Oleh Suci Sekar
INDEPENDEN—Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari sudah terasa menyengat di Jakarta. Di sebuah ruas jalan utama, kendaraan terus berlalu-lalang, meninggalkan asap knalpot dan debu yang beterbangan.
Untuk Lilis Handayani, 44 tahun, pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari. Sebagai karyawati yang bekerja di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, ia rutin menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke kantor. Masker menjadi perlengkapan yang tak pernah dilupakannya.

Bukan hanya untuk melindungi diri dari asap knalpot dan debu. Lilis juga seorang caregiver bagi suaminya yang menderita gagal ginjal. Karena itu, kebersihan dan kesehatan menjadi sesuatu yang selalu ia prioritaskan.
Namun, tidak semua orang memiliki kekhawatiran yang sama. Dwi Wulandari, 49 tahun, misalnya. Wartawati yang setiap hari pulang-pergi menggunakan KRL rute Bogor-Jakarta, justru mengaku tidak nyaman memakai masker.
“Risih,” ujarnya.
Untuk melindungi kulit dari paparan matahari selama beraktivitas di luar rumah, Dwi lebih memilih menggunakan sunblock. Ia tidak terlalu khawatir kulitnya menjadi hitam. Yang justru ditakutinya adalah kanker kulit.
Sementara itu, Fanny Faisal, 55 tahun, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha laundry dari rumah, merasa polusi udara bukan ancaman yang terlalu dekat dengannya. Ia jarang bepergian sehingga menganggap paparan polusi terhadap dirinya relatif kecil.
Yang membuat Fanny lebih khawatir justru debu yang menempel pada pakaian pelanggan.
Usaha laundry miliknya berada persis di depan jalan utama. Debu yang masuk bisa membuat pakaian yang sudah dicuci kembali kotor.
“Sekarang ini baru jam 10 pagi cuaca sudah sangat panas. Meski begitu saya jarang menyalakan kipas angin. Takut ‘mengundang’ semakin banyak debu, nanti baju-baju pelanggan bisa berdebu,” kata Fanny.
Kisah Lilis, Dwi, dan Fanny menunjukkan bagaimana masyarakat perkotaan beradaptasi dengan udara yang tercemar. Ada yang memilih menggunakan masker, ada yang merasa cukup dengan sunblock, sementara yang lain lebih sibuk memikirkan debu yang mengotori pakaian.
Namun, di balik kebiasaan sehari-hari itu, ada ancaman yang tidak selalu terasa. Ancaman fatal lain yang tidak disadari akibat polusi udara.
Riset International Council on Clean Transportation (ICCT) Global Health Study yang dilakukan di lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan mengungkap fenomena yang mengerikan.
Dalam riset yang dipaparkan kepada publik pada Selasa, 4 Agustus 2026, emisi yang dihasilkan dari transportasi darat disebut menyebabkan satu kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit.
Kematian dini adalah kematian yang terjadi sebelum seseorang mencapai usia harapan hidup. Dengan kata lain, seseorang dapat meninggal pada usia 30-an atau 40-an akibat berbagai faktor yang sebenarnya masih bisa dicegah.
Menurut riset tersebut, kematian dini akibat polusi transportasi dapat ditekan hingga 20 persen apabila dilakukan langkah-langkah pencegahan terhadap polusi udara.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan polusi udara bukan sekadar perkara langit Jakarta yang tampak kelabu atau debu yang menempel di pakaian. Angka itu berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan manusia.
Budi Haryanto, guru besar dan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengatakan polusi udara masih menjadi salah satu faktor risiko penting dalam peningkatan beban penyakit, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
Manusia, kata dia, tidak memiliki banyak pilihan ketika bernapas.
“Tanpa punya pilihan, manusia menyedot apa pun yang ada di udara termasuk logam berat,” ujarnya.

Data WHO menunjukkan pada 2023 terdapat 7,9 juta kematian di dunia yang terkait dengan polusi udara, atau sekitar satu dari delapan kematian di dunia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 4,9 juta orang meninggal akibat paparan ambient PM2.5, sementara 2,8 juta orang meninggal akibat polusi udara rumah tangga dan sekitar 470 ribu orang wafat akibat dampak ozone.
WHO sebelumnya telah memperingatkan bahwa polusi udara akan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia.
Udara tercemar dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru. Pada anak-anak, paparan polusi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker, penyakit jantung hingga stroke. Sistem imun anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai polutan.
