Polemik Nyamuk Wolbachia Perangi Kasus DBD

Oleh Nani Afrida

INDEPENDEN --Lengan dr Riris Andono Ahmad berbentol-bentol setelah hampir 15 menit mengumpankan diri untuk nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Ada 1200 ekor nyamuk di dalam kotak, dimana Direktur Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gajah Mada (UGM) ini meletakkan tangannya.

“Ada 600 jantan dan 600 betina di dalam kotak ini,” kata Doni, begitu dia disapa.

Doni sudah bergaul 12 tahun dengan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Hubungan manusia-serangga didasari tugas Doni sebagai peneliti. Maklum, Doni sedang meneliti bagaimana cara mengurangi populasi nyamuk demam berdarah Aedes aegypti yang setiap tahunnya merenggut ribuan nyawa manusia.

Nantinya nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia akan dilepas dan apalagi nyamuk itu kawin dengan nyamuk Aedes yang menyebabkan demam berdarah, maka telur yang dihasilkan nyamuk dari perkawinan itu tidak akan menetas.

Dengan begitu, populasi nyamuk berbahaya itu akan berkurang.

“Nyamuk suka darah yang berkolesterol. Jadi kalau dibilang kami menggunakan warga sebagai kelinci percobaan itu tidak benar. Yang benar justru kamilah peneliti yang jadi kelinci percobaan,” ujar Doni.

Kalimat setengah sindiran itu terungkap secara projek nyamuk ber-Wolbachia memang sempat viral di media sosial dengan segala kontroversinya.

Doni mengatakan bahwa bakteri Wolbachia hanya bisa hidup di dalam sel tubuh serangga.

“Wolbachia itu tidak bisa masuk ke tubuh manusia, karena bakteri wolbachia itu hanya bisa tinggal di dalam sel tubuh serangga. Jadi begitu wolbachia keluar dari sel, maka dia akan mati,” katanya.

Selain Doni, ada banyak peneliti yang juga “wajib” memberi makan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ini. Setidaknya seminggu sekali nyamuk itu harus diberi darah untuk menunjang sistem reproduksi nyamuk tersebut.

Sedikitnya ada lima juta nyamuk yang memiliki bakteri Wolbachia yang harus diberi makan, dan Doni menekankan, selama hampir 12 tahun memberi serangga itu darahnya, dia dan peneliti lain belum mengalami dampak buruk sebagaimana informasi yang viral di media sosial.

“Fase penelitian ini kan sudah selesai, jadi apa yang akan diimplementasikan itu bukan sebagai kelinci percobaan, karena kelinci percobaannya adalah kami,” kata Doni, sambil menambahkan bahwa selama belasan tahun memberi darah untuk nyamuk itu, para peneliti tidak menunjukkan adanya antibody Wolbachia.

Faktanya gigitan nyamuk ber-Wolbachia menurut Doni tidak menimbulkan apa pun selain rasa gatal dan bentol.

 

Penyebaran Nyamuk Ber-Wolbachia di Yogya

Tim peneliti UGM memang optimis dengan nyamuk ber-Wolbachia yang akan menurunkan kasus demam berdarah. Mereka bukan hanya sudah membuktikan keamanan nyamuk tersebut dengan menggunakan tubuh mereka sendiri, tetapi juga dengan penyebaran ember berisi jentik nyamuk ber-Wolbachia di pemukiman masyakarat.

Sasarannya adalah di beberapa kabupaten dan kecamatan di Yogyakarta.

Pelepasan pertama yaitu pada tahun 2014 di wilayah terbatas Kabupaten Sleman dan Bantul. Kemudian pada 2016 penyebaran nyamuk ber-Wolbachia ini dilakukan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan.

“Pelepasan tahap pertama di Kota Yogyakarta berlangsung selama 7 bulan dengan cara menitipkan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia ke rumah warga,” jelas Prof. Adi Utarini, Peneliti Utama WMP Yogyakarta.

Prof Uut --begitu Adi Utarini dipanggil-- mengatakan penitipan ember tersebut selanjutnya meluas pada awal 2017, dan melengkapi seluruh wilayah Kota Yogyakarta pada akhir 2020.

Total tak kurang dari 11.200 ember yang dititipkan kepada orang tua asuh (OTA) nyamuk di seluruh Kota Yogyakarta. Hingga kini, persentase nyamuk yang dapat menghambat penularan virus dengue tersebut stabil tinggi di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

Penelitian yang awalnya bernama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya dan kemudian menjadi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta ini sendiri memang dianggap sukses secara implementasi.

Menurut para peneliti, teknologi nyamuk ber-Wolbachia terbukti efektif mengurangi 77 persen kasus DBD dan 86 persen rawat inap karena Dengue.

Tiarapnya angka kasus DBD memang diakui Dinas Kesehatan Yogyakarta.

