Penulis: Suci Sekar
Independen.id --- Suhaemi, seorang pengemudi ojek online, mengirim pesan singkat kepada kustomer (jurnalis Independen.id) sebelum mengambil orderan perjalanan dari Cikarang menuju Bekasi. Dia bertanya, apakah kustomernya bersedia memberikan izin ‘mampir’ untuk menukar baterai di tengah perjalanan nanti. Hal lain yang ditanyakan Suhaemi adalah apakah penumpangnya buru-buru. Sebab motor yang dikemudikannya adalah motor listrik, yang disebutnya kurang bertenaga dibanding motor berbahan bakar fosil.
Itu pengalaman pertama kali independen.id, menaiki motor listrik dalam jarak tempuh cukup jauh. Motor listrik cenderung lebih halus suaranya dibanding motor berbahan bakar minyak. Namun benar kata Suhaemi sang driver, jalannya terasa kurang bertenaga. Perjalanan Cikarang-Bekasi pada pukul 9 pagi itu, ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit, yang jika menggunakan motor biasa, bisa lebih cepat dari waktu tempuh tersebut.
Sepanjang perjalanan, Suhaemi bercerita motor listrik itu adalah motor sewaan dari Grab dengan harga sewa Rp50 ribuan per hari, belum termasuk baterai.
Apakah ini lebih menguntungkan dibandingkan motor berbahan bakar bensin? Menurut Sehaemi, itu tergantung dari jumlah penumpang yang diterima per hari. Akan tetapi, secara umum cukup menguntungkan. Contohnya, Suhaemi tak perlu mengantri membeli bensin, tinggal swapping baterai listrik sekitar Rp30 ribuan. Soal isu menjaga lingkungan, Suhaemi mengaku tak memprioritaskan masalah itu karena yang terpenting baginya cuan masuk dari kegiatan ojek online tersebut (ojol).
Cerita lain disampaikan Nurdin, ojek online GrabBike. Dia sudah 1 tahun 3 bulan menyewa motor listrik ke Grab untuk menarik penumpang setelah motornya hilang. Motor listrik yang digunakan Nurdin, Smoot Tempur, buatan dalam negeri dengan baterai sistem swapping (tukar). Dia menyebut sekarang ini sudah ada 530 titik penggantian baterai di wilayah Jabodetabek sehingga perkara baterai habis tak perlu dikhawatirkan.
“Jadi jangan takut enggak ada baterai. Bahkan di wilayah Ciawi, Bogor, juga sudah ada tempat swapping baterai motor listrik,” ujarnya kepada independen.id, Minggu 9 Agustus 2026 di Jakarta.
Saat ditanya mengapa lebih memilih sewa motor listrik, dia menjawab karena sewa lebih menguntungkan ketimbang membeli motor listrik kendati Grab memberikan fasilitas pada mitranya untuk mencicil pembelian motor listrik. Contohnya, jika sudah tiga kali motor listrik yang disewakan mengalami tambal ban, maka pengemudi bisa minta tukar motor listrik sewaan yang baru. Jika motor listrik mogok di jalan, pengemudi juga bisa minta tim teknis untuk menjemput dan driver (pengemudi) pada hari itu gratis uang sewa motor. Sedangkan apabila non-sewa, maka segala risiko tersebut harus ditanggung sendiri.
Akan tetapi, diakui Nurdin motor listrik dengan model charge (bukan swapping baterai) masih payah kalau dipakai berkendara jarak jauh. Sebab fasilitasnya belum seperti swapping baterai, yang sudah tersedia di Alfamidi, Dandan, KFC, dan Family Mart.
Kisah sepeda motor listrik Suhaemi dan Nurdin sejalan dengan upaya berbagai pihak untuk mengurangi tingginya beban subsidi yang terus bertambah. Indonesia diketahui menggelontorkan uang subsidi bahan bakar fosil (BBM) per tahun di atas Rp200 triliun. Pada tahun 2045, beban subsidi BBM diperkirakan bakal naik hingga dua kali lipat dan mendekati Rp700 triliun pada 2060.
