Penulis: Ramadhan Wibisono
Independen.id -- Antusiasme tampak pada wajah puluhan anggota Marching Band Istiqlal saat mengikuti sosialisasi antisipasi dampak buruk media sosial. Sosialisasi yang berlangsung di selasar Masjid Istiqlal Jakarta ini digagas oleh Tim Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi S1 Fakultas Komunikasi dan Desain Universitas Pamulang (UNPAM) Banten pada pertengahan Oktober lalu (18/10/2026).
Salah satu peserta, Manshur Naif Al’as mengaku senang mengikuti sosialisasi dari dosen UNPAM karena menerima informasi baru tentang dampak buruk media sosial. “Kita senang terima ilmu baru dari dosen UNPAM. Kita dianjurkan tidak boleh terlalu sering menggunakan media sosial karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental dan perilaku,” ujar Manshur.
Pelajar Kelas 8 SMP di Jakarta Barat ini juga antusias begitu diajak harus bijak menggunakan media sosial. “Kita ikut dianjurkan selektif menggunakan media sosial harus cek ricek jangan asal terima dan jangan asal nyebar informasi untuk mencegah penyebaran hoaks atau berita bohong,” tutur Manshur yang meraih Juara 1 Individual Solo Percussion dalam Festival Olahraga Rakyat Jakarta 2026.
Pendapat serupa disampaikan peserta lain bernama Fathan. Siswa Kelas 8 Madrasah Tsanawiyah di Jakarta Timur ini tertarik menerima pengetahuan baru seputar FOMO (fear of missing out) di media sosial. Fathan turut sepakat penggunaan media sosial harus bijak dan jangan terlalu lama menggunakannya karena bisa berdampak buruk bagi pelajar. “Kita tidak boleh terlalu lama memakai media sosial karena bisa menghilangkan fokus atau konsentrasi belajar jadi sebaiknya dibatasi durasi atau lama waktu penggunaannya. Kita pun harus bijak memanfaatkan media sosial untuk mencegah penyebaran hoaks,” kata Fathan.

Salah satu Ketua Tim Dosen, Dr. Surti Wardani, S.Sos., M.Si., mengungkapkan sosialisasi kepada anggota Marching Band Istiqlal merupakan skema pengabdian kepada masyarakat (PKM) sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kita memberikan dampak dari sisi akademis kepada masyarakat melalui pengabdian. Target kita di semester ganjil ini adalah komunitas atau organisasi. Kebetulan mayoritas anggota komunitas Marching Band Istiqlal adalah pelajar SMP dan SMA,” ujar Surti.
Dalam pengabdian masyarakat bersama anggota Marching Band Istiqlal, tidak hanya dibahas dampak buruk media sosial tapi ada pula sosialisasi komunikasi bisnis melalui organisasi atau komunitas. Marching Band Istiqlal sering mengikuti lomba membawa nama wilayah bahkan meraih prestasi jadi turut dibahas bagaimana melakukan komunikasi bisnis pada organisasi atau komunitas yang sering mewakili wilayahnya hingga gencar promosi melalui media sosial. Tim Dosen Pengabdi juga menyiapkan etika dan literasi penggunaan media sosial.
Media sosial ibarat pisau bermata dua. Satu sisi media sosial membuat hidup jadi lebih seru karena penggunanya saling terkoneksi dan dipermudah menerima informasi. Namun, sisi lainnya berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan mental dan perilaku.
Mengutip teori kultivasi George Gerbner, praktisi komunikasi sekaligus jurnalis kelahiran Hongaria, paparan media sosial yang berulang dalam jangka panjang bisa membentuk persepsi realitas audiens. Artinya, bila seseorang melihat hal yang sama terus menerus di media sosial maka berpotensi membentuk persepsi hal itu sebagai kebenaran di dunia nyata. Misalnya, bila seseorag sering melihat gaya hidup mewah ataupun aksi kekerasan di media sosial maka berpotensi realitas gaya mewah ataupun aksi kekerasan sebagai pembenaran di dunia nyata.
