piala Dunia 2026 meningkat sekitar 92 persen dibanding rata-rata turnamen sebelumnya. Sementara Piala Dunia 2030 diperkirakan menghasilkan 6,09 juta ton tCO2e dan Piala Dunia 2034 di Arab Saudi mencapai 8,55 juta ton tCO2e.
Bahkan, jika dampak pemanasan global dari penerbangan dihitung lebih luas berdasarkan penelitian akademik terbaru, total emisi dapat meningkat 40 hingga 70 persen di atas estimasi dasar. Dalam skenario tersebut, emisi Piala Dunia 2026 bisa mencapai 15 juta ton tCO2e.
Sponsor Migas Dinilai Menambah Dampak Iklim
Selain emisi penyelenggaraan turnamen, laporan tersebut juga menyoroti kerja sama FIFA dengan perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco.
Peneliti memperkirakan kemitraan FIFA-Aramco untuk Piala Dunia 2026 dapat memicu tambahan emisi sekitar 30 juta ton tCO2e melalui peningkatan penjualan dan promosi perusahaan bahan bakar fosil tersebut.
Laporan menyebut kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di sektor bahan bakar fosil bertentangan dengan komitmen iklim yang sebelumnya pernah diumumkan FIFA.
Laporan juga mengangkat risiko keselamatan akibat perubahan iklim pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Penilaian risiko iklim yang dilakukan Environmental Defense Fund terhadap 16 stadion penyelenggara menemukan bahwa delapan stadion membutuhkan intervensi lingkungan segera. Dari jumlah tersebut, empat stadion dinilai memerlukan tindakan kritis untuk mengurangi risiko terhadap pemain dan penonton.
Sebanyak enam stadion juga menghadapi risiko stres panas ekstrem dengan tingkat Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) di atas ambang batas keselamatan FIFA. Penelitian lain yang dikutip dalam laporan menunjukkan sejumlah lokasi pertandingan berpotensi mengalami suhu yang membahayakan kesehatan atlet dan penonton selama musim panas Amerika Utara.
Riset itu mencatat bahwa pengalaman panas ekstrem sebenarnya sudah terlihat pada sejumlah pertandingan yang digelar FIFA di stadion-stadion yang juga akan digunakan pada Piala Dunia 2026. Suhu di beberapa lokasi bahkan dilaporkan mencapai 41 derajat Celsius.
Periset menilai FIFA perlu mengambil langkah lebih serius untuk membatasi emisi, mempertimbangkan dampak iklim dalam penunjukan tuan rumah, serta menghentikan ketergantungan pada sponsor dari industri bahan bakar fosil. Mereka juga mendorong penerapan standar iklim yang lebih ketat dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola internasional.
Mereka menekankan krisis iklim tidak lagi menjadi ancaman masa depan bagi sepak bola, melainkan telah menjadi risiko nyata bagi keselamatan pemain, penonton, dan keberlanjutan olahraga paling populer di dunia itu.