International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkap ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil di sektor transportasi jalan, menjadi beban fiskal yang terus membesar. Subsidi BBM merupakan beban berulang yang langsung membebani APBN — dana yang seharusnya dapat digunakan untuk kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur.
Saat yang sama, jumlah kendaraan di Indonesia terus tumbuh sekitar 5% per tahun. Ini otomatis menaikkan pula permintaan BBM dan beban subsidinya. Sayangnya, subsidi itu dipakai untuk transportasi atau kendaraan yang menimbulkan polusi udara dan berdampak pada kesehatan warga.
Peningkatan beban fiskal ini bisa dicegah, jika bahan bakar kendaraan beralih ke energi listrik yang lebih efisien. Pasalnya, sumber pencemaran udara, di antaranya berasal dari kendaraan bahan bakar fosil. Untuk itu, kendaraan listrik dinilai efektif meminimalisir dampak pencemaran udara dan meringankan beban kesehatan.
Berdasarkan pengalaman Nurdin, dia menyebut motor listrik lebih irit dibanding motor berbahan bakar fosil, apalagi motor listrik tipe tertentu seperti Desultan keluaran Smoot dengan baterai 72 KW. Dengan kapasitas tersebut, motor bisa dipakai berkendara sejauh 100 kilometer dan bisa dipakai ngebut. Namun sebagai penyewa, Nurdin tak bisa banyak mau karena dia hanya bisa memilih kendaraan yang disediakan oleh Grab.
Nurdin biasanya mulai ‘narik’ penumpang pada pukul 11 siang sampai jam 11 malam. Dengan 12 jam kerja itu, Nurdin menyebut per hari masih balik modal dan mendapat untung. Apalagi, di Grab ada kebijakan motor listrik sewaan mendapat prioritas orderan. Per hari dia paling sedikit mendapat 20 orderan dan terbanyak 27 orderan masuk sehingga penghasilan bersihnya bisa Rp150 ribu-Rp200 ribu per hari.
“Saya ini orangnya enggak bisa diam, jadi ojol yang mengeluh orderan anyep mungkin karena mereka banyak ‘nyandar’. Sekarang saya pakai motor listrik, saya enggak perlu pusing mikirin isi bensin. Kalau baterai habis, tinggal ganti,” ujarnya.
Sebelum serah-terima motor sewaan, Nurdin menceritakan Grab memberikan pengarahan sekitar 2 jam soal motor listrik ini, termasuk rekomendasi titik-titik mana yang ramai penumpang dan memprioritaskan motor listrik mendapat orderan, contohnya di gedung-gedung pemerintahan dan stasiun Gambir, Jakarta.
Cerita serupa, disampaikan Rizky Surahman, pengemudi Grab motor listrik. Rizky menjelaskan motor listrik keluaran terbaru sudah bisa dipakai ngebut, jarak jauh, aman dan titik-titik swapping baterainya sudah semakin banyak. Service motornya pun standar.
“Motor listrik ini saya sewa dari Grab. Untuk seharian muter-muter antar penumpang, sewa baterainya hanya Rp25 ribu. Bisa balik modal, bahkan saya bisa dapat untung,” kata Rizky, Selasa, 11 Agustus 2026.
Rizky menyebut di tengah kenaikan harga bahan bakar, lebih baik sekarang ini membeli motor listrik apalagi jika untuk pemakaian pribadi. Hanya saja, untuk pemakaian pribadi sebaiknya membeli motor listrik sistem plug-in supaya bisa charge di rumah. Pilih juga yang fast charging agar tak menunggu sampai dua jam untuk sekadar charge baterai.
Pengalaman berbeda disampaikan Andi Rahmayadi, seorang pengemudi ojol yang kerap mangkal di daerah Sarinah, Jakarta Pusat. Saat ditemui independen.id pada Sabtu, 25 Juli 2026, Andi menceritakan dia menyewa motor listrik Electrum dengan harga sewa Rp80 ribu per hari karena tak punya motor pribadi untuk menarik penumpang.
