Rumah Singgah Antar Iman di Tengah Muktamar NU

Oleh Sindu Dharmawan

INDEPENDEN.ID — Rp15 juta per minggu. Itu harga sewa rumah yang disebut mulai berlaku di Jombang menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Hotel penuh, rumah sewa makin mahal, sementara ribuan Nahdliyin terus berdatangan.

Di tengah situasi itu, sejumlah gereja di Jombang memilih membuka pintu. Mereka menyediakan rumah singgah gratis bagi peserta muktamar—sebuah inisiatif yang bermula dari obrolan lintas iman di warung kopi, lalu berubah menjadi praktik sederhana tentang toleransi: ketika rumah ibadah menjadi rumah bagi siapa saja yang membutuhkan.

Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, lokasi Muktamar ke-35 NU, Rabu, 19 Agustus 2026. (Foto Sindu)
Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, lokasi Muktamar ke-35 NU, Rabu, 19 Agustus 2026. (Foto Sindu)

 

Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Panitia menyiapkan sekitar 3.300 kamar untuk peserta. Namun, jumlah itu belum mampu menampung seluruh Nahdliyin yang datang ke Jombang.

Kondisi tersebut membuat sebagian peserta mencari alternatif, mulai dari indekos, rumah sewa hingga hotel di sekitar lokasi muktamar. Namun, menjelang pembukaan, sebagian besar penginapan telah penuh.

Situasi ini pula yang menjadi perhatian sejumlah komunitas gereja di Jombang. GKI Jombang, GKJW Jombang, dan Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) Jombang kemudian menyediakan tempat singgah bagi warga NU dan mereka yang terlibat dalam muktamar.

Menurut mereka menyediakan tempat menginap bukan semata soal membantu mengatasi keterbatasan akomodasi. Ada pesan yang jauh lebih besar: bahwa toleransi bisa dipraktikkan melalui tindakan sederhana—membuka pintu, menyediakan ruang, dan menyambut mereka yang berbeda keyakinan.

GKI Membuka Pintu

Pendeta GKI Jombang, Diah Nuraini Kristianti, mengakui keputusan menyediakan rumah singgah sempat memunculkan pertanyaan di internal gereja.

GKI, kata dia, memiliki sistem kepemimpinan kolektif-kolegial. Karena itu, keputusan tidak berada di tangan pendeta seorang.

"Karena, kan, GKI itu kepemimpinannya bukan tunggal. Tapi, kan, kolektif-kolegial. Jadi, tidak pendeta yang kemudian, pokoknya keputusannya pendeta aku semua ngikutin, enggak. Tapi, ada kemajelisan," tutur Diah kepada Independen.id, Kamis sore, 20 Agustus 2026.

Ketika gagasan itu disampaikan, muncul pertanyaan dari sejumlah anggota.

"Enggak apa-apa? Diah perempuan, lo," ujar Diah menirukan salah satu pertanyaan yang muncul.

Namun, menurutnya, pertanyaan tersebut lebih berkaitan dengan aspek keamanan daripada penolakan terhadap gagasan menerima warga NU.

"Makanya tadi saya bilang light gitu. Karena cuma bertanya soal lebih kepada safety, kan," katanya.

Diah kemudian mengingatkan kembali salah satu panggilan GKI sebagai gereja.

"GKI itu punya visi menjadi mitra kerja Allah di tengah dunia, kan, untuk menyampaikan damai sejahtera. Bagaimana kita mau jadi mitra kerja Allah di tengah dunia yang membawa damai sejahtera kalau kita menutup diri terhadap yang lain?" ujarnya.

Perempuan asal Banyuwangi itu meyakini gereja semestinya tidak menjadi ruang yang eksklusif.

"Gereja harusnya tempat semua orang. Kalau mereka mau masuk gereja, ya, silakan."

Akhirnya, GKI Jombang menyediakan pastori sebagai rumah singgah bagi Nahdliyin yang kesulitan mendapatkan tempat menginap.

Syaratnya sederhana: membawa KTP dan tidak dipungut biaya.

