Oleh Rendy Tisna
INDEPENDEN-- Alamsyah begitu terpukul ketika menemukan 11 individu bekantan (Nasalis larvatus) terpanggang dan bertumpuk di antara pepohonan rumbia (Metroxylon sagu) dekat Sungai Banuaan, Minggu, 13 September 2026.
“Saya yang menemukan dan mengubur mereka,” kata Alamsyah, Kepala Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Hari itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam skala besar mengepung Desa Balimau. Api bergerak cepat, didorong angin kencang, membakar vegetasi dan mengepung habitat satwa yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan warga.
Sekitar pukul 15.00 Wita, sebagian kelompok kecil bekantan yang selama ini menghuni kawasan hutan desa tiba-tiba keluar dari habitatnya. Mereka bergerak menuju sungai, tepatnya di sekitar titik koordinat -2.830567, 115.125936.
“Barangkali saat itu mereka sedang mencari minum di tepi sungai,” ujar Alamsyah kepada Independen.id, Kamis, 17 September.
Namun, tempat yang mungkin mereka datangi untuk mencari air justru berubah menjadi perangkap. Api di sekitar lokasi semakin meluas. Tiupan angin kencang membuat kobaran merembet begitu cepat dan sulit dikendalikan hingga mencapai vegetasi tempat kelompok bekantan berada.
Primata berhidung panjang yang dikenal pemalu itu kemudian memilih bertahan di antara pepohonan rumbia ketika api semakin mendekat. Tetapi ruang untuk melarikan diri semakin menyempit.
Mereka terisolasi.
Di sisi lain, warga dan relawan berusaha memadamkan api dari jalan raya. Namun kobaran terus bergerak mengikuti arah angin.Setelah api berhasil dijinakkan, bangkai bekantan ditemukan di antara vegetasi yang terbakar. Sepuluh di antaranya berukuran dewasa. Satu lainnya masih kecil.
“Ada anaknya yang sedang berpelukan dengan orang tuanya,” kata Alamsyah lirih.

Bagi Alamsyah, kematian 11 bekantan itu bukan sekadar peristiwa kematian satwa. Ia sudah mengenal keberadaan mereka selama bertahun-tahun.
Sejak 2016, ia berulang kali mengamati kawanan bekantan di sekitar kampung.
“Tidak hanya bekantan, di sini juga ada lutung dan monyet ekor panjang.”
Atas inisiatif pribadi, Alamsyah berusaha menjaga habitat satwa tersebut. Ia memasang spanduk berisi imbauan agar warga menjaga kawasan hutan. Spanduk itu pernah dipasang pada 2018 dan kembali dipasang pada 2024.
Namun tekanan terhadap habitat terus datang.
Di bagian utara hingga barat desa, kawasan hutan mulai terdesak konsesi perkebunan monokultur. Meski begitu, berdasarkan pengamatan Alamsyah, populasi bekantan di wilayah tersebut masih relatif baik. Ia memperkirakan terdapat sekitar 60 individu.
“Saya sudah lama mengamati mereka. Kadang ada di belakang rumah juga,” ujarnya.
Karena itu, ia bersama warga berharap kawasan yang masih tersisa dan relatif terjaga dapat dipertahankan, bahkan diarahkan menjadi kawasan konservasi.
Harapan itu semakin menguat setelah survei bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan dilakukan sehari setelah kejadian. Sepengetahuan Alamsyah, lahan yang ditinjau pemerintah masih cukup luas dan dinilai sesuai untuk mendukung keberlangsungan satwa.
“Hikmah atas kejadian ini harus dibayar mahal. Semoga saja jadi kawasan konservasi,” harapnya.