Dengan biaya sewa sebesar itu, Andi mengaku kadang balik modal-kadang pula harus nombok, tergantung rezeki hari itu. Dia hanya meyakinkan motor listrik yang dikemudikannya bertenaga sehingga bisa dipakai ngebut untuk melayani penumpang yang dikejar waktu.
Sementara itu, Reza A, pengemudi motor listrik dari Gojek punya pengalaman hampir sama dengan Andi, yang kadang pendapatan sebagai driver ojol tidak cukup. Walhasil, dia nyambi menjadi driver Shopee Food dan kurir pengantar paket dengan motor listrik.
Reza mengatakan motor listrik yang disewakan Gojek ada banyak modelnya dengan harga sewa berbeda-beda. Misal motor listrik Electrum tipe H1, H3 dan H5 dengan daya 70 KW, harga sewanya Rp50 ribu-Rp55 ribu dengan biaya baterai Rp30 ribu per hari.
Dia menyebut keuntungan menggunakan motor listrik adalah tak perlu antri di pom bensin untuk isi bahan bakar karena motor listrik yang disewakan Gojek umumnya sistem swapping (tukar baterai). Namun bagi Reza, kekurangan motor listrik adalah ketika harus tukar baterai. Saat bekerja sebagai kurir paket, dia harus menurunkan muatan dari atas jok motor agar bisa swapping baterai dan memasang kembali muatan setelahnya. Hal lain yang dikeluhkan Reza adalah setiap 20 kilometer sekali, harus swapping baterai karena rata-rata motor listrik yang disewakan Gojek sebesar itu kapasitasnya.
Motor listrik disebut Reza juga mahal kalau mau service atau jika terjadi kerusakan. Maka itu, dia memilih opsi menyewa pada Gojek.
“Daripada nganggur, saya putuskan sewa saja,” kata Reza yang sudah menjadi sopir ojek online sejak 2019.
Saat disinggung soal penghasilan, Reza menilai motor listrik jika milik pribadi (bukan sewa) lebih menguntungkan. Tanpa mengeluarkan ongkos sewa, pengemudi ojol dengan motor listrik pribadi cukup merogoh kocek mulai dari Rp5 ribu untuk swapping baterai. Sedangkan pengemudi ojek online motor sewaan, harus mengeluarkan uang Rp30 ribu untuk swapping baterai tanpa batas (unlimited). Jika pada hari itu mereka mendapatkan minimal 10 order saja, maka mereka bisa balik modal atau sedikit mendapat untung.
“Perkaranya sekarang ini pendapatan harian enggak menentu dan status hubungan kerja kami juga cuma mitra pengemudi online, misalnya 3 hari kami enggak narik karena sakit atau enggak dapat orderan, biaya sewa harian motor listrik tetap harus bayar Rp55 ribu per hari,” kata Reza kepada independen.id, Minggu, 9 Agustus 2026 di Jakarta.
Motor listrik, lanjut Reza, kecepatannya umumnya 60-70 kilometer. Untungnya, Jakarta sering macet sehingga kecepatan tersebut dirasa tak masalah. Namun pernah pula ada pengalaman penumpang membatalkan orderan saat tahu Reza membawa motor listrik. Alasannya, penumpang itu menyebut badannya besar sehingga motor listrik kalau terlalu sering di gas - baterainya menjadi lebih boros. Ada pula pengalaman beberapa rekan sejawat Reza yang menyebut penumpang memilih opsi cancel order karena motor listrik dianggap jalannya lelet.
Reza menekankan apapun jenis motornya, baik itu listrik atau motor berbahan bakar bensin, sama-sama harus menjalani perawatan bulanan atau service rutin. Sedangkan perkara mana yang lebih irit, Reza menilai semua sama saja, kecuali jika pengemudi ojek online menggunakan motor listrik pribadi (bukan sewaan).
