INDEPENDEN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Prediksi itu disampaikan dalam keterangan resminya.
Saat ini, musim kemarau terus meluas dan hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah wilayah semakin panjang akibat pengaruh fenomena El Niño yang masih berada pada kategori kuat.
Berdasarkan analisis BMKG hingga Dasarian II Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

BMKG mencatat 1.366 titik pengamatan mengalami HTH selama 21–30 hari, 943 titik mengalami HTH 31–60 hari, dan 70 titik telah mengalami HTH lebih dari 60 hari.
Kondisi paling ekstrem tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang telah mengalami 80 hari berturut-turut tanpa hujan. Sebagian besar wilayah dengan periode kering terpanjang berada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan melanda sekitar 369 Zona Musim atau 48,84 persen wilayah Indonesia pada Agustus 2026. Selanjutnya, pada September, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 169 Zona Musim atau sekitar 25,41 persen wilayah.
Di beberapa daerah, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih lama hingga November 2026.
Wilayah yang diperkirakan mengalami dampak paling besar meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sebagian wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta sebagian wilayah barat Kalimantan dan Sumatra bagian selatan.

Masih Potensi Hujan
Meski kemarau semakin meluas, BMKG mengingatkan bahwa hujan lebat masih berpotensi terjadi di beberapa daerah akibat dinamika atmosfer yang masih aktif.
Dalam dua hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi tercatat di Sumatera Selatan sebesar 79 milimeter per hari, Aceh 75 mm per hari, Sumatera Barat 69 mm per hari, Sulawesi Utara 56 mm per hari, dan Kepulauan Riau 55 mm per hari.
Menurut BMKG, hujan tersebut dipicu oleh aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi Sumatra bagian utara dan Sulawesi Tengah, Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif di sebagian Sumatra, serta keberadaan Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina, utara Maluku Utara. Kombinasi ketiga faktor tersebut meningkatkan pasokan uap air sehingga pembentukan awan hujan masih memungkinkan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan utara.
Sementara itu, fenomena El Niño masih bertahan pada kategori kuat. Pada Dasarian II Juli 2026, nilai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,26, yang menyebabkan kondisi cuaca lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG juga memperkirakan kondisi relatif kering masih akan mendominasi pada Dasarian III Juli 2026. Sekitar 77,48 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 22,51 persen lainnya diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah.
Menghadapi puncak musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penurunan kualitas udara yang dapat berdampak pada kesehatan.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta tetap mewaspadai kemungkinan hujan lebat yang masih dapat terjadi secara lokal dan rutin memantau prakiraan cuaca serta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.