Surat dari Jeruji (I) Kenapa Generasi Muda Melakukan Aksi Massa?

 

CATATAN REDAKSI :

Independen.id mendapatkan catatan berisi esai dan pengalaman seorang tahanan bernama Mansurni Abadi di salah satu rumah tahanan di Jakarta. Mansurni adalah aktivis yang mengalami kriminalisasi usai gelombang demo Agustus–September 2025 lalu.  Tulisan itu akan dinaikkan secara berseri sekaligus penanda sudah setahun aksi demonstrasi itu terjadi, namun masih banyak aktivis yang belum bebas.

Oleh :  Mansurni Abadi*

INDEPENDEN--Sudah menjadi keniscayaan di negeri yang menganut paham demokrasi yang mengakui kedaulatan tertingginya ada pada tangan rakyat, akan merasakan momentum dimana rakyat mengekspresikan aspirasinya di ruang publik dalam berbagai bentuk, salah satunya aksi massa.

.
Ilustrasi

 

Aksi massa itu tergolong ke dalam kebebasan berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat. Sebenarnya persoalan aksi massa ini, tidak hanya menjadi keniscayaan di negeri penganut demokrasi bahkan di negeri yang menganut otorianisme atau demokrasi setengah-setengah (pseudo demokrasi).

Persoalan aksi massa, tidak dapat dibendung, meskipun dengan aturan yang mengharamkan aksi massa disertai dengan tindakan-tindakan yang represif. Hal itu terjadi karena kemuakan kolektif yang sudah memuncak secara sporadis dan organik, meskipun tidak selalu berujung pada revolusi tapi aksi massa dapat menjadi langkah taktis terjadinya perubahan meskipun tidak total namun setidaknya penguasa merespon tuntutan-tuntutan masyarakat.

Karena untuk menjadikan aksi massa menjadi revolusi harus diperlengkapi dengan hadirnya figur perjuangan (meskipun tidak harus/kondisional) ; adanya basis ideologi yang mendasari atau membakar jalannya revolusi ; adanya kerja-kerja pengorganisasian, propaganda, dan agitasi yang konsisten ; dan dalam banyak kasus perlu adanya martir (meski ini tidak diharapkan)/ korban akibat tindakan represif aparat yang ke semua itu berkelindan dengan situasi dan kondisi yang semakin membuat rakyat sengsara.

Yang menarik di setiap aksi massa, baik yang berujung pada revolusi maupun gejolak sesaat, peran kaum muda selalu di garda depan sebagai pencetus dan penggerak aksi massa, dari Paris, Hongkong, Kathmandu, Los Angeles, Bangkok, Kairo, Istanbul, New Delhi, Teheran, Tel Aviv, Rio de Jeneiro, sampailah di Jakarta. Anak muda selalu memainkan peran yang begitu penting dalam aksi massa.

Lalu apa yang menyebabkan generasi muda melakukan aksi massa?

Pertama-tama, perlu kita sadari apapun masalah bangsa yang paling berpotensi menanggung dampak dan akibatnya dimasa sekarang sampai masa depan adalah anak muda, oleh karena itu ada sense of urgency yang muncul secara organik dan muncul secara kolektif untuk merespon situasi, tapi bagaimana yang organik dan kolektif lalu memunculkan aksi massa itu muncul?

Ada faktor-faktor lain yang menjadi pendorong, kenapa generasi muda menjadi pencetus atau katalis aksi massa?

Faktor pertama berkaitan dengan intelektual progresif di kalangan generasi muda yang menjadi pendorong membuat mereka kritis dan sadar akan masalah-masalah bangsa.

Intelektual yang progresif itu bukan hanya menumpuk informasi di kepala tapi menurunkannya menjadi tindakan untuk bersuara dalam medium apapun terkait masalah bangsa.

 

* Aktivis Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPID). Organisasi para mahasiswa atau pelajar asal Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri dan Kader serta mantan Pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang istimewa Malaysia.

Tulisan ini dari ditulis tangan dari balik teralis pada 10 Juli 2026, di transkrip Chepy dan dikurasi Edi Faisol 

kali dilihat