“Motor listrik sih ya ramah lingkungan, tapi lihat deh berapa hektar lahan yang dikeruk buat bahan baku baterainya. Kalau buat di Jakarta, motor listrik mungkin ramah lingkungan karena polusinya tinggi, tapi kalau buat dipakai di desa - enggak tahu deh (di desa polusi lebih rendah),” ujar Reza.
Lalu, bagaimana dengan mobil listrik. Apakah ada bedanya dengan mobil berbahan bakar bensin? Pada 23 Juni 2026, independen.id, berkesempatan menjajal mobil listrik lewat aplikasi Gocar milik Gojek dengan rute PGC Cililitan-Jakarta Timur menuju ke Pantai Indah Kapuk 2-Jakarta Utara. Mobil listrik merek BYD itu, dikemudikan sopir bernama Hilman Sulaiman, seorang pensiunan yang ingin tetap aktif dengan mengisi waktunya menarik penumpang.
Hilman bercerita awalnya dia menarik penumpang menggunakan mobil pribadi yang berbahan bakar bensin. Tetapi sudah tiga bulan terakhir ini, dia menggunakan mobil listrik sewaan yang disediakan Gojek. Mobilnya BYD keluaran terbaru, harga sewanya sekitar Rp200 ribuan per hari. Menurut perhitungan Hilman, biaya sewa mobil dan pengisian baterai yang dikeluarkan, cukup murah dibanding harus menggunakan kendaraan sendiri yang berbahan bakar bensin.
Hilman menceritakan sekarang semakin banyak unit-unit mobil listrik yang disewakan Gojek pada mitra-mitranya. Bahkan, mobil listrik keluaran terbaru seperti Wuling dan BYD. Cara ini juga memberikan alternatif pada korban PHK yang tidak punya mobil, untuk menarik penumpang.
Ditanya soal penghasilan per hari, Hilman menyebut itu tergantung pada jumlah orderan per hari yang diterimanya. Selama 3 bulan menyewa mobil listrik - Hilman selalu bisa balik modal.
Mengendarai mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin, rasanya tak ada bedanya. Sama-sama bertenaga dan nyaman. Hanya saja, Hilman menyebut untuk pengisian baterai kadang antrinya bisa sampai satu jam. Apa lagi di area PLN Trunodjoyo, Jakarta Selatan, antrian kadang mengular. Bagi Hilman, waktu mengantri itu mengorbankan waktu untuk mencari atau mengantar penumpang.
Hilman tak faham dengan persoalan ‘ramah lingkungan’, dia hanya menghitung mobil listrik lebih hemat dan selama 3 bulan dia merasa nyaman mengendarai kendaraan listrik. Walhasil, dia mengungkap sedang dalam proses mengambil cicilan mobil listrik secara pribadi dari sebuah bank.
Di tempat berbeda, Lily Pujiati, Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia, organisasi yang memperjuangkan hak-hak pekerja transportasi online dan hak-hak angkutan umum, menilai penyewaan kendaraan, termasuk kendaraan listrik hanyalah bagian dari bisnis operator jasa penyedia kendaraan online. Strategi ini, bukan semata untuk membantu para korban PHK yang tak punya kendaraan untuk narik penumpang. Pasalnya, pengemudi yang menyewa kendaraan listrik ke operator, tidak mendapat jaminan akun mereka bakal gacor (sering terima order).
Dia menyebut untuk motor listrik, umumnya tarif sewa yang dipatok sekitar Rp75 ribu termasuk baterai (motor dipakai atau tidak). Sedangkan untuk mobil listrik, pengemudi harus meninggalkan uang jaminan sekitar Rp1.5 juta, dengan uang sewa sekitar Rp300 ribuan per hari.
“Kalau mau balik modal, ya pengemudi harus kerja rodi, kerja gila-gilaan (14 jam kerja) atau kami menyebutnya ngalong sampai tidur di basecamp. Ini karena negara enggak punya aturan (soal transportasi online). Kalau mau ramah lingkungan, mobil pejabat saja diganti jadi yang ramah lingkungan,” kata Lily.