Habitat di luar kawasan hutan
Jarot Jaka Mulyono, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan pada BKSDA Kalimantan Selatan, mengatakan habitat bekantan di lokasi kejadian berada di Areal Penggunaan Lain (APL), atau di luar kawasan hutan.
Habitat tersebut terdiri atas tanah desa seluas kurang lebih 8 hektare dengan tutupan vegetasi berupa semak, galam, renghas, bungur, dan halaban.
Selain itu, terdapat tanah hak milik seluas sekitar 1,3 hektare. Kedua areal tersebut terfragmentasi oleh jalan aspal.
Tim Rescue Satwa BKSDA Kalsel yang menindaklanjuti laporan kematian satwa di lokasi menemukan korban lain. Selain 11 bekantan, mereka menemukan satu ular piton dan satu individu king kobra yang juga mati.
Jarot mengatakan BKSDA telah memiliki peta sebaran satwa. Namun, pemetaan khusus yang menghubungkan sebaran habitat satwa dengan kawasan rawan karhutla belum dilakukan. Padahal, di sekitar habitat bekantan terdapat konsesi perkebunan.
Menurut Jarot, masih ada areal yang dapat dipertahankan dan dipulihkan sebagai habitat bekantan. Ke depan, BKSDA mengusulkan tanah desa dan tanah milik yang saat ini menjadi habitat bekantan tersebut sebagai area habitat dengan luas sekitar 9 hektare.
“Ada areal yang masih bisa dipulihkan,” ujar Jarot, Kamis, 17 September.
Berdasarkan data BKSDA Kalimantan Selatan, populasi bekantan pada 2025 tercatat sebanyak 3.757 individu yang tersebar di 11 kabupaten dan kota, baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Khusus di kawasan konservasi, BKSDA mencatat 1.281 individu bekantan yang tersebar di 12 kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah.
Angka itu menunjukkan bahwa kematian 11 bekantan di Balimau tidak serta-merta berarti populasi bekantan secara keseluruhan berada di ambang kepunahan.
Namun, peristiwa tersebut menunjukkan persoalan lain yang tak kalah penting: bagaimana nasib populasi-populasi kecil yang hidup di habitat yang terfragmentasi dan berada di luar kawasan konservasi?

Pohon menjadi perangkap
Amalia Rezeki dari Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) menilai kematian bekantan di Balimau harus dilihat sebagai alarm serius terhadap kondisi habitat satwa tersebut.
Persoalannya, kata dia, bukan hanya jumlah individu yang mati terbakar, tetapi juga habitat yang semakin terfragmentasi dan rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Bekantan sangat bergantung pada habitat tepian sungai, rawa, mangrove, serta vegetasi di sepanjang koridor perairan. Namun, tidak seluruh habitat tersebut berada di dalam kawasan konservasi.
“Jadi, ketika kita berbicara tentang penyelamatan bekantan, kita tidak bisa hanya menjaga kawasan konservasinya saja. Habitat di luar kawasan juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kasus Balimau memperlihatkan betapa serius persoalan yang dihadapi bekantan di tengah karhutla.
Habitat bekantan di wilayah tersebut relatif terbatas dan terpisah oleh jalan. Ketika api masuk disertai angin kencang, ruang bagi bekantan untuk menyelamatkan diri menjadi sangat terbatas.
Bagi satwa arboreal seperti bekantan, pohon merupakan tempat berlindung. Namun, ketika vegetasi di bawahnya terbakar dan api menyebar dengan cepat, pohon justru dapat berubah menjadi perangkap.
“Dan menurut saya, ancamannya bukan hanya api. Asap pekat, hilangnya pohon pakan, hilangnya tempat tidur, terganggunya koridor pergerakan, sampai perubahan kualitas air juga merupakan tekanan ekologis yang harus kita perhitungkan. Kita pernah melihat pada kejadian kebakaran sebelumnya di habitat bekantan bahwa dampaknya bisa meluas ketika api dan asap mencapai kawasan tepian sungai.”
Meski demikian, Amel meminta ancaman terhadap bekantan tidak digeneralisasi sebagai ancaman terhadap seluruh populasi.
“Jadi, apakah semua bekantan sekarang terancam? Saya kira kita harus hati-hati mengatakan demikian. Tidak berarti seluruh populasi bekantan di Kalimantan Selatan akan mengalami nasib yang sama. Tetapi saya bisa mengatakan bahwa risiko terhadap populasi-populasi bekantan yang habitatnya berada di kawasan yang terfragmentasi dan rawan terbakar memang semakin tinggi.”
Karena itu, menurut Amel, upaya penyelamatan harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi, bukan baru bergerak ketika satwa sudah terjebak api.
Ada beberapa langkah yang menurutnya perlu dilakukan.
Pertama, habitat bekantan di luar kawasan konservasi perlu dipetakan dan diidentifikasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran.
Kedua, patroli dan pemantauan perlu diperkuat pada musim rawan karhutla, terutama di sepanjang koridor sungai yang menjadi habitat bekantan.
Ketiga, masyarakat yang tinggal berdampingan dengan habitat bekantan harus menjadi bagian utama dari sistem perlindungan.
Pemerintah, lembaga konservasi, masyarakat desa, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, BKSDA, akademisi, dan kelompok konservasi perlu memiliki sistem komunikasi cepat ketika muncul titik api.
“Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga dan memulihkan koridor habitatnya. Kalau habitat bekantan hanya berupa pulau-pulau kecil vegetasi yang terisolasi, ketika terjadi kebakaran satwa akan semakin sulit berpindah ke tempat yang aman.”
Karena itu, restorasi vegetasi tepian sungai, penanaman kembali jenis tumbuhan pakan dan pohon tidur, serta menjaga konektivitas ant habitat menjadi investasi konservasi jangka panjang.