“Per-Oktober 2023 ini, terdapat 67 kejadian DBD di Kota Yogyakarta,” jelas dr. Lana Unwanah, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dan Pengelolaan Data Dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

Angka ini merupakan  yang terendah selama sepuluh tahun terakhir ini, mengingat siklus 5 tahunan kejadian DBD Kota Yogya terjadi di 2010, dan selanjutnya 2016.

Lana meyakini, selain dari upaya masyarakat dengan program PSN dan gerakan PHBS, Wolbachia menjadi teknologi yang melengkapi usaha pengendalian DBD yang efektif menurunkan angka kasus di Kota Yogyakarta.

Ilustrasi Fogging nyamuk (Foto Freepik)

Lana juga menekankan kalau than ini alokasi dana fogging hanya terealisasi sedikit. Maklum sepanjang 2023, hanya dilakukan 9 kali  fogging saja. Padahal dulu program fogging bisa dilakukan ratusan kali di wilayah yang sama pada 2016, dan kemudian menurun pada tahun 2017 menjadi 50 kali fogging.

“Dana tersisa yang signifikan bisa dialokasikan ke penyakit lainnya,” kata Lana.

Totok Pratopo, tokoh masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Code, mengatakan meyakinkan masyarakat soal nyamuk ber-Wolbachia itu tidak mudah. Ketua Komunitas Pamerti Code ini memang turut membantu para peneliti.

“Masyarakat bilang, ini mau berantas DBD kok malah melepas nyamuk,” tiru Totok.

Totok pun menjelaskan perihal metode ini dengan bahasa yang mudah dipahami.  Selanjutnya semua tinggal cerita karena masyarakat tak perlu diyakinkan lagi seiring turunnya kasus DBD di wilayahnya setelah pelepasan Wolbachia.

 

Jadi Program Nasional

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, hingga November 2023, tercatat 76.449 kasus DBD dengan 571 kasus kematian.

Angka ini jauh lebih rendah dibanding pada tahun 2022, dimana ada 143.3000 kasus dengan 1.236 kematian.

Meskipun mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, namun kementerian menganggap angka tersebut tetap tinggi.

Tak heran pemerintah menganggap kehadiran inovasi teknologi Wolbachia ini bisa membantu upaya program pemerintah menekan angka penyebaran DBD. Terlebih, musim hujan sudah mulai tiba di Indonesia.

Penebaran nyamuk Wolbachia ini berdasarkan Keputusan Menteri kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaran Pilot project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan dengue.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah berencana menebarkan nyamuk Wolbachia ke tiga kota yaitu Kota Semarang, Kota Bontang, dan Kota Kupang.

“Baru 3 (kota). Peluncuran baru di Semarang, Bontang, dan Kupang. Ini juga bertahap penyebarannya,” kata Nadia

Nadia mengakui, sebelumnya pemerintah menargetkan menebar nyamuk Wolbachia ke lima kota, yakni Kota Semarang, Kota Bontang, Kota Kupang, Kota Jakarta Barat, dan Kota Bandung.

Khusus Kota Jakarta Barat dan Kota Bandung rencananya  baru bisa direalisasikan pada 2024. Alasannya, Kemenkes menunggu kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat. 

“Kita awali dengan penyiapan warga, sosialisasi, dan warga paham manfaatnya,” kata Nadia. 

Sebelumnya Pemerintah juga berencana menebar nyamuk ber-Wolbachia ke Buleleng Bali. Sayangnya rencana ini juga batal akibat penolakan warga.

"Kami tidak akan asal melepaskan nyamuk ini di satu tempat. Semuanya butuh kesiapan, termasuk apakah masyarakat mau menerima," kata Prof Uut.

Selain di Indonesia, pemanfaatan teknologi Wolbachia juga telah dilaksanakan di sembilan negara lain dan hasilnya terbukti efektif untuk pencegahan Dengue. Adapun negara yang dimaksud adalah Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka.

 

Bisa Timbulkan Penyakit Baru

Menyebarkan nyamuk ber-Wolbachia untuk mengurangi populasi nyamuk demam berdarah ini memang menciptakan banyak polemik. Di media sosial banyak masyakarat yang meragukan nyamuk ber-Wolbachia akan “aman-aman” saja.

Apalagi kritik keras diberikan seseorang yang cukup prominen yaitu mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari.

“Penyebaran nyamuk Wolbachia ini membawa risiko bagi kesehatan masyarakat dan bisa menimbulkan penyakit baru yang berbahaya bagi kesehatan rakyat Indonesia. Segera hentikan!” kata mantan menteri kesehatan RI periode 2004—2009 ini seraya menambahkan belum ada yang tahu dampak penyebaran Wolbachia ke depannya.

Siti Fadilah memang cemas. Mantan menteri ini juga memberikan kritik tambahan terkait Wolbachia di akun youtubenya.