Lily menyebut berdasarkan keluhan yang masuk dari rekan-rekannya para pengemudi online, kendaran listrik sering tak ada tenaganya dan pengisian baterai bagi kendaraan plug-in, kadang mengantri lama. Dengan begitu, seharusnya pemerintah saat membuka kran pengadaan kendaraan listrik, SPKLU harusnya diperbanyak seperti SPBU.
“Pemerintah sepertinya belum siap,” ujarnya.
Saat ditanya lebih menguntungkan mana kendaraan listrik atau kendaraan berbahan bakar fosil untuk pengemudi online? Lily menjawab, sama saja dua-duanya. Sebab pengemudi yang menyewa kendaraan listrik juga harus membayar sewa.
“Motor listrik kaya kodok jalannya. Kalau dapat motor anyar, baru bisa ngebut. Tetapi kalau dapat yang baterainya bobrok, pengemudi harus charge lagi. Di shelter itu, kadang baterainya juga soak. Baru berapa orderan masuk, sudah harus ganti baterai lagi. Order masuk pengemudi online sekarang lagi anyep, sehari cuma 2 atau 3 penumpang. Harusnya pemerintah kalau ingin kurangi polusi, pikirin juga solusinya,” kata Lily.
Lily menambahkan motor listrik bisa digunakan untuk jarak jauh, kalau baterainya penuh. Namun motor sewaan dari operator penyedia kendaraan online, memiliki batas jarak tempuh. Ada semacam sistem zonasi, untuk mengantisipasi motor sewaan dibawa kabur.
Kendaraan Listrik Sewa Grab dan Gojek Tumbuh
Terkait dengan kendaraan listrik (electric vehicle / EV) yang disewakan operator kendaraan online pada para mitra drivernya (pengemudi), Grab Indonesia dan Gojek, memberikan tanggapan.
Dalam wawancara dengan independen.id, Halim Wijaya, Director of GrabRental and Expansion Business, Grab Indonesia, mengatakan kendaraan listrik atau GrabElectric yang Grab sewakan mengalami peningkatan. Sampai Mei 2026, kendaraan listrik Grab yang disewakan tercatat lebih dari 28.000 unit, atau naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Halim mengatakan Grab memiliki skema sewa harian. Lewat skema ini, Mitra (pengemudi) dapat menggunakan kendaraan tanpa harus melakukan investasi awal yang besar. Perawatan kendaraan juga ditangani melalui jaringan service center yang bekerja sama dengan Grab sehingga pengemudi bisa fokus menjalankan aktivitas sehari-hari.
Penggunaan kendaraan listrik melalui skema ini juga berpotensi membantu pengemudi menghemat biaya operasional hingga 50% dibandingkan kendaraan konvensional. Efisiensi tersebut didukung oleh biaya energi yang lebih terjangkau dan stabil dibandingkan BBM, serta kebutuhan perawatan kendaraan listrik yang relatif lebih sederhana.
Adapun biaya sewa dan persyaratan penyewaan berbeda-beda berdasarkan jenis kendaraan, wilayah operasional dan kesiapan ekosistem di setiap wilayah.
“Seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, Grab melihat minat terhadap kendaraan listrik terus meningkat. Layanan penyewaan motor listrik melalui GrabElectric Rental juga masih berjalan dan terus dikembangkan,” kata Halim, Jumat, 14 Agustus 2026, di Jakarta.
Sejak diluncurkan pada 2022, GrabElectric Rental telah memberikan akses kendaraan melalui skema sewa harian kepada calon Mitra Pengemudi yang belum memiliki kendaraan sendiri sekaligus mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Untuk tarif sewa kendaraan listrik Grab bergantung pada jenis armada dan wilayah operasional pengemudi.
Menjawab keluhan motor listrik kurang bertenaga, Halim meyakinkan setiap kendaraan yang digunakan dalam ekosistem Grab telah memenuhi standar keselamatan dan ketentuan yang berlaku.
Adapun kemampuan kendaraan, termasuk kecepatan dan jarak tempuh, mengikuti spesifikasi dari masing-masing produsen kendaraan.