Pastori GKI Jombang berada di Tugu Gang III, di belakang RSAI Muslimat, sekitar tiga kilometer dari lokasi muktamar.

Kapasitasnya memang terbatas. Namun, sekitar dua hari setelah informasi rumah singgah disebarkan, sudah ada beberapa orang yang menghubungi.

Kini, kamar tersebut telah dipesan pasangan suami istri asal Pontianak, Kalimantan Barat. Sang suami berasal dari komunitas Gusdurian, sedangkan istrinya merupakan anggota Fatayat NU.

Semula, satu kamar dapat digunakan hingga empat orang. Namun, karena pasangan tersebut menginap bersama, GKI memutuskan kamar itu sudah penuh.

Mereka akan tiba saat pembukaan muktamar.

"Jadi, disiapin teh, kopi, terus kayak makanan ringan, Energen dan Pop Mie gitu, kan ada water heater-nya," kata Diah.

Bukan Kali Pertama

GKI bukan satu-satunya gereja yang membuka pintu.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jombang bahkan memiliki pengalaman serupa saat Muktamar ke-33 NU pada 2015. Kala itu, gereja menampung 25 kru TV9, televisi lokal berbasis di Surabaya yang memiliki kedekatan dengan komunitas NU.

Ahmad Sholeh, atau akrab disapa Kung Sholeh, masih mengingat suasana tersebut. Bekas Guru Injil GKJW Jombang itu kemudian kembali membuka ruang gereja bagi mereka yang berkaitan dengan Muktamar ke-35 NU.

"GKJW ini kan prinsipnya ada gereja yang terbuka. Gereja terbuka sehingga siapa pun tidak memandang itu dari mana, dari suku apa, ke agama apa, kita untuk siap dan membuka tangan untuk berbicara," tuturnya kepada Independen.id, Rabu malam, 19 Agustus 2026.

Menurutnya, hubungan GKJW dengan NU memiliki sejarah panjang.

"Apalagi terhadap Islam, khususnya NU. Kenapa? Karena sejarah GKJW ini, sejarah GKJW sejak awal itu, hubungan emosional dengan NU khususnya, itu sangat luar biasa intim," katanya.

Sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 12 meter di belakang GKJW disiapkan menjadi tempat singgah. Ruangan di lantai dua itu beralaskan karpet merah, dilengkapi kipas angin, televisi, Wi-Fi, dan pendingin udara.

Tersedia empat toilet dan dapur. Ruangan tersebut dapat diakses selama 24 jam dan berjarak sekitar 4–5 kilometer dari lokasi muktamar.

Harga Melambung, Gereja Jadi Pilihan

Inisiatif rumah singgah disambut baik warga NU yang kesulitan mendapatkan akomodasi.

Irwan, anggota Bantuan Serba Guna (Banser) Satkorcab Surabaya, mengaku sempat mencari rumah yang dapat digunakan selama muktamar. Namun, harga sewa yang melonjak membuat rencana tersebut sulit diwujudkan.

"Sudah tembus Rp15 juta per minggu," katanya kepada Independen.id, Kamis, 20 Agustus 2026.

Tim pengamanan Banser Surabaya juga belum mendapatkan kepastian tempat tinggal.

Dalam rapat Satkorcab, Irwan kemudian mengusulkan agar mereka memanfaatkan rumah singgah Badan Musyawarah Antargereja (Bamag) Jombang.

Rencananya, tempat tersebut menjadi posko Banser Satkorcab Surabaya.

Sebanyak 100 personel Banser Surabaya akan terlibat. Mereka tidak tinggal sekaligus, melainkan bergantian setiap dua hari. Dalam satu waktu, sekitar 20–25 personel akan berjaga di posko.

Bagi Irwan, menginap di lingkungan gereja bukan persoalan.

"Bagi saya atau kami Banser Surabaya sudah biasa, karena kami sering berkumpul dan ngopi bareng dengan teman-teman lintas agama," katanya.

Ia justru melihat inisiatif tersebut sebagai gambaran Indonesia yang sesungguhnya.

"Inilah sebenarnya Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya.