Bukan hanya api, tetapi juga air yang berubah asin
Jauh sebelum 11 bekantan ditemukan mati terbakar di Balimau, dampak kemarau panjang sebenarnya sudah dirasakan populasi bekantan di wilayah lain.
Amel mencontohkannya di kawasan Delta Barito.
Saat memasuki Agustus, wilayah kerja Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) di Pulau Curiak, Barito Kuala, mulai terdampak kabut asap.
Padahal, belum ada kebakaran di lokasi pemantauan.
Asap sudah menjadi salah satu tekanan bagi bekantan.
Sebanyak 61 individu tercatat berada di kawasan tersebut. Tim SBI rutin berpatroli di sungai sekaligus memantau perubahan perilaku satwa.
Ketika suhu meningkat ekstrem, sejumlah bekantan terlihat lebih banyak berlindung di pepohonan kariwaya atau beringin yang rimbun.
Namun kemarau panjang membawa persoalan lain: air tawar semakin terbatas.
Kondisi tersebut menyebabkan air laut masuk ke sungai dan membuat sumber air yang biasa digunakan bekantan menjadi asin.
“Imbasnya bukan hanya kabut asap, tapi musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan sumber air minum tawar terintrusi air laut. Multi efek jadinya,” katanya.
Intrusi air laut tidak hanya memengaruhi sumber air. Vegetasi yang menjadi pakan bekantan juga ikut terdampak.

Menurut Amel, kondisi tersebut menyebabkan peranggasan atau pengguguran daun mangrove rambai, salah satu sumber pakan bekantan di kawasan tersebut.
Dengan sumber air tawar yang semakin terbatas, SBI kini menyusun rencana penyediaan air minum bagi satwa liar. Teknologi filtrasi air di Pulau Curiak juga sudah berjalan.
Amel mengatakan konsumsi air yang terlalu asin secara terus-menerus dapat meningkatkan beban kerja ginjal dan mengganggu metabolisme tubuh. Kondisi tersebut juga dapat memicu dehidrasi.
“Pada dasarnya bekantan yang merupakan golongan primata, hampir sama sistem fisiologinya dengan manusia,” kata dia sambil menambahkan, “Kami lagi berencana hendak mengolah juga sumber-sumber air minum tawar untuk satwa liar,” katanya.
Rencana tersebut masih dalam tahap penyusunan dan pengumpulan dana. SBI menargetkan penyediaan sumber air tawar bagi satwa dapat dilakukan dalam waktu sekitar sebulan.