“Mitra (pengemudi) tetap perlu berkendara sesuai dengan batas kecepatan dan kondisi jalan, termasuk ketika penumpang sedang terburu-buru. Grab juga terus berkoordinasi dengan mitra penyedia armada untuk mengevaluasi performa kendaraan agar tetap sesuai dengan kebutuhan operasional Mitra,” ujar Halim.
Saat ini, GrabElectric telah beroperasi di 10 wilayah di Indonesia, yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar, Medan, dan Palembang. Hingga Desember 2025, armada GrabElectric telah menempuh lebih dari 450 juta kilometer perjalanan, dengan sekitar 175 juta kilometer diantaranya ditempuh sepanjang 2025.
Ke depan, Grab akan terus mengevaluasi dan mengembangkan GrabRental sesuai dengan kebutuhan Mitra serta kesiapan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Grab juga terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan produsen kendaraan listrik, mitra armada, institusi pembiayaan, dan penyedia infrastruktur. Saat ini, Grab telah berkolaborasi dengan berbagai produsen kendaraan listrik, termasuk BYD, GAC Aion, Wuling, dan Maxus.
Sementara itu, Gojek dalam wawancara dengan independen.id pada Jumat, 14 Agustus 2026 mengungkap sampai akhir 2025 menyewakan 11.500 kendaraan listrik pada mitra-mitranya di seluruh Indonesia. Jumlah itu mengalami kenaikan signifikan, yang pada 2024 sebanyak 6.500 kendaraan listrik dan 2 ribu kendaraan listrik pada 2023. Penyewaan kendaraan listrik itu berkontribusi pada pengurangan total emisi GRK 7.37% dari tahun ke tahun.
Rosel Lavina, Head of Corporate Affairs Gojek, mengatakan Gojek memfasilitasi skema sewa kendaraan harian baik roda-dua maupun roda-empat melalui berbagai pendekatan. Contohnya dengan menghubungkan mitra driver dan calon mitra driver ke sejumlah rekanan / fleet partner atau pun anak usaha penyedia armada kendaraan.
Skema tersebut menawarkan ragam pilihan kendaraan untuk disewa oleh mitra driver, termasuk kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya Gojek mendukung efisiensi operasional mitra driver.
Kendaraan listrik melalui skema sewa, difokuskan pada area operasional dengan ekosistem yang sudah memadai khususnya di wilayah Jabodetabek. Skema sewa kendaraan listrik ini akan diperluas, namun secara bertahap.
Harga sewa kendaraan listrik Gojek mulai dari Rp225.000 per hari untuk mobil serta mulai dari Rp35.000 untuk motor. Harga ini telah mencakup berbagai manfaat seperti perawatan dan inspeksi kendaraan secara berkala, serta asuransi. Terdapat pula sejumlah program diskon dan promosi termasuk libur biaya sewa, potongan harga sewa pada momen-momen tertentu.
“Gojek telah secara aktif menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak lewat beragam skema untuk memastikan ketersediaan fasilitas penukaran baterai (swapping) atau pun pengisian baterai demi kenyamanan operasional mitra driver di lapangan,” kata Rosel, Jumat, 14 Agustus 2026 di Jakarta.
Rosel menekankan penggunaan kendaraan listrik oleh Gojek naik 77% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya momentum transisi menuju mobilitas rendah emisi di Indonesia
Pertumbuhan SPKLU
Untuk mendukung percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional dan layanan pengisian daya yang andal, mudah diakses, serta nyaman bagi masyarakat, PT PLN (Persero) berkomitmen mengembangkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Gregorius Adi Trianto, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero) dalam wawancara dengan independen.id mengungkap pertumbuhan SPKLU dalam tiga tahun terakhir sangat signifikan, dari 1.081 unit pada 2023, menjadi 3.233 unit pada 2024, dan 4.655 unit pada 2025. Hingga Mei 2026, jumlahnya telah mencapai 5.000 unit yang tersebar di 3.162 titik lokasi di seluruh Indonesia.