Menyikapi masalah tersebut, Tim Dosen Pengabdi mengingatkan peserta tentang etika dan literasi penggunaan media sosial termasuk upaya mengantisipasi dampak negatif menggunakan media sosial. Salah satu solusinya dengan pembatasan durasi penggunaan media sosial. Jadi, peserta mendapatkan tugas tantangan membatasi pemakaian media sosial maksimal 30 menit sehari dilakukan selama tiga hari sampai sepekan.
Pengurus Marching Band Istiqlal Jakarta, Syamsul Akmal, menyambut baik pengabdian masyarakat oleh Tim Dosen Pengabdi dari UNPAM. Kegiatan tersebut menjadi warna baru bagi seluruh anggota Marching Band Istiqlal karena mereka biasanya hanya rutin berlatih marching band. “Sangat menarik apalagi mayoritas anggota marching band istiqlal adalah remaja terlebih materi yang disampaikan terkait media sosial. Kita dukung enam dosen Unpam melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan sosialisasi antisipasi dampak negatif media sosial ke peserta”, ujar Syamsul.
Director of Marching Band Istiqlal ini juga tertarik dengan tantangan digital detox (puasa media sosial) yang diberikan kepada anggota Marching Band Istiqlal. Menurutnya, imbauan dari dosen UNPAM sangat bagus terkait detox media sosial dengan membatasi waktu atau durasi penggunaan media sosial. Langkah ini sebagai upaya anggota marching band mengantisipasi dampak negatif penggunaan media sosial. Salah satunya mencegah hilangnya fokus maupun konsentrasi belajar akibat penggunaan media sosial berlebihan. “Kita berharap kegiatan serupa bisa berkelanjutan apalagi peserta diberikan tugas praktik implementasi cegah dampak negatif media sosial melalui detox media sosial dengan menonaktfkan penggunaan media sosial maksimal 30 menit sehari apa yang dirasakan dan apa dampaknya,” tutur Syamsul.
Dalam paparannya, pemateri Agung Wibisono, S.I.Kom., M.I.Kom., menyampaikan beberapa dampak negatif penggunaan media sosial berlebihan bagi remaja, di antaranya: mudah terpengaruh ikut-ikutan tren berbahaya hanya demi mendapatkan likes terbanyak, cepat stres akibat cyberbullying melalui komentar negatif di media sosial hingga merasa cemas atau sedih saat tidak diajak teman-teman berkumpul via media sosial yang disebut FOMO (fear of missing out). Belum lagi terpengaruh gaya hidup konsumtif (gampang boros) karena sering melihat influencer pamer barang bagus di media sosial. Bahkan, dampak paling parah saat usia pelajar adalah menurunnya konsentrasi belajar dan sulit membedakan antara info valid ataupun hoaks karena sering terpapar media sosial.
Sejumlah solusi disampaikan untuk mengantisipasi dampak buruk media sosial, di antaranya: biasakan memilih konten positif pada media sosial kemudian tegas menolak konten negatif, mematikan notifikasi tidak penting agar tidak tergiur terus menerus cek media sosial, serta batasi waktu atau durasi agar tidak terlau sering menggunakan media sosial dalam sehari lalu mengerjakan hobi ataupun aktivitas pengganti saat membatasi penggunaan media sosial.

Bahkan pada akhir paparan, peserta diberikan tugas tantangan digital detox yang akan dicek sepekan berikutnya saat pertemuan lanjutan. Jadi tiap peserta wajib memilih salah satu aplikasi media sosial yang sering digunakan kemudian harus membatasi penggunannya maksimal 30 menit per hari selama tiga hari hingga seminggu. Selanjutnya peserta mencatat pengalamannya dalam jurnal harian berisi apa yang dirasakan secara fisik maupun emosional saat membatasi penggunaan aplikasi media sosial serta menjelaskan hobi atau aktivitas pengganti untuk mengisi waktu luang saat tidak menggunakan media sosial.