Menantang ''Kiamat'' Iklim dengan Padi Riun

Oleh: Demon Fajri 

INDEPENDEN-  Raungan bising knalpot sepeda motor modifikasi memecah keheningan belantara. Menembus jalan setapak berbatu yang perlahan berubah menjadi kubangan lumpur licin akibat guyuran rintik hujan. Di ujung jalan Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Bengkulu, sebuah wilayah yang terisolasi dari sinyal seluler (blank spot), kehidupan berjalan dengan ritme yang melambat, namun menyimpan ketangguhan luar biasa.

Di dalam sebuah rumah kayu, Jaina, seorang perempuan berusia 70 tahun, tampak santai bercengkerama dengan anaknya. Sudah lebih dari 40 tahun guratan bukit pedalaman Lebong menjadi saksi bisu kesehariannya. Di usia senjanya, Jaina bukan sekadar seorang ibu dari sembilan anak; ia adalah salah satu tameng hidup yang menjaga desanya dari ancaman kelaparan di tengah gempuran perubahan iklim global.

Senjatanya? Sebutir benih warisan leluhur bernama Padi Riun.

Padi Riun yang disimpan di dalam Bileak atau Lumbung Padi masyarakat adat Sungai Lisai
Padi Riun yang disimpan di dalam Bileak atau Lumbung Padi masyarakat adat Sungai Lisai 

Rumpun Sebesar Paha dan Rahasia Lumbung 20 Tahun

Bagi Komunitas Adat Sungai Lisai, Padi Riun adalah "padi rimba" yang sakral. Ketika varietas padi modern menuntut ketergantungan yang tinggi pada pupuk kimia dan perawatan yang rumit, Padi Riun justru tumbuh kokoh dalam kesederhanaan.

Jaina mengisahkan efisiensi luar biasa dari varietas lokal ini. Untuk lahan sawah seluas seperempat hektare miliknya, ia hanya membutuhkan sekitar 35 kilogram (2,5 kaleng) bibit. Angka ini hanya separuh dari padi varietas biasa yang menghabiskan hingga 70 kilogram bibit untuk luas lahan yang sama.

"Dengan menanam seperempat hektare saja, hasil gabahnya bisa mencapai 50 kiding (sekitar 25 karung ukuran 50 kg). Kalau padi biasa, paling hanya dapat 12 sampai 15 karung," tutur Jaina dengan mata berbinar, beberapa waktu lalu.

Padi Riun memiliki sejumlah keunggulan agronomi yang membedakannya dari varietas padi modern. Salah satu keistimewaannya adalah kemampuan multiplikasi rumpun yang sangat tinggi. Dari hanya tiga bulir bibit yang ditanam, Padi Riun mampu menghasilkan antara 30 hingga 60 rumpun padi yang tumbuh rimbun, bahkan beberapa di antaranya dapat mencapai ukuran sebesar paha orang dewasa. Selain itu, Padi Riun juga memiliki ketahanan alami terhadap hama, khususnya tikus.

Karakteristik rumpunnya yang besar dan rasa batangnya yang tidak semanis padi modern membuat tikus cenderung enggan mendekati tanaman ini. Keunggulan lainnya terletak pada daya simpannya yang luar biasa. Gabah kering Padi Riun yang disimpan dalam Bileak atau lumbung adat dapat bertahan hingga 20 tahun tanpa mengalami perubahan rasa, menimbulkan bau, maupun terserang kutu. Kemampuan ini menjadikan Padi Riun tidak hanya penting sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai cadangan pangan jangka panjang yang mendukung ketahanan pangan masyarakat adat.

Hal senada diamini oleh Adha Yani (37). Sejak tahun 2012, ia telah membudidayakan padi tua ini di lahan setengah hektare miliknya dan memanen 45 karung gabah bernilai tinggi.

"Berasnya kalau dimasak sangat mengembang. Cukup empat canting beras untuk memberi makan satu keluarga seharian. Yang terpenting, padi ini tangguh iklim dan sama sekali tidak butuh pupuk," jelas Yani, beberapa waktu lalu.

Ritual Tujuh Lubang dan Titah Dukun Padi

 

 Jaina (70) Dukun Padi, Perempuan Masyarakat Adat Sungai Lisai.
 Jaina (70) Dukun Padi, Perempuan Masyarakat Adat Sungai Lisai.

 

 

 

Ketahanan pangan di Sungai Lisai tidak tegak hanya karena keunggulan genetika tanaman, melainkan karena kearifan lokal yang mengakar sejak tahun 1965. Proses menanam Padi Riun adalah sebuah siklus spiritual yang panjang.