Khusus wilayah DKI Jakarta, PLN bersama mitra terus menambah jumlah SPKLU untuk mengimbangi pesatnya perkembangan kendaraan listrik di ibu kota. Hingga saat ini, terdapat 1.252 unit SPKLU yang tersebar di 674 lokasi di DKI Jakarta.
Pada 2026, PLN menargetkan penambahan sekitar 518 unit SPKLU di 492 lokasi di seluruh Indonesia, dengan target pengembangan mencapai sekitar 62.000 unit pada 2030.
Selain memperluas jaringan SPKLU, PLN juga memperkuat keandalan sistem kelistrikan, mengembangkan teknologi fast charging dan ultra fast charging. Tak hanya itu, PLN pun membuka peluang kerja sama dengan pemilik lahan maupun penyedia perangkat pengisian daya untuk mempercepat pemerataan layanan.
“PLN terus memperluas infrastruktur pengisian daya secara bertahap berdasarkan proyeksi pertumbuhan kendaraan listrik, tingkat kebutuhan di suatu wilayah, dan kesiapan sistem kelistrikan,” kata Gregorius.
Pengembangan infrastruktur tersebut didukung investasi yang disesuaikan dengan karakteristik setiap lokasi. Adapun nilai investasi pembangunan satu SPKLU sangat beragam karena tergantung pada jenis dan kapasitas charger, serta kondisi lokasi.
Bukan hanya itu, investasi satu SPKLU juga tergantung pada kebutuhan infrastruktur pendukung. Contohnya pengadaan peralatan, instalasi kelistrikan, transportasi, pengurusan NIDI/SLO, perizinan, hingga pengujian kompatibilitas sebelum fasilitas dioperasikan.
Menjawab keluhan sejumlah pengemudi kendaraan online karena antrian lama saat mengisi baterai, Gregorius meyakinkan PLN telah berupaya meningkatkan kualitas layanan, diantaranya melalui digitalisasi. Contohnya, layanan Electric Vehicle Digital Services (EVDS) di aplikasi PLN Mobile. Pada aplikasi ini, pengguna dapat mengetahui lokasi SPKLU terdekat, status ketersediaan, merencanakan rute perjalanan melalui fitur Trip Planner, hingga memantau kondisi antrian secara real time melalui fitur AntreEV, sehingga dapat merencanakan pengisian daya dengan lebih efisien.
“PLN mengimbau seluruh pengguna kendaraan listrik, termasuk mitra pengemudi transportasi daring, untuk memanfaatkan fitur-fitur di PLN Mobile dalam menentukan lokasi dan waktu pengisian yang optimal, sehingga potensi antrian dapat dikurangi dan waktu operasional dapat dimanfaatkan secara lebih produktif,” kata Gregorius dalam wawancara tersebut.
Ilustrator: Suci Sekar
Sementara itu, Rizqi Ilma Nugroho, peneliti dari ICCT, mengungkap keluhan soal motor listrik yang tak bertenaga kemungkinan besar karena motor tersebut keluaran lama atau keluaran awal seperti keluaran 2020/2021.
“Saya sempat naik Grab dan Gojek motor listrik pada 2026 ini, baik yang charging dan swapping (baterai). Itu semua baik-baik saja, sudah cukup sat-set,” kata Rizqi, Sabtu, 25 Juli 2026 di Jakarta.
Rizqi menyebut kendaraan listrik, khususnya motor listrik keluaran 2025, kondisinya sudah baik. Bahkan ada orang yang berganti dari motor biasa ke motor listrik karena harga bahan bakarnya lebih murah. Mereka bisa berkendara dengan motor listrik tersebut dari Jakarta sampai ke Bekasi atau sampai Tangerang.
Itu membuktikan motor listrik bisa melakukan perjalanan jarak jauh dan menempuh berbagai medan, baik itu motor listrik yang sistem swapping baterai atau pun plug-in.
“Sekarang kalau lihat di website-website penjualan motor, sering diinformasikan kendaraan ini bisa untuk tanjakan berapa derajat. Itu menunjukkan produsen kendaraan bermotor sudah mengakomodasi hal tersebut. Sudah banyak kendaraan listrik yang mumpuni,” kata Rizqi.
