Pertanian Jadi Mesin Utama Deforestasi di Asia Tenggara

Oleh Redaksi Independen

INDEPENDEN — Hutan-hutan Asia Tenggara terus tergerus. Data terbaru dari World Resources Institute (WRI) dan Google DeepMind menunjukkan bahwa ekspansi pertanian menjadi penyebab utama hilangnya tutupan hutan di kawasan ini selama 25 tahun terakhir.

Analisis terbaru yang memetakan penyebab kehilangan hutan dari 2001 hingga 2025 menemukan bahwa sekitar 65 persen kehilangan tutupan pohon di Asia Tenggara disebabkan oleh pertanian permanen, mulai dari perkebunan skala besar hingga perluasan lahan pertanian komersial. Angka ini menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan dengan tingkat deforestasi akibat pertanian tertinggi di dunia.

"Di wilayah tropis seperti Amerika Latin dan Asia Tenggara, pertanian permanen merupakan pendorong utama kehilangan hutan, bertanggung jawab atas 73 persen dan 66 persen kehilangan hutan," kata peneliti WRI, Michelle Sims, dalam laporan https://www.wri.org/insights/forest-loss-drivers-data-trends  yang diupdate pada 4 Juni 2026 lalu.

Temuan ini berasal dari dataset baru yang dikembangkan WRI bersama Google DeepMind melalui analisis citra satelit dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut memungkinkan para peneliti mengidentifikasi penyebab utama hilangnya hutan secara lebih rinci dibandingkan sebelumnya.

Laporan itu juga mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Secara global, sekitar 34 persen kehilangan tutupan pohon sejak 2001 kemungkinan bersifat permanen, artinya kawasan tersebut telah berubah fungsi menjadi pertanian, tambang, permukiman, atau infrastruktur sehingga hutan tidak akan tumbuh kembali secara alami. Di hutan hujan tropis primer, angka tersebut melonjak hingga sekitar 60 persen.

"Kami selama ini mengetahui di mana hutan hilang. Kini kami lebih memahami mengapa hutan hilang. Pengetahuan ini sangat penting untuk merancang tindakan yang lebih cerdas di tingkat lokal, nasional, maupun regional," ujar Michelle Sims.

Asia Tenggara memiliki beberapa bentang hutan tropis paling kaya di dunia, termasuk di Indonesia, Malaysia, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Namun kawasan ini juga menjadi pusat produksi berbagai komoditas global seperti minyak sawit, karet, pulp dan kertas, serta berbagai tanaman perkebunan lainnya.

.
Foto: Greenpeace

Menurut WRI, permintaan pasar internasional terhadap komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang terus mendorong pembukaan lahan baru di kawasan tropis.

Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan penting. Setelah sempat mencatat penurunan kehilangan hutan dalam beberapa tahun terakhir, tekanan baru mulai muncul seiring ekspansi perkebunan, proyek pangan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur.

Laporan WRI menyebut bahwa insentif ekonomi untuk mengubah kawasan hutan menjadi lahan produktif masih sangat kuat di berbagai negara Asia Tenggara.

"Permintaan terhadap komoditas seperti minyak sawit, emas, dan mineral lainnya terus mendorong kehilangan hutan. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan nilai ekologis yang diberikan hutan," tulis laporan tersebut.

Padahal, hutan tropis Asia Tenggara memiliki peran penting sebagai penyimpan karbon, habitat satwa liar, dan sumber penghidupan jutaan masyarakat lokal serta masyarakat adat.

WRI menekankan bahwa tidak ada satu solusi yang bisa diterapkan untuk semua negara. Penyebab kehilangan hutan berbeda-beda tergantung kondisi lokal.

Untuk kawasan seperti Asia Tenggara, langkah yang dinilai penting antara lain memperkuat tata kelola lahan, memperbaiki perlindungan hak masyarakat adat, memperketat pengawasan rantai pasok komoditas, dan memastikan pembangunan ekonomi tidak dilakukan dengan mengorbankan hutan alam.

"Karena dinamika penggunaan lahan lokal dipengaruhi oleh kekuatan pasar global, pengelolaan sumber daya dunia secara berkelanjutan menjadi sangat penting bagi masa depan kita bersama," tulis WRI.

Temuan ini menunjukkan bahwa masa depan hutan Asia Tenggara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan konservasi, tetapi juga oleh pilihan ekonomi yang diambil pemerintah, perusahaan, dan konsumen. 

Di tengah meningkatnya permintaan pangan, energi, dan komoditas global, pertarungan antara pembangunan dan perlindungan hutan akan menjadi salah satu isu lingkungan paling menentukan di kawasan ini dalam dekade mendatang.

 

kali dilihat