Budi menjelaskan manusia dalam kondisi normal dapat bernapas sekitar sekali setiap tiga detik atau sekitar 20 kali dalam satu menit. Saat berolahraga, frekuensi pernapasan bisa meningkat hingga 20 kali lipat.
Artinya, semakin banyak udara yang masuk ke dalam tubuh.
“Polusi udara dengan berbagai polutan, seperti gas, logam berat, sulfur, debu—kita hirup,” kata Budi dalam media briefing yang digelar ICCT.
Paru-paru Tak Bisa Memilih
Tubuh manusia tidak bisa memilih udara mana yang akan masuk ke paru-paru.
Budi menggambarkan perbedaan kualitas udara yang dihirup seseorang ketika berada di kawasan hutan Universitas Indonesia dengan orang yang sehari-hari berada di sekitar pabrik semen.
Udara di kawasan hutan lebih banyak mengandung unsur-unsur biologis. Sementara di sekitar pabrik semen, udara dapat dipenuhi polutan dari aktivitas industri.
Namun, pencemaran udara tidak sesederhana membedakan satu kawasan dengan kawasan lainnya. Arah angin ikut menentukan bagaimana polutan bergerak. Polutan dapat bercampur dalam pusaran angin dan kemudian terbawa ke berbagai tempat sebelum akhirnya masuk melalui hidung manusia.
Itulah sebabnya Budi menyebut polusi udara sebagai silent killer.
Manusia tidak selalu bisa merasakan ketika tubuhnya sedang terpapar udara yang tercemar. Tidak ada rasa sakit yang muncul seketika ketika seseorang menghirup udara mengandung polutan. Gejala baru dirasakan ketika penyakit sudah berkembang.
Seseorang mungkin merasa ada sesuatu yang tidak normal dalam tubuhnya. Ketika kemudian memeriksakan diri ke dokter, penyakit yang ditemukan sudah berada pada stadium tiga atau bahkan stadium empat, seperti kanker atau gagal ginjal.
Frekuensi penyakit pernapasan, kata Budi, umumnya lebih tinggi di wilayah dengan tingkat polusi tinggi dibandingkan dengan wilayah yang tingkat polusinya rendah.
Perbedaannya bahkan dapat dirasakan ketika seseorang berpindah dari kawasan dengan udara tercemar ke tempat dengan udara lebih bersih, seperti kawasan puncak gunung.
Ancaman polusi udara juga tidak berhenti di paru-paru.
Polutan udara memiliki kaitan dengan gangguan saraf dan susunan saraf pusat. Paparan zat kimia tertentu yang mencapai sistem saraf pusat tidak serta-merta menyebabkan demensia, tetapi dapat mengarah pada berbagai gangguan otak.
Di antaranya stroke, penurunan kecerdasan, penurunan kemampuan berpikir hingga Alzheimer. Salah satu contoh yang dikemukakan Budi adalah paparan timbal.
Ketika timbal diteliti, terdapat kaitan antara paparan zat tersebut dengan penurunan IQ.
“Dampaknya bisa dilihat pada rapor anak, nilai ujian enggak tinggi atau prestasi belajarnya tidak unggul,” kata Budi.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap paparan polusi udara. Dampak jangka panjang pencemaran udara terhadap fungsi paru, menurut Budi, salah satunya dapat dipantau melalui pemeriksaan menggunakan spirometer di Puskesmas.
Ironisnya, rumah yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung juga tidak otomatis bebas dari polusi.
Budi menyebut 38 persen ibu-ibu yang banyak beraktivitas di dalam rumah berpotensi mengalami gangguan fungsi paru.
Artinya, polusi udara tidak selalu bisa dihindari hanya dengan tinggal di dalam rumah. Bahkan berada di dalam mobil pun tidak sepenuhnya membuat seseorang terbebas dari paparan polutan.
Lalu, apakah masker benar-benar dapat melindungi tubuh dari polusi udara ketika seseorang harus beraktivitas di luar?
Budi mengatakan masker memiliki fungsi penting dalam menyaring polutan.
Sejumlah dokter ahli respiratori melihat masker umum yang banyak dijual di pasaran dapat memberikan perlindungan hingga sekitar 50 persen. Sementara masker tipe N95 memiliki efektivitas perlindungan yang dapat mencapai 90 persen.
BBM Menjadi Beban Kesehatan
Persoalan polusi udara tidak dapat dilepaskan dari tingginya penggunaan bahan bakar fosil.
