Perusahaan Pelayaran Global Kirim Komponen Senjata ke Israel Selama Perang di Gaza

Oleh: Redaksi Independen

INDEPENDEN—Perusahaan pelayaran global asal Denmark, Maersk, dituduh terus mengirim komponen amunisi dan bahan peledak ke Israel selama perang di Gaza. Padahal sebelumnya Maersk sudah menyatakan tidak mengangkut senjata maupun amunisi ke wilayah konflik tersebut.

Tuduhan itu disampaikan dalam laporan berjudul Bullets, Bombs & Mortars: Maersk's Shipments of Munition Components to Israel yang diterbitkan OXFAM Denmark dan Palestinian Youth Movement pada 8 Juni 2026. Laporan tersebut menyebut temuan mereka bertentangan dengan pernyataan publik Maersk mengenai keterlibatannya dalam rantai pasok militer Israel.

Investigasi ini masuk dalam tagar #MaskOffMaersk campaign. 

“Pertanyaan kami kepada Maersk adalah: apa itu senjata? Kalian tidak mengirim senjata, jadi apa yang dimaksud dengan senjata?” kata Nadya Tannous, dari Palestine Youth Movement, kepada media Middle East Eye pada 8 Juni 2026 lalu.

Penasihat Senior Oxfam Denmark Jonas Devantier mengatakan bahwa penemuan tersebut menjadi pertanyaan serius apakah Maersk telah memenuhi kewajiban uji tuntas HAM dan melakukan upaya yang cukup untuk menghindari kontribusi terhadap pelanggaran berat hak asasi manusia serta hukum humaniter internasional.

"Laporan ini secara tegas membuktikan bahwa klaim dan jaminan Maersk tidak sesuai dengan fakta. Temuan kami menunjukkan perusahaan tersebut tetap mengirim komponen amunisi ke Israel selama berlangsungnya genosida terhadap warga Palestina di Gaza.” Kata Jonas lagi.

Jonas menambahkan berdasarkan Prinsip-Prinsip PBB tentang Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab, perusahaan diharapkan melakukan penilaian risiko yang lebih ketat ketika beroperasi di wilayah konflik guna mencegah keterlibatan dalam pelanggaran HAM yang serius. 

Disebutkan dalam laporan itu sejak Oktober 2023 hingga 2025, Maersk mengangkut lebih dari 2,7 juta kilogram komponen amunisi dan persenjataan dari Amerika Serikat ke sejumlah anak perusahaan Elbit Systems, produsen senjata terbesar Israel.

 

.
Papan kantor Elbit yang berlokasi di pabrik Ramat Hasharon. Disitu tertulis  “Peralatan Perang" “Roket dan Sistem Misil"  dan “Amunisi dan Munisi"  FOTO Laporan Oxfam dan Palestinian Youth Movement

Elbit Systems adalah produsen senjata terbesar Israel dan salah satu perusahaan persenjataan terbesar di dunia. Militer Israel menjadi pelanggan utama perusahaan tersebut dengan kontribusi 29 persen terhadap total penjualannya pada kuartal ketiga 2024.

Selama perang di Gaza, pendapatan Elbit dari pasar Israel meningkat dari 1,17 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 1,99 miliar dolar AS pada 2024. Nilai kontrak baru dari Israel juga melonjak menjadi 5,12 miliar dolar AS pada 2024. Menurut laporan tersebut, lonjakan itu terjadi seiring upaya Israel meningkatkan produksi senjata dalam negeri di tengah tekanan dan embargo internasional terhadap pasokan persenjataan.

Temuan ini didasarkan pada analisis puluhan bill of lading dan dokumen kargo yang diperoleh dari penyedia data pelayaran komersial. Bill of lading merupakan dokumen kontrak antara perusahaan pelayaran dan pelanggan yang memuat informasi rinci mengenai pengiriman barang, termasuk pengirim, penerima, berat muatan, serta jenis kargo yang diangkut.

