Oleh Redaksi Independen
INDEPENDEN — Indonesia dinilai masih menjadi pasar yang menarik bagi investor modal swasta (private equity/PE) dan modal ventura (venture capital/VC) di kawasan Asia Pasifik. Namun, berbagai tantangan tata kelola dan regulasi membuat investor perlu menerapkan strategi yang lebih hati-hati saat menanamkan modal di Tanah Air.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow (APAC PE/VC Edition 2026) yang diluncurkan oleh Vistra Fund Solutions dan DealStreetAsia.
Vistra Fund Solutions dan DealStreetAsia adalah dua entitas terkemuka yang berkolaborasi dalam menyediakan data, riset, dan analisis mendalam mengenai ekosistem modal ventura (VC) dan ekuitas swasta (PE) di kawasan Asia-Pasifik.
Laporan ini menunjukkan bahwa faktor regulasi, standar tata kelola, jalur keluar investasi (exit route), risiko mata uang, dan kemampuan eksekusi lokal kini menjadi penentu utama dalam keputusan investasi.

Berdasarkan survei terhadap 105 pengelola dana investasi yang beroperasi di 15 pasar Asia Pasifik, Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan tingkat hambatan investasi (friction) yang relatif tinggi bersama Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Para responden menyoroti tantangan terkait tata kelola, ketidakpastian regulasi, jalur keluar investasi, dan volatilitas ekonomi makro.
Dalam pemetaan Opportunity-Friction Quadrant, Indonesia masuk kategori “precision-entry markets” bersama Thailand, Filipina, dan Kamboja. Kelompok ini dinilai membutuhkan seleksi sektor yang lebih ketat, kemampuan eksekusi lokal yang kuat, serta perencanaan exit yang jelas sejak awal investasi.
Executive Vice President APAC Vistra Fund Solutions, David Anderson, mengatakan lanskap investasi di Asia Pasifik kini tidak lagi hanya ditentukan oleh potensi pertumbuhan ekonomi.
“Kisah modal swasta di Asia Pasifik tidak lagi hanya tentang di mana pertumbuhan berada. Yang terpenting adalah di mana para pengelola dana dapat mengubah pertumbuhan tersebut menjadi keuntungan. Mengalokasikan investasi ke Asia Pasifik sebagai satu kesatuan sudah tidak relevan. Kini pendekatannya harus dilakukan per negara dan per strategi investasi,” kata Anderson.
Laporan tersebut menempatkan India sebagai negara dengan peluang investasi tertinggi di kawasan dengan skor 0,78, jauh di atas rata-rata Asia Pasifik sebesar 0,64. Jepang sebesar 0,72, sementara Singapura mencatat 0,71. Di sisi lain, Singapura menjadi negara dengan tingkat hambatan investasi terendah berkat kejelasan regulasi, standar tata kelola yang kuat, infrastruktur pasar yang matang, dan kedalaman institusional yang lebih baik.
Bagaimana dengan Indonesia?
Meskipun masuk kategori “precision- entry market”, Indonesia tetap dipandang memiliki peluang investasi yang cukup menarik. Dalam APAC PE/VC Opportunity Index, Indonesia memperoleh skor 0,57, setara dengan Filipina. Skor tersebut menunjukkan masih adanya potensi pertumbuhan dan penciptaan nilai, meski investor menilai tantangan eksekusi investasi relatif tinggi.
Laporan itu menunjukkan bahwa investor private equity (PE) cenderung lebih optimistis terhadap Indonesia dibanding investor modal ventura (VC). Menurut survei, investor PE melihat peluang yang lebih besar dari proses formalisasi usaha, konsolidasi industri, dan peningkatan kinerja operasional perusahaan di Indonesia.
Namun, sejumlah faktor masih menjadi perhatian investor. Indonesia termasuk pasar yang dinilai paling sensitif terhadap persoalan tata kelola perusahaan (governance). Responden menyoroti standar pelaporan, pengendalian internal, risiko transaksi pihak terafiliasi, serta konsistensi penegakan aturan sebagai tantangan utama dalam berinvestasi.
Selain itu, Indonesia juga dinilai menghadapi tantangan dalam aspek likuiditas investasi. Dibanding sejumlah negara lain di kawasan, Indonesia masih tertinggal dalam akses terhadap pasar saham untuk IPO, kedalaman calon pembeli strategis, dan infrastruktur transaksi yang mendukung proses pelepasan investasi

Risiko nilai tukar juga menjadi perhatian investor. Indonesia bersama India memiliki tingkat eksposur risiko valuta asing (foreign exchange/FX) tertinggi di kawasan dengan skor 0,71, menjadikan fluktuasi mata uang sebagai salah satu faktor yang diperhitungkan dalam keputusan investas
Selain memetakan peluang dan hambatan investasi, para periset juga menemukan bahwa penggalangan dana baru semakin sulit dilakukan. Hanya 19,3 persen responden yang berhasil menutup penggalangan dana dalam waktu kurang dari satu tahun, menunjukkan bahwa investor institusional kini lebih selektif dalam menempatkan modal mereka.
Head of Research DealStreetAsia, Andi Haswidi, menilai tantangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, dan semakin sempitnya peluang exit membuat investor harus lebih disiplin dalam mengeksekusi strategi investasi.
“Asia Pasifik tetap menjadi wilayah utama bagi investasi PE dan VC, tetapi siklus berikutnya akan ditentukan oleh disiplin dalam eksekusi. Risiko geopolitik, volatilitas ekonomi makro, dan kondisi exit yang lebih ketat memaksa pengelola dana untuk lebih presisi dalam menentukan lokasi investasi, membangun nilai perusahaan, dan mengembalikan modal kepada investor,” ujar Haswidi.
Meski menghadapi berbagai hambatan, sebagian besar pengelola dana tidak menarik diri dari pasar yang dianggap kompleks. Sebaliknya, mereka memilih memperkuat kehadiran lokal, meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, memperkuat tata kelola sejak awal investasi, serta menata ulang portofolio yang dinilai kurang efektif.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kemampuan mengelola kompleksitas pasar kini menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kemampuan menemukan peluang investasi yang menjanjikan.