Ketua Adat Desa Sungai Lisai, Hasan Mukti (76), atau yang akrab disapa Datuk Hasan, menjelaskan bahwa setiap tahapan pertanian harus melibatkan doa dan restu alam melalui perantara Dukun Padi.

Siklus budidaya Padi Riun tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pertanian, tetapi juga terjalin erat dengan nilai-nilai spiritual dan tradisi masyarakat. Rangkaian ritual dimulai sekitar satu minggu sebelum masa tanam melalui kenduri atau syukuran desa sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan. Saat proses turun tanam, Dukun Padi diundang ke sawah untuk menanam bibit pertama pada tujuh lubang keramat. Setiap lubang diisi tiga bulir padi dengan jarak tanam yang telah ditentukan, yaitu 25 sentimeter, sambil diiringi mantra dan doa-doa adat.

Ketika tanaman memasuki usia sekitar empat bulan dan bulir mulai berisi, Dukun Padi kembali hadir untuk memimpin ritual doa di hamparan sawah dengan harapan hasil panen melimpah dan terhindar dari gangguan. Memasuki usia lima bulan atau masa panen, doa keselamatan kembali dipanjatkan sebelum bulir padi dituai.

Rangkaian ritual tersebut berlanjut hingga pasca-panen, ketika beras hasil panen pertama kali ditumbuk dan dimasak menjadi nasi. Pada tahap ini, Dukun Padi kembali memimpin doa kesyukuran di dapur petani sebagai ungkapan terima kasih atas hasil panen yang telah diperoleh. Setiap tahapan dalam siklus Padi Riun tidak hanya merepresentasikan aktivitas bercocok tanam, tetapi juga mencerminkan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Berbeda dengan padi modern berumur pendek yang dipanen dengan cara disabit dalam waktu 1-2 hari, Padi Riun menuntut kesabaran. Padi ini harus dirobohkan terlebih dahulu karena tingginya yang mencapai 180 cm, lalu dituai helai demi helai menggunakan ani-ani selama hampir 20 hari.

Datuk Hasan mengenang, benih ini pertama kali ia bawa dari Muara Madras, Jambi, pada tahun 1965 (sehingga kerap disebut Padi Madras). Dari modal awal puluhan tahun lalu itulah, 97 Kepala Keluarga di desa ini bisa tidur nyenyak tanpa takut krisis pangan global.

 

Ketua Adat Desa Sungai Lisai, Hasan Mukti (76)
Ketua Adat Desa Sungai Lisai, Hasan Mukti (76) 

Hukum Adat: Benteng Hijau di Hulu Sungai

Masyarakat Sungai Lisai sadar, kelestarian Padi Riun dan ruang hidup mereka terancam jika pintu masuk desa dibuka lebar tanpa filter. Oleh karena itu, aturan adat dideformasikan ke dalam hukum formal melalui Peraturan Desa (PerDes) Nomor:/PerDes/SL-PB/V/2023.

Orang luar yang ingin menetap wajib mengikuti seleksi adat yang ketat. Tak hanya itu, ekosistem air mereka diproteksi dengan sanksi berat. Siapa pun yang nekat menyetrum, meracun, atau mengebom ikan di sungai desa akan dijatuhi denda adat berupa 20 gantong beras (sekitar 200 canting), satu ekor kambing, serta denda uang.

"Lumbung padi (Bileak) adalah jantung kehidupan mereka. Di dalam Bileak berukuran 2,5 x 4 meter, mereka bisa menyimpan hingga 300 kg gabah. Bahkan ada warga yang masih menyimpan gabah sejak tahun 1998 dan kondisinya masih layak konsumsi," ungkap Ketua Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, Fahmi Arisandi, Selasa 23 Juni 2026.

AMAN Bengkulu dan UMY Kolaborasi Riset Padi Riun

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Bengkulu menggandeng Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk melakukan kolaborasi riset strategis terkait pelindungan varietas padi tradisional. Riset ini berfokus pada salah satu varietas lokal khas, Padi Riun.

Proses pengumpulan dan pengambilan sampel Padi Riun sendiri telah rampung dilaksanakan pada November 2025 lalu. Kolaborasi ini menandai langkah serius dalam menjaga warisan pertanian komunitas adat di Bengkulu agar tidak hilang atau diklaim secara sepihak oleh pihak luar.

Riset ini tidak hanya melihat Padi Riun sebagai komoditas pangan atau padi lokal biasa.

''Fokus utama penelitian adalah membangun sistem pelindungan hukum yang kuat terhadap varietas tradisional milik komunitas adat tersebut,'' ungkap Fahmi Arisandi, Ketua Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu.

