Anak Gajah Sumatera Nyaris Tewas di Konsesi Michelin

INDEPENDEN- Seekor anak gajah Sumatra liar ditemukan dalam kondisi kritis setelah hampir dua minggu terjerat, dengan luka menganga di bagian kaki, di Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Berdasarkan informasi yang diperoleh Geopix dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, insiden tersebut terjadi di kawasan konsesi PT LAJ, anak perusahaan Michelin Group, perusahaan ban multinasional asal Prancis.

Anak gajah tersebut diperkirakan terjerat saat menjelajah bersama kelompoknya di Bentang Alam Bukit Tigapuluh pada 11–14 Juni 2026. Selama hampir dua minggu, ia bertahan dengan luka serius di kakinya hingga akhirnya ditemukan dan diselamatkan. Berkat penanganan yang cepat dan perawatan yang memadai, kondisinya kini berangsur pulih dan telah kembali berkumpul dengan induk serta kelompoknya.

Geopix memberikan apresiasi yang tinggi kepada tim gabungan BKSDA Jambi, Frankfurt Zoological Society (FZS), dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan. Keberhasilan ini menjadi bukti penting bahwa respons cepat dan kerja sama lintas pihak dapat menyelamatkan satwa liar yang terancam.

“Hanya selisih 4 hari setelah kelahiran Nona Seroja di TN Tesso Nilo, kita semua kembali menyaksikan suatu kejadian yang sangat memprihatinkan bahwa seekor anak gajah liar harus menyabung nyawa akibat jerat yang dipasang di dalam wilayah konsesi PT. LAJ, Jambi Hal ini semakin membuktikan bahwa ancaman terhadap habitat gajah sumatera tidaklah surut. Salah satu “rumah” gajah sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh semakin tidak aman,” ungkap Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix dalam rilisnya.

Kondisi memprihatinkan di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh tersebut adalah keberadaan pagar listrik yang terpasang sekitar 70 km di seluruh Kawasan konsesi PT LAJ yang sekitar 46,6km-nya berada di dalam wilayah Wildlife Conservation Area (WCA) mereka, sebagaimana telah dilaporkan oleh Geopix sejak bulan Mei tahun lalu. Pagar listrik tersebut yang telah menewaskan gajah Umi pada akhir tahun 2024 dan memutus koridor gajah yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Kini ditambah lagi bahaya besar berikutnya berupa jerat yang menghantui pergerakan gajah sumatera di bentang alam tersebut.

“Peristiwa ini menunjukkan salah satu kegagalan Michelin Group dalam memenuhi janjinya untuk melindungi habitat gajah sumatera dari perusakan wilayah hutan yang makin masif. Michelin Group sebagai pemegang konsesi hutan produksi tidak boleh melakukan pembiaran dan melepas tanggung jawabnya untuk secara aktif melindungi habitat dan jalur jelajah gajah di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan atau dipenuhi, sebaiknya Michelin Group berhenti untuk mempromosikan komoditas karetnya sebagai green rubber di pasar ban dunia,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Bentang Alam Bukit Tiga Puluh merupakan ekosistem hutan yang penting dan menjadi “rumah besar” tidak hanya bagi gajah sumatera tetapi juga satwa-satwa liar penting lainnya seperti harimau sumatera dan orangutan d. Kantung populasi gajah di bentang alam ini hanya menyisakan tidak lebih dari 129 ekor dari keseluruhan kurang lebih 1200 ekor populasi gajah sumatera yang tersebar dan terfragmentasi habitatnya di 21 kantong populasi di Sumatera.

kali dilihat