Budi menyoroti masih tingginya penggunaan BBM pada kendaraan. Ia menyebut 92 persen warga Indonesia menggunakan Pertalite, yang menurutnya berada di bawah standar kesehatan Euro 4.
Karena itu, menurut Budi, Indonesia membutuhkan intervensi yang masif, revolusioner, dan dilakukan secara bersama-sama untuk mengatasi persoalan polusi udara.
“Manusia bernapas di tempat-tempat polutan. Dari minggu ke bulan dan tahun ke tahun, sudah banyak orang yang pingsan. Penyakit yang masuk lewat hidung ada 60 persen, tapi pengendalian polusi udaranya masih jalan di tempat,” kata Budi.

Kendaraan berbahan bakar fosil merupakan salah satu sumber pencemaran udara. Di saat yang sama, Indonesia masih menggelontorkan subsidi bahan bakar fosil lebih dari Rp200 triliun per tahun.
Subsidi tersebut digunakan untuk menopang konsumsi BBM, termasuk sektor transportasi yang menghasilkan emisi dan pada akhirnya berkontribusi terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Beban subsidi ini diperkirakan terus meningkat. Pada 2045, beban subsidi BBM diproyeksikan meningkat, bahkan mendekati Rp700 triliun pada 2060.
Di tengah persoalan tersebut, ICCT melihat ada sejumlah pilihan kebijakan, mulai dari subsidi kendaraan hingga uji emisi. Namun, peralihan ke kendaraan listrik dinilai menjadi opsi yang paling efektif untuk menekan biaya subsidi BBM sekaligus mengurangi dampak pencemaran udara dan beban kesehatan.
Aditya Mahalana, Peneliti Senior ICCT, mengatakan penjualan kendaraan listrik di Indonesia sebenarnya menunjukkan perkembangan cukup baik.
Secara statistik penjualan, kendaraan listrik mungkin sudah mendekati atau bahkan lebih dari 20 persen pada kuartal pertama 2026.
Namun angka penjualan tidak otomatis berarti jumlah kendaraan listrik di jalan sudah besar.
Jika dihitung berdasarkan keseluruhan populasi kendaraan, jumlah kendaraan listrik di Indonesia masih sekitar 1 persen. Artinya, dampaknya terhadap lingkungan saat ini belum signifikan.
Persoalannya bahkan lebih besar pada sepeda motor.
“Sepeda motor lebih parah lagi, jumlah motor listrik mungkin 0,01 persen sehingga ini menjadi pekerjaan rumah ke depan,” kata Aditya dalam media briefing ICCT di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Karena itu, peralihan menuju kendaraan listrik tidak cukup hanya menyasar kendaraan pribadi. Transportasi publik juga harus menjadi bagian penting dari transisi tersebut.
Aditya menilai penggunaan kendaraan listrik untuk transportasi umum harus terus didorong, termasuk penyediaan bus listrik beserta fasilitas pool-nya.
Indonesia, menurut ICCT, sedang menghadapi krisis multidimensi. Krisis iklim berkaitan erat dengan persoalan ekonomi dan pembangunan.
Peralihan ke kendaraan listrik dinilai sebagai salah satu solusi yang paling mendekati kondisi ideal untuk mencapai target net zero emission pada 2060, sekaligus mengurangi dampak kesehatan dari kendaraan berbahan bakar fosil.

Jakarta Mulai Berbenah
Jakarta menjadi salah satu kota yang menghadapi langsung persoalan tersebut.
Sebagai ibu kota negara, DKI Jakarta perlahan mulai berbenah dengan meremajakan armada transportasi publik, termasuk melalui penggunaan bus listrik TransJakarta.
Hendry Sampurna, Kepala Seksi Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, mengatakan saat ini sudah terdapat 116 unit bus listrik TransJakarta yang beroperasi. Pemprov DKI menargetkan pada 2027 sekitar 50 persen armada TransJakarta sudah menggunakan bus listrik.
Target jangka panjangnya lebih ambisius: 100 persen transportasi umum di seluruh Jakarta berbasis listrik atau zero-emission. Pekerjaan rumahnya memang besar. Saat ini jumlah bus TransJakarta non-listrik masih sekitar 4.000 unit.
Selain memperluas penggunaan kendaraan listrik, Pemprov DKI juga melakukan uji emisi secara berkala untuk mengurangi polusi dari sumber bergerak. Dinas Perhubungan DKI mencatat ribuan kendaraan lulus uji emisi setiap bulan.