Padi Riun dipandang sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual (KI) kelompok masyarakat adat yang memuliakan dan merawatnya secara turun-temurun. Selama ini, varietas lokal sering kali rentan terhadap eksploitasi tanpa adanya keadilan bagi komunitas asal. Melalui riset ini, AMAN Bengkulu dan UMY ingin memastikan hak-hak masyarakat adat atas benih tradisional mereka diakui oleh negara.

Pendekatan Indikasi Geografis

Untuk memberikan proteksi hukum yang maksimal, tim riset menggunakan pendekatan Indikasi Geografis (IG). Indikasi Geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis (termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut) memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan.

Dengan pendekatan Indikasi Geografis ini, Padi Riun nantinya akan memiliki identitas hukum yang kuat yang melekat pada wilayah geografis dan komunitas adat Bengkulu.

''Langkah ini diharapkan dapat mencegah pembajakan hayati (biopiracy) sekaligus meningkatkan nilai ekonomi padi tradisional tersebut tanpa mencabut akar budayanya dari komunitas asli,'' jelas Fahmi Arisandi, Ketua Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, Selasa, 23 Juni 2026. 

Meskipun laporan Kementerian PP/Bappenas-LCDI mencatat kontribusi emisi sektor pertanian nasional relatif rendah (sekitar 12% hingga 13% dari total emisi Indonesia), upaya menekan angka tersebut tetap menjadi kewajiban moral.

Guru Besar Pemuliaan Tanaman Universitas Bengkulu, Prof. Mohammad Chozin, menambahkan bahwa jenis varietas padi sangat memengaruhi volume emisi metana yang dilepaskan.

"Beberapa varietas padi seperti Mekongga, Cigeulis, Membramo, dan Inpari 13 dilaporkan menghasilkan emisi yang rendah. Selain itu, teknik pengairan berselang (intermittent) serta pengurangan input kimia sintetis seperti Urea dan NPK sangat membantu menyeimbangkan pelepasan gas berbahaya di lahan persawahan," urai Prof. Chozin, Selasa, 23 Juni 2026.

Antara Korban dan Penyumbang Emisi

Hubungan antara pertanian dan perubahan iklim bak pisau bermata dua. Di satu sisi, sawah-sawah menjadi korban utama dari cuaca ekstrem. Di sisi lain, aktivitas budidaya pertanian ikut andil menyumbang Gas Rumah Kaca (GRK) seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida.

Yansen, seorang akademisi sekaligus Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, menjelaskan bagaimana ironi ini terjadi. Keterbatasan lahan di Bengkulu kerap memicu okupasi area hutan untuk pertanian musiman, yang secara langsung memangkas vegetasi alami penyerap karbon.

"Dari aspek budidaya, pertanian padi sawah memang melepaskan metana ke udara akibat genangan air dan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba secara anaerob (tanpa oksigen)," jelas Yansen, Selasa 23 Juni 2026.

Bilek atau Lumbung padi masyarakat Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong

Menjaga Ketahanan Pangan Masa Depan

Ikhtiar panjang ini bermuara pada satu target besar: menjaga perut masyarakat Bengkulu tetap aman. Berdasarkan rilis data terbaru BPS Provinsi Bengkulu, Kamis, 12 Februari 2026, Luas Panen 7.858,00 hektare, Produktivitas: 59,82 kuintal/hektare, Produksi Padi: 47.004,00 ton, Konversi Beras: 27.073,00 ton. 

Di mana produksi padi di Kabupaten Lebong, tahun 2025, GKG (Gabah Kering Giling) mencapai 47.004,00 ton dari luas panen 7.858,00 hektare. Potensi produksi gabah di wilayah ini termasuk yang tertinggi di Provinsi Bengkulu.

Tantangan alam berupa perubahan iklim dan kenaikan suhu bumi memang nyata di depan mata. Namun, lewat sinergi sains meteorologi, inovasi varietas rendah emisi, serta kerelaan petani mengubah mindset kuno, sawah-sawah di Bengkulu diharapkan akan tetap menguning, menjadi benteng pangan yang kokoh bagi generasi masa depan.

Sementara dunia luar sibuk memperdebatkan solusi krisis iklim global di meja-meja konferensi, masyarakat adat Sungai Lisai telah mempraktikkannya di bawah kaki perbukitan Bengkulu. Di dalam sunyinya belantara dan kokohnya dinding kayu Bileak, Padi Riun terus berbiak—menjadi bukti bahwa masa depan pangan manusia mungkin tidak terletak pada teknologi masa kini, melainkan pada kearifan masa lalu yang dirawat dengan hati.

kali dilihat