Para periset menganalisis  dokumen-dokumen untuk menelusuri rantai pasok menuju Elbit Systems dan Kementerian Pertahanan Israel guna mengidentifikasi keterkaitan Maersk dengan produksi amunisi yang digunakan dalam perang di Gaza.

Temuannya cukup mengejutkan. Maersk disebut mengangkut lebih dari 1,42 juta kilogram inti peluru (bullet cores) dan cangkang kuningan (brass case cups) dalam 45 pengiriman yang dilakukan antara Oktober 2023 hingga Juli 2025. Komponen tersebut dikirim dari sejumlah pemasok Amerika Serikat menuju fasilitas IMI Systems, anak perusahaan Elbit Systems di Ramat HaSharon, Israel.

Komponen tersebut digunakan untuk memproduksi amunisi senjata ringan kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm yang digunakan militer Israel.

Selain peluru, laporan tersebut juga mengidentifikasi sedikitnya 1.996 badan bom yang dikirim Maersk ke Israel antara Oktober 2023 hingga Juni 2024. Total berat pengiriman badan bom itu mencapai lebih dari 1,1 juta kilogram.

.
Serangan misil menghancurkan rumah keluarga Abdelal di pemukiman al-Jneinah di timur Rafah. -- Foto Amnesty Internasional

 

Badan bom yang dikirim mencakup seri MK-84 produksi General Dynamics dan seri MPR yang diproduksi Elbit Systems of America. Pada 2025, Maersk juga disebut mengirim sekitar 60 ribu kilogram bubuk aluminium yang digunakan dalam pembuatan bahan peledak untuk bom seri MK-80.

Bom-bom tersebut merupakan jenis persenjataan yang telah digunakan secara luas dalam operasi militer Israel di Gaza.

Temuan lain dalam laporan menunjukkan adanya pengiriman hampir 40 ribu kilogram komponen mortir 120 mm dari Amerika Serikat ke fasilitas Elbit Systems antara November 2023 hingga Juli 2024. Komponen yang dikirim meliputi tube forgings, breech cap forgings, dan gasket assemblies.

Komponen tersebut disebut digunakan untuk memproduksi sistem mortir Soltam K6 dan Iron Sting yang dipasarkan Elbit Systems.

Mengutip data UNRWA hingga 12 Mei 2026, sedikitnya 72.742 warga Palestina dilaporkan tewas dan 172.565 lainnya terluka sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Kerusakan besar juga terjadi pada infrastruktur sipil, termasuk jaringan air, listrik, telekomunikasi, jalan, dan fasilitas publik lainnya.

Maersk Membantah

Dalam pernyataannya, Maersk menegaskan tetap mematuhi hukum internasional dan membantah tuduhan bahwa mereka mengirim senjata atau amunisi ke Israel. 

Kepada penyusun laporan, Maersk menyatakan, "Sejak awal konflik, kami menerapkan kebijakan yang ketat untuk tidak mengirimkan senjata maupun amunisi ke Israel."

Meski demikian, Palestinian Youth Movement mendesak Maersk menghentikan seluruh pengiriman komponen amunisi dan kargo militer ke Israel serta melakukan uji tuntas HAM yang lebih ketat terhadap rantai pasok globalnya.

 

.
Serpihan bom jenis  MPR 500 yang dijatuhkan dalam serangan udara di rumah keluarga Abu Radwan di  pemukiman Tal al-Sultan West Rafah, membunuh 9 anggota keluarga, 6 anak, 2 perempuan and satu laki-laki, juga melukai 5 orang lainnya. -- Foto Amnesty Internasional

 

“Maersk ada di mana-mana, bukan? Mereka ada di setiap pelabuhan, pada umumnya mereka menggunakan jalan-jalan kita, jembatan kita, infrastruktur publik kita,” kata Nadya Tannous. Nadya mengatakan bahwa dunia menuntut akuntabilitas.

“ Ada banyak cara untuk melakukannya, dan kami berharap laporan ini menjadi salah satu cara untuk memberikan informasi yang sangat berharga dan akurat.” Katanya.

 

 

 

 

 

kali dilihat