Lebih lanjut, Rizqi menyarankan agar Grab dan Gojek melakukan upskilling para pengemudinya. Sebab mengendarai mobil/motor listrik tidak sama dengan kendaraan berbahan bakar bensin, yang gampang menemukan pom bensin. Kendaraan listrik punya mekanisme, operasional, dan keamanan saat berkendara.
“Itu harus dipahami sebelum mereka dijadikan mitra driver – harus ada knowledgenya jangan sampai sopir cuma mikir yang penting nyetir saja,” kata Rizqi.
Illustrator: Suci Sekar
Keunggulan Kendaraan Listrik
Rizqi meyakinkan kendaraan listrik bukan hanya lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi udara, tetapi juga ramah dikantong. Biaya service bulanan kendaraan listrik lebih murah, sehingga bisa menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih kendaraan listrik dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Bukan hanya itu, motor/mobil listrik juga teknologinya terus berkembang, sudah banyak konsumen yang menggunakannya dan skema pembiayaannya pun sudah berkembang baik.
“Saran saya pada sopir Grab/Gojek, ayo kita lanjutkan pakai (kendaraan listrik). Inovasi di kendaraan Listrik akan terus berkembang karena dari segi harga baterai akan semakin murah, operasional listrik juga murah sehingga kemungkinan besar tren mobil dan motor listrik akan terus berkembang, bahkan semakin massive,” ujarnya
Rizqi menyebut efek positif kendaraan listrik terhadap lingkungan sudah jelas. Penelitian ICCT mengungkap pada 2030 kendaraan listrik bakal menjadi transportasi paling ramah lingkungan yang didukung harga listrik, yang semakin terjangkau.
“Kita punya dua pekerjaan rumah. Pertama menyuarakan dukungan pada kendaraan listrik, kedua menyuarakan kelistrikan yang lebih hijau,” katanya.
Kajian Ilmiah Kendaraan Listrik
Budi Haryanto, guru besar dan dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyoroti penggunaan BBM pada kendaraan masih tinggi. Bahkan, 92% WNI menggunakan pertalite yang kualitasnya di bawah standar kesehatan Euro 4. Dengan begitu, diperlukan intervensi yang besar, revolusioner dan dilakukan bersama-sama karena ini terkait dengan persoalan polusi udara dan dampak negatif pada kesehatan.
”Penyakit yang masuk lewat hidung ada 60%, tapi pengendalian polusi udaranya masih jalan di tempat,” kata Budi, Selasa, 4 Agustus 2026 di Jakarta.
Krisis yang dihadapi masyarakat Indonesia multidimensi. Diantaranya, Indonesia menghadapi krisis iklim yang terkait erat dengan ekonomi pembangunan.
Riset yang dipaparkan ICCT ke publik pada Selasa, 4 Agustus 2026, di Jakarta mengungkap polusi udara bisa menjadi silent killer. Penelitian yang dilakukan ICCT Global Health Study di lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan, menemukan emisi yang dihasilkan dari transportasi darat menyebabkan satu kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit. Kematian dini ini, bisa turun sampai 20% jika ada upaya pencegahan terhadap polusi udara.
ICCT menyebut data WHO mengungkap pula pada 2023, ada 7.9 juta kematian di dunia yang terkait dengan polusi udara atau sekitar 1 dari 8 kematian di dunia. Dari total 7.9 juta tersebut, sebanyak 4,9 juta orang meninggal karena terpapar ambient PM2.5 dan sebanyak 2,8 juta orang meninggal akibat polusi udara rumah tangga serta 470 ribu orang meninggal karena dampak ozone.
ICCT menilai peralihan ke kendaraan listrik sebagai solusi yang paling mendekati ideal untuk mencapai net zero atau emisi menjadi netral pada 2060. Kendaraan listrik juga bisa meminimalisir dampak polusi kendaraan bahan bakar fosil pada kesehatan.