Berawal dari Obrolan Ngopi

Gagasan membuka rumah singgah bermula dari percakapan sederhana di antara jaringan lintas iman di Jombang.

Aan Anshori dari Jaringan NU Kultural (Janur) menjadi salah satu penggagasnya.

Ia melihat kedatangan ribuan hingga puluhan ribu orang ke Jombang akan membuat kebutuhan akomodasi meningkat. Sementara sejumlah gereja diketahui memiliki guest house, meski dengan kapasitas terbatas.

"Satu minggu lalu waktu itu saya ngobrol dengan Pak Kris. Karena saya melihat beberapa gereja itu memiliki guest house, meskipun tidak besar. Kemudian saya woro-woro, WA-WA ke banyak teman-teman," kata Aan, Rabu malam, 19 Agustus 2026.

.
Penggerak Janur, Aan Anshori saat menerangkan tentang rumah singgah, Rabu, 19 Agustus 2026. (Foto Sindu)

 

Pesan tersebut mendapat respons.

Sejumlah gereja kemudian menyatakan kesediaannya menyediakan tempat singgah. Di antaranya Guest House GKJW Jombang, Pastori GKI Jombang, dan Guest House Bamag Jombang di Dusun Weru.

Bagi Aan, rumah singgah tersebut bukan hanya solusi atas persoalan tempat tinggal. Ada pesan toleransi yang ingin ditunjukkan.

Aan melihat hubungan NU Jombang dengan komunitas gereja telah terbangun cukup lama.

"Hubungan antara NU Jombang dengan teman-teman gereja yang ada di Jombang itu juga sangat dekat," ujarnya.

Karena itu, ia ingin momentum muktamar memperluas narasi tentang Jombang.

"Jargon Jombang sebagai Kota Santri itu tidak titik, tetapi koma. Jombang Kota Santri, kota toleransi."

Menurut Aan, meski Muktamar NU merupakan agenda internal organisasi Islam terbesar di Indonesia, keputusan-keputusan yang lahir dari forum tersebut dapat berdampak lebih luas, termasuk terhadap kelompok agama lain.

"Ketika muktamar ini melakukan rekomendasi yang salah, misalkan terkait kebhinekaan dan lain sebagainya, ya, ruwet itu juga teman-teman Kristen, lo. Teman-teman nonmuslim dan lain sebagainya. Jadi, pesannya sebenarnya, hati-hati, ya, kalau bikin rekomendasi," katanya.

Ia berharap pengalaman kecil di Jombang dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

"Kami ingin, gelanggang nasional itu menjadikan potret muktamar ini dengan keberadaan rumah singgah antara jaringan kultural dan beberapa komponen gereja di Jombang sebagai potret menuju ideal bagaimana seharusnya keindonesiaan itu menjadi perekat kita semua, tanpa melihat latar belakang agama masing-masing."

Membuka Pintu, Menghancurkan Prasangka

Bagi Kung Sholeh, harapan terhadap Muktamar ke-35 NU sederhana: keputusan yang lahir dari forum tersebut dapat mendorong kesejahteraan sekaligus kerukunan.

"Sehingga kedamaian, kesejahteraan akan terwujud. Toleransi semakin dipupuk kembali dengan keragaman itu," katanya.

Kung Sholeh, pengurus GKJW Jombang, Rabu, 19 Agustus 2026. Foto: Sindu
Kung Sholeh, pengurus GKJW Jombang, Rabu, 19 Agustus 2026. (Foto: Sindu)

Diah memiliki harapan serupa.

Sebagai perempuan dan bagian dari kelompok minoritas, ia tidak ingin melihat intoleransi semakin memburuk.

"Kami mau bilang, bahwa dari kota kecil ini ada sebuah cinta kasih yang bisa menjadi jembatan, yang bisa membuka komunikasi, yang bisa membuat orang merasa tidak sendirian," ujarnya.

Baginya, mayoritas maupun minoritas tidak semestinya menjadi batas untuk saling membantu.

"Kami mau menghancurkan dinding prasangka dan ketakutan.” Kata Diah.

 

kali dilihat