“Pemprov DKI terus berupaya melakukan perbaikan sektor transportasi menuju rendah emisi. Ada sejumlah upaya yang sudah dilaksanakan seperti membuat kawasan rendah emisi, contohnya di tempat wisata Kota Tua,” kata Hendry.
Menurut dia, seluruh upaya tersebut pada akhirnya ditujukan untuk memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat.
Salah satu contoh adalah kawasan rendah emisi Kota Tua.
Sejak uji coba kawasan rendah emisi diberlakukan pada Februari 2021 hingga 2026, emisi di kawasan tersebut disebut telah turun 30 persen.
Di zona ini, kendaraan dengan emisi tinggi dibatasi agar udara lebih bersih dan ruang publik menjadi lebih nyaman.
Transportasi publik di sekitar Kota Tua juga dibuat saling terintegrasi, dilengkapi konsep micro-mobility untuk mendukung mobilitas warga.
Upaya memperbaiki kualitas udara Jakarta tidak berhenti pada bus listrik dan kawasan rendah emisi.
Dishub DKI menerapkan berbagai strategi lain, antara lain memberikan insentif parkir bagi kendaraan rendah emisi, melanjutkan kebijakan ganjil-genap, serta terus mengembangkan transportasi publik.
MRT, misalnya, kini telah tersedia dari Bundaran HI hingga Kota.
Kawasan Blok M juga direncanakan dikembangkan menjadi pusat transit.
Untuk memperluas ruang bagi mobilitas rendah emisi, pemerintah daerah secara bertahap memperlebar trotoar. Teknologi juga mulai digunakan untuk mendukung rekayasa lalu lintas melalui kecerdasan buatan atau AI.
“Semua strategi itu dilakukan karena kami ingin mewujudkan udara bersih,” ujar Hendry.
Namun jalan menuju udara bersih tidak selalu mulus.
Salah satu tantangannya terlihat pada jalur khusus sepeda di kawasan Thamrin-Sudirman. Jalur tersebut masih sering diserobot kendaraan. Karena jumlah pengguna sepeda belum banyak, muncul rencana untuk mengalihfungsikannya menjadi area pejalan kaki.
Namun, rencana itu masih dalam tahap pertimbangan.
Hendry menegaskan bahwa imbauan kepada warga Jakarta untuk memprioritaskan transportasi umum bukan berarti pemerintah melarang masyarakat membeli kendaraan pribadi.
Tujuannya adalah mengubah pola mobilitas kota agar kualitas udara membaik.
“Kami butuh komitmen politik yang kuat. Ganti pemimpin, pasti ganti kebijakan. Harus ada engagement dari pemerintah daerah, pemerintah pusat dan masyarakat,” kata Hendry.
Di luar berbagai kebijakan tersebut, data kualitas udara Jakarta masih menunjukkan pekerjaan rumah yang besar.
Tempo mewartakan langit Jakarta diselimuti polusi. Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir pada 15 Juli 2026 pukul 18.00 WIB, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan indeks kualitas udara atau AQI 112.
Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat 40 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

PM2.5 menjadi salah satu polutan utama karena ukurannya sangat kecil dan dapat menembus saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Kelompok yang paling berisiko mengalami dampak kesehatan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskuler.
Situasi yang lebih buruk dilaporkan ANTARA pada Juni 2026. Saat itu, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dan menempatkan ibu kota pada peringkat kedua kota dengan udara terburuk di dunia.
AQI Jakarta berada di angka 174, sementara konsentrasi PM2.5 mencapai 80 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. Paparan seperti itu dapat menimbulkan dampak negatif bagi manusia maupun hewan yang sensitif, bahkan berpotensi merusak tumbuhan dan nilai estetika kota.
IQAir kemudian mengimbau warga Jakarta menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Jika harus keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker dan menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.
Polusi udara bukan hanya cerita tentang Jakarta yang panas, langit yang kelabu atau debu yang menempel pada pakaian pelanggan Fanny. Bukan pula sekadar tentang Lilis yang memilih memakai masker atau Dwi yang merasa risih mengenakannya.
Polusi udara adalah persoalan yang masuk bersama setiap tarikan napas.
Ia bisa berada di jalan ketika Lilis mengendarai motor. Bisa menemani Dwi dalam perjalanan KRL dari Bogor menuju Jakarta. Bisa pula menyusup ke rumah Fanny dan menempel pada pakaian yang sedang ia cuci.
Bahkan ketika seseorang memilih tetap berada di dalam rumah, polusi tidak selalu berhenti di luar pintu. Itulah yang membuat polusi udara berbeda dari banyak ancaman kesehatan lain.