“Kenapa harus diterapkan? Itu harus menjadi tanda tanya. Soal penelitiannya it’s okay, tapi apakah kita membutuhkan itu di Indonesia? Itu yang butuh pengkajian lagi. Yang saya tahu yang ingin menyebarluaskan nyamuk itu adalah World Mosquito Program (WMP). Apakah Indonesia perlu? Selama ini tidak ada berita Demam Berdarah melonjak kan nggak ada, kemudian apakah ada berita RS membludak? Tahun 2022-2023 semua aman-aman saja,” ujar Siti Fadilah.

Dia kembali menggarisbawahi bahwa program-program yang sudah dijalankan Kemenkes dalam menangani kasus DBD di Indonesia dengan cara-cara konvensional sudah sangat baik. Seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), 3M, jumantik dan abatisasi.

“Kalau itu jalankan dengan baik saya kira bisa-bisa Deman Berdarah sangat minimal. Pada tahun-tahun ini DBD juga kasusnya tidak mengejutkan, jadi kenapa perlu memanggil nyamuk-nyamuk itu (Wolbachia) untuk mengendalikan DBD. DBD sudah terkendali dengan program Kemenkes yang sukses,” kata Siti menambahkan kalau rencana penyebaran nyamuk itu menjadi tanda tanya besar.

Dia menerangkan, penyebaran nyamuk wolbachia diklaim membuat Aedes aegypti tidak berkembang biak lagi.

"Program pengendalian nyamuk kan selama ini sudah ada dan kita tidak bermasalah soal itu. Tapi tiba-tiba pemerintah melakukan penyebaran nyamuk yang mengandung Wolbachia yang mereka klaim akan bisa memengaruhi, sehingga nyamuk Aedes aegypti itu tidak bisa berkembang biak lagi," terangnya.

Adapun penularan DBD, menurut Siti Fadilah, dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti, yang mana si nyamuk hinggap dari satu orang ke orang lain.

"Nyamuk ini penularannya dengan jalan dia mengambil darah dari orang, kemudian dia terbang lagi mengisap darah ke tubuh orang lain, sehingga orang akan tertular. Nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia tampaknya dia bisa menurunkan mobilitas maupun mortalitas penyakit demam berdarah," dia.

 

Ilustrasi (Foto Freepik)

 

Selain Siti Fadilah, ada juga Dr Kun Wardana Abyoto yang mengatakan dampak dari nyamuk ini dapat mencakup penyakit Japanese Ensepalitis (JE) atau radang otak.

Meskipun vaksin dan obatnya sudah tersedia, ada kekhawatiran terhadap program ini.

Dr Kun Wardana Abyotomen mengatakan belum ada studi menyeluruh di beberapa lokasi, seperti Bali, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Kupang, dan Bontang, yang berpotensi menimbulkan risiko yang tidak terduga.

“Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan dan dampak yang tak terhitung?” gugat Dr Kun Wardana.

Kesangsian Dr Kun Wardana langsung ditepis Prof Uut. Peneliti utama nyamul ber-Wolbachia ini mengatakan tidak ada kaitan antara radang otak Japanese Encephalitis dengan teknologi Wolbachia.

Menurut dia, ternyata Japanese Encephalitis (JE) ini nyamuknya berbeda (Culex) dan penyakitnya juga berbeda.

Sementara itu Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit,Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu menegaskan bahwa penyebaran nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman karena telah melalui proses penelitian yang cukup panjang dengan turut melibatkan banyak ahli.

“Penerapan teknologi nyamuk ber-Wolbachia sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia, dan hasilnya bagus, sudah diujicobakan di Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu dan hasilnya sangat menggembirakan” kata Dirjen Maxi saat menjadi pembicara dalam temu media bertajuk “Mengatasi DBD Dengan Wolbachia” Jumat lalu.

Hasil kajian dan efektivitas ini selanjutnya dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan akhirnya pada tahun 2021 nyamuk ber-wolbachia direkomendasikan oleh WHO.

Meskipun demikian Max mengatakan pelaksanaan nyamuk ber-Wolbachia tetap memerlukan monitoring dan evaluasi secara berkala guna mengetahui perkembangan dari penyebaran nyamuk ber-wolbachia.

Hal ini sedang dilakukan di Yogyakarta. Program WMP Yogyakarta sebagai kegiatan penelitian sudah ditutup pada akhir 2022. Namun monitoring jumlah kasus dengue dan pengamatan nyamuk ber-Wolbachia masih diteruskan.

Prof Uut mengatakan saat ini tengah berlangsung studi pemantauan paska pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta. Studi ini bertujuan untuk mengukur dampak jangka panjang paska pelepasan Wolbachia di Kota Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan 13 perawat di 13 Puskesmas di Kota Yogyakarta untuk merekrut pasien demam dan mengambil darah mereka secara sukarela.

 

 

kali dilihat